
"Tanyakan ke kak Anisa, kalau Abang tak percaya. Mata kepalanya ngerekam sendiri, saat akad suami aku tertunda karena aku datang. Drama keluarga di sana juga kak Anisa tau, dia liat semuanya." aku cepat kesal, tapi hanya pada mereka ini aku bisa berbicara sesuai instruksi hatiku.
"Sana! Lebih baik mesum sama kak Anisa, dari pada nuduh aku suruannya mage. Aku udah seneng di sini, aku ngerasa bebas, aku ngerasa hidup, jati diri aku pun kembali lagi di sini. Jadi tolong, jangan minta aku buat balik. Kelak nanti aku ada uang pun, aku bakal proses cerai. Aku mohon maklumnya, kalau aku kek benalu untuk kalian. Tapi tak lama kok, aku pun pasti ada gerakan buat berubahnya. Tenang, aku tau terima kasih. Ada seseorang yang ajarin aku, tentang balas satu kebaikan, dengan seribu kebaikan." aku terbawa emosi, dengan mendekap anakku sendiri.
"Abang tak bakal paham, rasanya nikah sama pelaku yang perk*sa kita. Abang tak tau, rasanya dibutuhkan, tapi tak dipenuhi kebutuhannya. Abang tak ngerti, saat udah nerima lapang dada, tapi malah berulah. Jangan bandingkan pengalaman yang aku rasain, dengan rasanya Abang putus cinta. Pemutus hubungan aku dulu, mungkin lebih sakit dari pengalaman Abang." aku tidak bisa menahan gejolak di mataku.
"Jangan sok paling kuat! Kau belum pernah rasakan ditanya, mau ikut ama apa mage." setelah mengatakan itu, dia pergi dari kamar ini.
Ia berbelok ke arah kiri.
Sudah kuduga, kak Anisa adalah tujuannya.
Lebih sakit mana, ditanya untuk memilih ikut dengan siapa? Atau lahir tanpa peran ayah? Bahkan peran ibu pun, hanya aku rasakan sampai kelas dua sekolah dasar saja.
Menjual diri ke pada orang kaya pun. Aku tak yakin, bisa mendapat kebahagiaan.
Tak ada satu orang pun, yang mengerti tentang permasalahanku. Aku pun, ingin lekas selesai dengan mas Givan.
Menggunakan uang Ghifar untuk perceraian? Opsi itu tak akan pernah aku ambil. Aku tak mau, Ghifar mendapat sialnya saja karena membantu biaya proses ceraiku.
"Udah sebulan aja ternyata, Nak? Tapi kita masih begini-begini aja?" aku berdialog dengan anakku.
Moodnya terlihat tengah bagus. Chandra selalu memamerkan giginya, sejak bangun tidur tadi. Apa ia memberikan pertanda, bahwa ibunya akan mendapat rejeki?
Hah, itu hanya sarapanku saja.
"Tolong siapin makan, Dek."
Hah?
Aku melongo, melihat bang Lendra kembali ke kamarnya. Ia masuk begitu saja ke kamar mandi, dengan mulai melucuti pakaiannya.
Kenapa bujang di sini memiliki urat malu yang terbatas?
__ADS_1
"Iiiiiiyuuuuung...." Chandra sampai melotot, saat berusaha memanggilku.
Padahal ia ada di dekapanku. Namun, Chandra begitu berlebihan ketika membutuhkan perhatianku.
Semoga, keturunan mas Givan ini. Tak membawa luka yang sama untuk wanitanya kelak, tak mengecewakan ibunya kelak dan selalu hidup dalam agama yang kuat.
Tidak seperti ibunya. Bahkan sholat pun, kadang aku lalai melakukannya.
Bukan karena aku sekarang hidup di tempat yang bebas. Karena sebelumnya pun, aku sering melewatkan waktu sholat karena rutinitasku menjaga Mikheyla.
Chandra masih bisa anteng dan terkendali, ia bisa ditinggal di karpet kamar ketika aku sholat atau mandi. Tapi Mikheyla, ia begitu menyeramkan jika ditinggal.
Dulu pun, ia pernah mengalami retak tulang kaki karena tertimpa motor. Itu pun, aku lagi yang dimarahi habis-habisan oleh mas Givan. Padahal, saat itu aku tengah nifas di hari ketiga. Bukannya aku cengeng, atau aku memanjakan diriku saat nifas. Tapi luka jahit di intiku, menimbulkan rasa pedih saat aku akan bangkit berdiri atau akan duduk. Namun, saat itu ia tak bisa mentolerir keadaanku sama sekali.
"Ganti celana dulu ya? Chandra main lagi, Ok? Tapi jangan acak-acakan buku punya om, omnya nangis kan tadi?" aku sebenarnya ragu, anak satu tahun diajak berkomunikasi seperti ini. Tapi herannya, ia merespon dengan anggukan kepala atau gelengan kepala. Tak jarang, ia merespon dengan suara yang tak jelas atau senyum yang terukir.
Aku membiarkan Chandra bermain lagi di atas kasur, sedangkan aku menyiapkan makanan yang telah aku masak.
"Hai, Gam." aku tidak tahu apa artinya sapaan itu. Entah itu kasar, atau umum diucapkan. Tapi bang Dendi, senang sekali menyapa Chandra dengan sebutan gam.
"Pak cek mau ngajak pasar maleman, eh pak bos udah datang. Jadi Chandra mau pergi sama siapa dulu nih?"
Bang Dendi belakangan ini sering menyebut dirinya adalah pak cek. Sedangkan pak bos, tentu itu panggilan untuk band Lendra.
Aku membawa beberapa piring dan sendok. Tak luput dengan hasil masakanku, delapan potong telor yang kuning-kuningnya ada yang lepas. Tentu, karena aku membaginya menjadi dua.
"Baru pulang kah, Bang?" aku memperhatikan penampilan bang Dendi, yang masih memakai kemeja.
Ia mengangguk, "Ikut sama salah satu WO, kerjanya hampir tiap hari. Tapi pas balik, suruh minta sendiri sama tuan rumah. Mana kan, tuan rumah cuma kasih uang rokok. Katanya, bayarannya udah gabung sama pihak WO. Jadi tadi abis ngobrol banyak sama pihak WO."
Oh, pantas saja bang Dendi tak mengajakku untuk jalan-jalan segera saat ia lancar bekerja. Ternyata, ada problem tentang pembayaran upahnya.
Ingat ya, kawan. Jangan dulu berprasangka jelek terhadap orang yang kita harapkan. Ia tak segera memenuhi janjinya pun, lantaran keadaannya memang tidak memungkinkan.
__ADS_1
"Kalau ikut WO capek. Sehari pengantin ganti baju empat kali. Belum lagi kita harus standby, karena tunggu ganti-ganti baju itu sampai malem." bang Lendra muncul, dengan mengenakan handuk saja.
"Iya sih, Bang. Tapi aku lama tak ada job. Jadi pikir aku, yang penting jalan aja dulu."
Aku pernah memahami, kondisi laki-laki yang tengah membutuhkan pekerjaan.
Seperti mas Givan saat tengah susah dulu. Demi tanggung jawab, ia sampai rela menjadi buruh cat. Tapi itu tidak berlaku lagi, kala laba toko materialnya mulai berjuta-juta.
Padahal belum sampai sepuluh juta. Tapi mas Givan sudah kelewat batas seperti itu.
"Tapi udah dapat bayaran?" tanya bang Lendra.
Ia terlihat santai saja, mengenakan pakaian d*lam itu di balik handuknya di hadapanku.
"Udah, Bang. Nanti malam kita malam mingguan. Chandra naik odong-odong, beli baju. Maknya beli daster, sama dadar gulung." bang Dendi mengangkat tubuh Chandra, melayangkannya di atas kepalanya.
Sontak, perbuatan bang Dendi membuat Chandra tertawa lepas.
"Ada kerjaan, Den. Jadi sekertaris dua. Yuli resign, mau kawin dia." bang Lendra tengah mengenakan celana, lalu segera melepaskan handuknya. Begitu celana itu terpasang pas di pinggangnya.
"Enis lah, Bang. Aku udah mantep sama profesi aku, meski ladangnya serabutan gini." jawab bang Dendi cepat.
"Udah bilang, Enis tak mau. Dia tak sanggup, karena cara kerjanya pun mirip macam aku." bang Lendra tak mengenakan kaosnya.
Ini ujian untuk mataku.
"Canda aja coba, Bang." aku melongo, saat kak Anisa masuk dengan membawa penanak nasi.
Usulan kak Anisa, membuat bang Lendra terdiam dengan melemparkan pandangannya pada bang Dendi.
Apakah.....
...****************...
__ADS_1
titik-titiknya isi masing-masing saja 😅 apakah.......