Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD339. Mangge menikah


__ADS_3

"Tadi berantem karena apa, Bang?" kami banyak bercengkrama siang hari ini.


"Ardi minta nikah sama Adek. Sama Givan gak boleh, Givan gak setuju. Ya mungkin, Adek mau dirujuk sama Givan nantinya."


"Memang Abang tak mau sama aku?"


Ia malah tertawa renyah.


Dasar, Nalendra!


"Mau, yang Abang kan memang ngajak rujuk. Nah, Givan pun sama keknya. Dia ngelarang Ardi balik sama Adek. Nanti deh tanya langsung ke dia."


Loh?


Memang mas Givan sudah tidak bersama Putri lagi kah?


"Putri gimana?" tanyaku bingung.


"Kata Givan sih, uang dan saham Putri udah dibalikin semua. Kalau saham, Givan beli balik. Ya itu tuh, Abang gak tau pasti. Abang cuma ngobrol sebentar sama Givan di telepon, pas Abang laporan Chandra dirujuk ke puskesmas. Mau bagaimana pun, Givan tetap ayahnya Chandra.".


Tumben, ia waras?


Waktu masih bersamaku. Mas Givan memberi jatah untuk Chandra saja, ia mengatakan tidak butuh sumbangan untuk membesarkan Chandra.


Apa benar bang Daeng benar-benar insaf sekarang?


"Terus, pas Abang telpon laporan tentang keadaan Chandra. Mas Givan ada bilang apa, Bang?"


"Ya dari suaranya sih panik. Minta video call, minta diliatin muka Chandra. Suaranya sampai bergetar. Aduh, nak. Anak ayah, mana yang sakit nak. Cepet sembuh, nak. Ayah khawatir, bang Chandra jangan sakit, bang Chandra harus kuat. Bang Chandra jagain biyung, kek ayah jagain nenek. Anak sulung harus kuat, harus sehat terus." bang Daeng menirukan suara laki-laki yang berbicara cepat dan khawatir.


Aku terkekeh geli, "Mas Givan banyak berubah ke aku dan ke anak-anak." ucapku kemudian.


Bang Daeng merapihkan rambut Jasmine, "Iya lah. Sadar, kalau yang terbaik udah pergi. Tapi!" ia mengacungkan telunjuknya ke atas dengan melirikku tajam.


"Cerita perceraian Adek sama Givan itu beda versinya, dengan cerita singkat yang Adek ceritakan."


Hah?


Siapa yang mengadu lagi ini, Ya Allah?


"Gimana memang?" aku masih rileks dengan pembicaraan ini.


"Ini Givan yang ngomong sendiri ke Abang, masanya dia tengok Abang di rumah sakit." ia menjeda kalimatnya, "Adek di sini yang salah. Masanya Adek bersuami, haram baginya memandang adik ipar dengan berlebihan. Membuka tudung di depan adik ipar laki-laki aja, tidak diperbolehkan Dek. Dulu Adek, malah selalu merhatiin Ghifar, di depan mata Givan. Ya iyalah, di mana laki-lakinya juga pasti panas. Timbul lah ngamuk-ngamuk gak jelas, terutama ke orang bersangkutan. Makanya kenapa, Adek dulu bilang ke Abang kalau mantan suami Adek tukang bentak. Ya karena hatinya remuk padam, marah, kesal dia sama Adek."


Benarkah aku yang bersalah?


"Makanya Abang pernah bilang kan, bagaimana aku, sampai dia seperti itu. Adek yang bikin suasana panas di rumah tangganya sendiri. Nah, mungkin dari situ Givan oleng kan."


Mas Givan tidak pernah oleng.


Hanya saja, ia khilaf di malam reuni.


Bahkan setelah reuni pun, ia biasa saja. Ia memainkan ponselnya, hanya ketika perlu saja. Bukan melulu bermain ponsel, apa lagi chatting dengan perempuan di dalam kontak ponselnya.

__ADS_1


"Ya udahlah, Bang. Jangan dibahas." aku tak mau pusing dan stress, itu larangan untukku agar cepat pulih.


"Huh!!! Dasar, Bondeng!" ia menyorakiku.


Aku tertawa geli. Sekian lama, bondeng keluar lagi.


"Apa sih bondeng tuh? Sering betul ngebondeng-bondengin aku." aku memukuli lengannya pelan.


"Bondeng, montok. Tapi sekarang, Adek kurus kering. Dada aja yang besar, kek orang kena tumor dada."


Aku langsung menepuk mulutnya. Sembarang saja, bang Daeng ini.


Ia tertawa kecil, lalu merebahkan tubuhnya di sampingku duduk ini.


"Yang bondeng lagi dong. Biar enak mukul p*ntatnya."


Aku rasa, ia mulai merasa rindu dengan fantasi seksualnya.


"Modalin lah!" aku pun menggeser posisiku, untuk merebahkan tubuhku di ranjang sisi kiri ini.


"Okeh. Nanti abis lebaran, Adek sembuh. Kita wisata kuliner, diimbangi gym setiap hari." matanya sudah terpejam, meski mulutnya masih berbicara.


"Abang juga sembuh ya?" wajahku berhadapan dengan wajahnya.


Matanya terbuka secara tiba-tiba. Ia tersenyum lebar, "Abang usahain. Doain Abang panjang umur, biar pas rujuk, Adek gak jadi janda lagi."


"Aamiin. Semoga kita masih ada jodoh." sahutku kemudian.


Ia menaruh tangannya di atas tulang pinggulku, "Aamiin." senyumnya tak pernah pudar.


Lelah sekali, menghadiri acara pernikahan mangge Yusuf dan ma Nilam di KUA. Dengan keadaanku yang lemas, aku sampai bercucuran keringat ketika dibantu berjalan.


Aku sudah lebih baik, dengan ditemani seseorang yang menemaniku berjuang sampai hari ini.


Untungnya, setelah acara selesai. Tidak ada syukuran, atau acara berkumpul kembali. Membuatku memiliki banyak waktu untuk beristirahat.


"Len..." mas Givan muncul, ia melambaikan tangannya meminta bang Daeng mengikutinya.


Padahal, baru saja lima menit yang lalu aku dan bang Daeng duduk di sofa tamu di dekat pintu belakang ruko ini.


"Bentar ya, Dek. Nanti telpon aja, kalau mau pindah ke kamar."


Aku hanya mengangguk, dengan memperhatikannya berlalu pergi mengikuti mas Givan.


Bang Daeng pun lebih kurus sekarang. Dengan perut roti sobeknya yang membuncit.


Sungguh aku khawatir dengan kesehatannya. Apa lagi, ia terkadang terdiam dengan meringis kesakitan. Namun, ringisan itu sirna kala tertangkap mataku.


Sejak semalam pun, bang Daeng demam tinggi. Tapi apa boleh buat, pagi tadi adalah pernikahan ayahnya.


"Canda..." aku menoleh ke seseorang yang baru keluar dari dapurku.


"Ehh, kok ada di sini?" aku cukup terkejut melihat keberadaan Novi di sini.

__ADS_1


Masya Allah.


Aku yang perempuan saja, terkesima melihat rupa dan paras Novi. Tidak diragukan lagi, darah Turki mengalir di tubuhnya. Ia benar-benar mirip wanita dari negeri sana. Mungkin, karena tante Bena memiliki darah Turki juga.


"Iya, abis numpang kamar mandi. Main ke mamah yuk?"


Aku menggeleng, "Capek aku, Nov. Nanti sore aja lah."


Jujur, nafasku pun senin kamis.


"Ya udah deh. Nanti ke sana ya?"


Aku hanya mengangguk dengan tersenyum ramah.


Aku masih belum mendapat informasi yang jelas tentang bang Ardi. Jika memang aku dan dia putus, aku ingin berbicara empat mata dengannya. Aku ingin putus baik-baik.


"Tak juga sih. Tapi harus dijebol dari sini, biar tak kena toren air."


Aku menoleh pada tiga orang yang masuk dari pintu belakang ini.


Main nyelonong saja.


Ngomong-ngomong, panjang umur juga ini laki-laki.


Zuhdi, bang Ardi dan papah Adi.


"Eit, cieeeeee... Yang mau rujuk." sempat-sempatnya Zuhdi malah mengejekku terlebih dahulu.


Memang aku mau rujuk dengan siapa?


Tidak jelas Zuhdi ini.


"Istirahat dulu, Dek. Papah gendong ke atas ya?" papah Adi malah berbalik menghampiriku.


"Nanti aja, Pah." aku mencuri pandang ke arah bang Ardi.


Ia tengah mengangguk, dengan menunduk.


"Istirahat dulu. Jangan capek-capek. Nanti besok, Papah anter ke rumah sakit lagi buat cek up."


Aku hanya menurut, ketika tubuhku sudah terangkat.


Aku memandang lurus ke depan. Karena tidak enak pemandangan di atas kepalaku ini. Berupa jakun seksi dan rahang tegas.


"Pah, aku cuma masih lemas aja. Usaha sehat kok sebenarnya." aku memang merasakan demikian.


Aku pun sudah bisa ke kamar mandi mandiri. Tidak perlu dibantu bang Daeng, Ria atau ibu lagi.


"Ya, Papah tau. Ke rumah sakit pun, cuma memastikan keadaan kau aja."


Aku sudah dibaringkan di atas tempat tidurku.


"Oh iya. Kalau Ardi.....

__ADS_1


...****************...


Bujang 🙄


__ADS_2