Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD287. Kunjungan ke Giska


__ADS_3

Aku hanya menyunggingkan senyum, lalu menaiki tangga untuk menuju ke teras rumah Giska. Hadi sudah begitu girang, dengan Ceysa yang ikut excited saja.


Giska duduk di bangku setinggi lutut. Bangku itu dari kayu yang terlihat kuat, dengan memiliki sandaran seperti sofa. Hanya saja, tidak ada busa empuknya.


"Jajan, Dek. Mau tak? Manda ambil di kulkas ya?" Giska mengulurkan sendoknya ke mulut Ceysa, yang baru saja aku turunkan.


Aku memilih duduk di sebelah Giska. Sedangkan Ceysa sudah aktif memilih mainan Hadi yang berserakan.


"Eunces boleh pinjam, nanti beresin lagi ya?" Hadi berkata sok imut, dengan mengusap rambut Ceysa.


"Beresin, beresin! Kek kau mau beresin aja!" sewot Giska pada anaknya.


Hadi tertawa lepas, ia loncat-loncatan di tempatnya. Ceysa pun jadi mengikuti aktivitas Hadi yang tidak mau diam itu. Ia ikut loncat-loncat kegirangan saja.


"Rubuh loh rumah kau, Hadi!" ketus Giska pada anaknya itu.


Aduh, pasti kesabaran Giska begitu diuji dengan anak yang hiper aktif itu.


"Aku punya stuffed crush cheese tapi homemade. Aku ambil dulu ya? Aku pesan dua tadi. Aku pesan sama temen aku, baru diantar satu jam yang lalu." Giska menaruh mangkuk transparan yang berisi salad buah tersebut, di atas kursi kayu ini.


Lalu ia melangkah masuk kembali.


Giska itu doyan jajanan kekinian. Jika aku, lebih suka jajanan kaki lima. Seperti sea food bakar, dadar gulung, bakso bakar. Jika Giska, ia lebih suka salad buah, stuff roti, burger, kebab dan lain-lain yang tidak aku ketahui namanya.


Ia keluar, dengan sekotak makanan yang berbentuk pipih dan juga biskuit berlapis cokelat. Seperti kotak pizza, yang ia bawa itu.

__ADS_1


"Hadi... Nih, kasih Eunces juga." Giska membuka bungkusan biskuit tersebut.


Hadi langsung menghampiri, kemudian menerima makanan tersebut. Ia begitu bringas, saat membuka bungkus biskuit itu.


Giska tepuk jidat, "Ya berantakan dong, Hadi....." ia sepertinya begitu lelah.


Klop sudah.


Hadi dan Ceysa langsung memakan, makanan yang berjatuhan tersebut. Ceysa suka memakan, makanan yang ia acak-acak lebih dulu.


"Huft...." Giska geleng-geleng kepala.


"Nih, Canda. Cobain deh. Homemade juga rasanya tak kalah sama Pizza Hut." Giska membuka kotak tersebut.


"Kok masih utuh sih?" tanyaku kemudian.


Giska mengangguk, "Aku beli dua. Satunya sisa tiga, mau buat bang Adi. Kau coba deh, kejunya berani betul kawan aku ini." Giska menunjukkan pizza yang berada di atas kursi ini.


Ia malah lanjut memakan salad buah.


Huh...


"Aku tak doyan keju, Giska." akuku kemudian.


Giska menoleh ke arahku, dengan mata papah Adi itu.

__ADS_1


Oh iya, papah Adi adalah papahnya. Sedangkan bang Adi itu adalah panggilan suaminya Giska, si Zuhdi. Ribet memang, kalian harus baca season sebelumnya.


"Kenapa sih? Ini mozzarella. Aku panaskan dulu aja kali ya? Biar lumer." ia menutup kotak itu lagi, lalu membawanya masuk.


Kapan mengobrol?


Ia malah sibuk dengan makanan saja.


Tak lama kemudian. Ia keluar dengan wadah lainnya lagi. Entah itu apa namanya lagi.


"Aku udah set timer di microwave." ia tersenyum dengan duduk kembali di tempatnya.


Langsung dijejerkan, makanan yang ia bawa itu.


"Sweet potato mochi bread, atau roti ubi Korea, isinya keju sih, tapi sedikit. Ini lumpia ayam frezfood, pastel tutup. Ini kripik kulit lumpia, enak loh renyah." ia membuka tutup toples yang ia bawa juga.


"Udah coba, Giska. Pusing aku, disandingkan makanan semua." aku menepuk bahunya, dengan memajang wajah frustasi.


Giska tertawa lepas, "Aku seneng, ada teman nyemil. Bentar ya? Aku liat microwave dulu." ia kembali masuk ke dalam rumahnya.


Aku berpangku dagu, dengan memperhatikan Hadi yang tengah menjadi komedi putar itu. Sedangkan Ceysa jadi tiang penyangga, yang tengah diputari oleh Hadi.


...****************...


Jadi Canda main itu ada tujuannya ya 🤭

__ADS_1


__ADS_2