
"Apa yang dirasa, Ndhuk?" ibu membelai rambutku.
"Kliengan, Bu. Mata kek muter, kek tak mampu aku berdiri tegak. Mual juga. Tadi udah dimuntahin padahal." aku bersimpuh di ranjang.
"Ya Allah, Ndhuk. Berobat aja ya?"
Kejadian seperti ini terjadi setiap pagi aku bangun subuh. Sejak begadang dengan makanan yang berlimpah itu, aku jatuh sakit mulai paginya. Ini adalah hari keenam aku sakit.
Aku pun tengah dilanda batuk dan flu ringan. Aku sudah minum obat pemberian mamah Dinda, juga resep dari Kin. Sampai obat resep dari Kin habis, tapi keadaanku masih belum pulih juga.
Aku sampai memisahkan diri dari anak-anak. Aku khawatir, Chandra ataupun yang lainnya tertular flu dan batuk dariku.
"Kayanya, kamu ini alegri seafood." timpal ibu kembali.
"Biasanya tak kok, Bu." Aku tidak memiliki alegri makanan.
"Ibu buka aja ya pintunya? Biar Ibu bisa ngontrol keadaan kamu. Ibu harus urus anak-anak. Tuh, suara mereka udah merdu aja."
Aku mengangguk.
Aku paham, anak-anak tidak bisa ditinggal. Apa lagi dinomorduakan.
Aku lebih nyaman memejamkan mata, meski aku tidak tidur.
"Ria.... Tahfidz!" teriakan itu berasal dari lantai bawah.
"Nyalinin anak-anak, Mah."
Rumah ini penuh dengan teriakan di pagi hari. Pasti tenggorokan mereka terasa lega.
Terdengar langkah kaki seseorang yang menaiki tangga. Aku bisa mendengar jelas, karena kamar ini berada di dekat tangga.
"Tinggal aja. Kau tahfidz sana! Papah temani tuh. Ada Gavin sama Gibran juga." teriakan mamah Dinda kian mendekat.
"Ehh, Canda. Kenapa kau?" aku bisa mendengar suara kaget itu. Hanya saja, aku lebih nyaman menutup mata meski dalam keadaan bersimpuh seperti ini.
"Cepet, Dek!" samar-samar suara papah Adi terdengar mengambang. Ia pasti berada di lantai bawah.
"Bentar deh."
Aku melirik dari ekor mataku. Mamah Dinda berjalan lagi keluar kamar. Sepertinya ia akan memberi perintah pada Ria kembali.
"Cepet, Ceria!!! Tahfidz tiga hari sekali aja, rupanya berat betul." sudah kuduga.
Dulu pun, aku ikut serta menghafal di mushola. Setelah sholat subuh, ada acara setor hafalan di mushola. Hanya saja, dari awal aku diminta ikut sekitar tiga hari sekali. Program itu ada setiap hari, tapi dibagi beberapa orang saja yang bisa mengikuti. Karena jika waktu fajar tiba, program itu telah selesai. Karena banyak di antara mereka yang bersekolah.
Padahal aku hafidzah. Tapi tetap mengikuti program itu. Yah, hitung-hitung sebagai tempat mengasah. Agar aku tidak lupa.
"Biar jadi apa sih, Mah? Ngaji, iya. Tadarus, iya. Tahfidz, iya."
__ADS_1
Dasar, anak-anak. Dulu pun aku seperti ini. Aku banyak bertanya, juga bingung kenapa aku dituntut untuk bisa.
"Biar bisa terbang!!!" bentak mamah Dinda cukup mengagetkan.
"Heran, ada-ada aja! Segala bertanya pulak!" tambahnya terdengar seperti menggerutu.
Jadwal mengaji setelah ashar. Tadarus setelah isya, meski bukan dalam bulan Ramadhan. Tahfidz setelah sholat subuh, sampai sekitar setengah tujuh pagi.
Tidak diragukan bagaimana hukum syariat Islam di sini. Ajarannya pun begitu kuat. Setiap anak, wajib bisa mengaji dan paham tajwid. Entah itu aturan atau bukan, tapi yang aku ketahui dari mamah Dinda ya seperti itu. Mungkin, hanya untuk anak cucu mamah Dinda. Tapi jika menurut agama, itu adalah hal yang wajib.
"Papah temani tuh, jangan bilang takut masih gelap lagi!" aku mendengar suara itu semakin mendekat.
"Masih sakit kah tenggorokannya?"
Klep...
Suara pintu tertutup, dengan hawa mamah Dinda yang berada di kamar ini.
"Kau tidur aja sih! Jadi tambah sakit." tambahnya kemudian.
Aku mencoba untuk membuka mataku, lalu melihat keberadaan beliau. Ternyata, mamah Dinda tengah membuka tirai dan jendela.
"Sholat belum?" mamah Dinda sudah berada di tepian tempat tidur.
"Belum, Mah. Tadi sikat gigi, muntah. Jadi tak jadi mandinya."
Aku hanya sempat sikat gigi dan cuci muka saja tadi.
"Jam tiga sore. Biasa aja, cuma masih mual." jawabku jujur.
"Tika sama Kin udah lagi masak. Yuk, Mamah bantu turun. Kau makan dulu. Terus sana jalan-jalan jangan pakai sendal, di halaman yang ada kerikilnya." mamah Dinda menarik pelan lenganku.
Ia membantuku untuk bangun. Namun, aku memilih duduk di tepian tempat tidur sementara. Karena kepala dan pandanganku masih kurang nyaman.
Aku berpikir mataku minus. Karena terlalu lama bermain ponsel. Apa lagi di sini full WiFi. Terkadang aku sampai tertidur, dengan masih bermain ponsel.
"Bisa tak?"
Aku mendongak, saat kepalaku ditutupi kain oleh mamah Dinda. Ia tersenyum memandangku, tapi sayangnya hal itu membuatku haru.
Aku tak memungkiri, aku bahagia bisa bertemu dengan ibu kembali. Namun, hatiku selalu menghangat dan haru setiap kali mamah Dinda memperlakukan aku seperti putrinya sendiri.
"Nangis lagi! Ada masalah apa?" ibu jarinya mengusap pojok mataku.
"Jangan ladenin Nadya. Biarin aja apa yang keluar dari mulutnya. Mamah juga kesel, tapi mau gimana lagi, dia istri anak Mamah. Kalau orangnya kek Winda, nurut disuruh, bisa menempatkan diri, mungkin Mamah tak sekejam ini tengok dia." ia duduk di sampingku.
Memang setiap kali aku bertatap muka dengan Nadya, Nadya selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak enak di hati. Jika kejadian itu diketahui oleh orang lain, pasti ia langsung membelaku. Tak terkecuali dengan Kin.
Mungkin mamah Dinda mengetahui hal ini dari cctv. Jadi ia berpikir, aku menangis karena teringat kata-kata dari mulut Nadya.
__ADS_1
Dengan telatennya. Keluarga ini membawa Nadya ke rumah sakit, agar luka yang menganga mendapat pertolongan medis. Namun, setelah ia sembuh. Ia berubah menjadi manusia yang tak layak hidup di bumi kembali.
"Mau dia belum makan, mau dia tak punya apa-apa. Mamah udah tak peduli. Udah sembuh juga, tak melulu merintih kek awal pulang dari rumah sakit. Mana Givannya lagi tak peduli. Anteng aja dia di tokonya, kadang-kadang Mamah jumpa dia di jamboe ladangnya."
Jamboe adalah tempat untuk berteduh. Berbentuk sama seperti saung, atau gubug sawah. Hanya saja, memang penyebutan di sini menggunakan kata itu.
Ladang kopi milik mas Givan, tak seberuntung ladang milik saudaranya yang lain. Apa lagi, jika dibandingkan dengan milik Giska. Mas Givan mengalami masalah dalam pembuahan pohon. Membuat, pohon-pohon miliknya tak berbuah lebat dan memakan waktu lama untuk berbuah. Menurut papah Adi, kesalahan ada pada pemberian pupuk dan pengolahan tanah.
Sehingga, hasil ladangnya begitu pas-pasan untuk membayar para buruh dan modal produksi saja. Penantian yang sia-sia, selama empat tahun menunggu panen. Saat Canda lahir, ladang milik mas Givan pun waktunya panen. Sayang, hal itu diundur sampai enam bulan. Hasilnya pun, tidak bisa diharapkan.
"Tidur di mana sih mas Givan ini, Mah?" aku menoleh ke arah beliau.
"Di toko. Ayo coba sembuh. Main ke rumah Giska, mampir ke toko Givan, mampir ke butik Ahya, singgah ke rumah Rashi nengokin anaknya, jalan-jalan ke rumah Icut. Icut lagi ngandung muda, jadi tak bisa kemana-mana." mamah Dinda merangkulku.
Aku baru mengetahui beberapa hari terakhir. Ternyata, Ahya memiliki butik dari hasil jahitannya sendiri. Ia memiliki merek sendiri, meski usahanya masih merintis.
"Mamah tak ada kawan. Kin, Tika, tak bisa diajak pergi. Papah apa lagi. Dia lagi sibuk ngurus ladang-ladangnya, yang lama dilepas sama orang." tambahnya kemudian.
"Memang boleh pergi sama papahnya?" aku meraup wajahku sendiri. Mencoba menetralkan rasa tidak nyaman ini.
"Boleh lah. Papah tak sejahat itu kali. Kalau perginya jelas, tak keluyuran sama kawan, ya boleh."
Kami tertawa bersama.
"Ya nanti kalau siang udah enakan, Mah. Batuk pilek udah mendingan, tinggal kliengan ini." aku memijat pelipisku sendiri.
"Iya kaunya jangan tiduran aja. Ayo turun ke bawah, jalan-jalan di halaman."
Aku bangun, dibantu dengan mamah Dinda. Kami melangkah perlahan, sembari mamah Dinda merangkulku.
Setelah sampai di lantai bawah. Terlihat Ghifar tengah makan, sembari mengguraui Kaf yang tergeletak di sebelah piringnya.
"Mau di sini, atau ke dapur?" mamah Dinda masih membantuku berjalan.
"Ke belakang aja, Mah. Aku mau peregangan di halaman belakang aja."
Aku tak mau mati lebih awal, karena menemani Ghifar sarapan. Pasti Kin langsung murka, lalu menggorokku dengan pisau dapur.
Ihh, seramnya.
Amit-amit.
Namun, perutku langsung bergejolak. Kembali, aku ingin menumpahkan isi perutku lewat kerongkongan. Mual itu datang tak terkira, berbarengan saat aku mencium bau masakan amis yang cukup menyengat.
Cepat-cepat, aku berlari ke toilet yang berada di samping kiri pintu belakang.
...****************...
😳😳😳😳😳
__ADS_1
Canda kan penggila seafood. Apa dia keracunan seafood?