
"Ini... Bang Givan ya?"
Aku hanya diam, memperhatikan mas Givan yang tengah mengangkat telepon dari Raka.
"Ya. Gimana?" sifat juteknya keluar.
"Canda ada, Bang?" tanya Raka kemudian.
"Dia lagi tidur."
"Tidur bareng ya?"
Semoga mas Givan tidak membuat nama baikku tercoreng.
"Mamah aku udah banyak cerita. Aku sebagai ayahnya anak Canda, aku merasa keberatan. Misal Canda ngasih saudara seibu dengan begitu banyaknya. Kalau memang kau cinta, coba pikirkan tentang sepuluh anak yang kau tuntut itu."
Alhamdulillah, mas Givan tidak mengatakan hal yang bukan-bukan.
"Ya, Bang. Nanti aku pikirkan lagi. Itu pun semata-mata, biar mamah tak ngerasa kesepian."
"Kalau memang Yang Kuasa ngasih keturunan banyak, ya alhamdulilah. Tapi tolong, jangan memaksa. Kau bisa hubungi Canda lagi, masa kau benar-benar udah bisa berdamai dengan keputusan dari kami." mas Givan berbicara dengan begitu tegas.
"Ya, Bang."
Tut....
Panggilan telepon langsung terputus.
Ia memberikan ponselku, "Nanti aku ngobrol sama mamah. Kalau memang mereka maksa, biar aku pakai cara aku, kalau kau memang tak cocok sama Raka." ia bangkit dari posisinya.
"Ya, Mas." aku masih memperhatikannya.
"Aku turun ya? Mau ke toko." ia memungut kaosnya.
"Kunci pintunya, Canda. Takut kau lelap."
Aku segera bangkit, lalu berjalan di belakangnya.
Namun, ia menoleh cepat yang membuat keadaanku kaget.
"Apa sih, Mas?" aku mengernyitkan dahiku.
"Jatah Chandra di mamah ya? Buat Zio sama ibu pun, udah di mamah. Nih, buat uang jajan kau. Yang ini jangan bilang mamah ya? Nanti dia mikir, aku abis dapat jatah dari kau pulak." ia memberiku uang dari dompetnya.
"Mas, tapi ini aku tak dianggap minta sumbangan kan?"
Ia malah terkekeh geli, "Tak, aku kasih. Makasih ya udah sabar dengan lima puluh ribu, yang dulu aku mampu beri." ia tersenyum manis.
Hidungku sudah mekar, aku berkedip cepat karena terharu.
"Cuma tiga juta, Canda. Jangan nangis, aku tau ini kurang. Buat jajan cilok aja, aku tak mampu belikan kau skincare."
__ADS_1
Ia malah membuatku tertawa.
"Bilang ya kalau ada apa-apa. Cerita aja, tak apa. Lapor ke aku, kalau Raka bertingkah. Jangan sungkan-sungkan, kau cuma perlu bilang."
Aku langsung menubruk tubuhnya. Aku memeluknya, dengan terisak penuh haru.
Kenapa kita jadi seperti ini?
Kenapa status suami istri menyakiti kita?
Ia mengusap-usap kepalaku, "Jangan nangis ah. Nanti ibu kira, aku ngapa-ngapain kau lagi."
Aku melepas pelukanku, aku mendongak menatap wajahnya.
"Jangan sama Putri, sama aku aja." aku kembali menggurauinya.
Sepertinya, suasana hatinya tengah bagus. Ia malah menangapiku dengan tawa.
"Status pernikahan, cuma nyakitin diri kita masing-masing. Biar kita tetap kek gini aja. Yang percaya, aku ini tetap sayang sama kau. Jangan jadi si tamak ya? Jangan jadi si lugu! Jangan jadi si ceroboh, apa lagi jadi manusia yang terburu-buru. Cukup dua anak beda ayah, sekali lagi beda ayah mungkin tak apa, tapi tidak ada perceraian selanjutnya. Jangan berani kabur lagi, dunia luar terlalu keras buat kau. Tak apa jadi pedagang gas aja, jatah Chandra bisa kau pakai, kalau memang kau kekurangan. Aku sukses nanti, aku tak akan lupa sama kau dan anak-anak."
"Mas Givan...." aku tersedu-sedu, sembari memeluk tubuhnya kembali.
"Ahh, Dek Canda...." ia malah meledekku.
Aku mencubit pinggangnya. Membuat tawa samar kami menyatu.
"Udah ah. Ditekan-tekan terus, nanti tegak, bahaya." ia mundur, pelukan kami terlepas lagi.
Aku mengangguk. Memperhatikannya yang berbalik, kemudian melangkah pergi.
Aku mengusap aliran cengengku ini. Kemudian menutup dan mengunci pintu.
Mas Givan banyak berubah sekarang.
Benarkah aku yang terhanyut dengan lamunanku. Membuat rumah tanggaku kacau seperti ini?
Mas Givan orang yang baik. Hanya saja, ia tidak berada di tangan yang tepat.
~
"Berapa buat ibu, Mah?" tanyaku, saat mamah Dinda mulai menghitung tumpukan uang.
"Sebulan lima juta, enam puluh juta setahun. Kan awal Givan pernah kasih lima belas juta buat ibu. Jadi ini tuh buat bayar gaji satu tahun kemarin. Nanti gaji berikutnya, kalau Givan ada uang lagi. Dia belum stabil, Dek. Tolong kasih tau ibu, minta maaf gitu gajinya tak sesuai harapan." mamah Dinda memasukkan uang yang telah ia hitung, ke dalam amplop berwarna cokelat.
"Punya Chandra, Mamah transfer ke rekening Chandra aja ya? Buat kebutuhan Zio, amplop yang ini nih."
Aku mengangguk cepat.
"Makasih ya, Mah?"
"Sama-sama." mamah Dinda memamerkan giginya.
__ADS_1
Ting.....
Sepertinya ada messenger masuk di ponsel mamah Dinda.
Ia langsung menilik ponselnya. Alisnya bertautan.
"Syura?" ia seperti terheran-heran.
"Siapa Syura, Mah?" tanyaku kemudian.
"Itu, ibu sambungnya Givan di sana." ia menaruh ponselnya.
"Jadi tuh papah Hendra ini, kek Givan. Dia doyan kawin. Mamah istri pertama, cerai pisah. Nikah dia sama Malgi, cerai pisah. Nikah lagi sama Elis, pisah cerai. Terus yang terakhir, Syura ini. Sama Syura, yang punya anak namanya mirip semua itu. Madhava, Mahadevan, Maheswara, Mavendra. Tak tau mana kakak, mana Adek. Mereka ini beda satu tahunan, kalau tak salah." mamah Dinda menekuk satu persatu jarinya.
"Yang masalah tambang itu?"
Mamah Dinda menggeleng, "Yang masalah sama tambang itu, anaknya papah Hendra sama Elis."
Membingungkan.
Aku hanya bisa garuk-garuk kepala.
"Udahlah, yang penting sekarang udah rampung. Adrian, Kiki, Hendrik, Elis sama Supriyadi udah mendekam di penjara." sepertinya mamah Dinda memahami kebingunganku.
"Mas Givan mana, Mah?" aku tak tau harus membahas apa lagi.
"Main lah. Duda, bebas."
Aku dan mamah Dinda mendongak, melihat papah Adi yang berlalu lalang.
"Mah, aku pengen main juga. Pengen bebas." aku menggoyangkan lengan beliau.
Mamah Dinda menghela nafasnya, "Coba Mamah tanya, jawab jujur." mamah Dinda mengacungkan jari telunjuknya.
"Apa, Mah?" tanyaku dengan memperhatikannya.
Wajah kami berhadapan. Urat mamah Dinda terlihat serius. Pasti pertanyaan ini tidak main-main. Jangan-jangan, ini soal Raka.
"Memang kau punya kawan?" tanyanya enteng.
Papah Adi terbahak-bahak. Ia begitu puas, dengan lontaran pertanyaan dari mamah Dinda.
"Tak punya, Mah." aku menutupi wajahku.
"Lah, terus kau mau ngelayab sama siapa?"
Aku terkekeh geli, kemudian memeluk lengan beliau.
Bisa-bisanya aku baru sadar, kalau aku tidak memiliki teman.
...****************...
__ADS_1
Ajak Canda ngelayab yuk, BESTie. Mungkin dia gak pernah ngerasain makan es kelapa di pinggir jalan, tapi fotonya udah ala-ala foto di coffe shop. 🤣🤣🤣