Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD71. Dijemput


__ADS_3

Yang benar saja?


Aku tadi baru selesai bekerja, sekarang sudah perputaran tugas untuk berangkat lagi?


"Abang dari Sampit sampai tolak ke sini dulu, buat ngurus surat tugas kau sama jemput kau. Raya udah duluan terbang ke Parepare." ungkap bang Daeng, yang sepertinya tengah berdiri di depan jendela.


Aku bangun dari posisiku, lalu menggulung rambutku asal. Kemudian menarik hijab rumahan, hijab instan dengan tali di belakang kepala.


Rambutku sudah upgrade juga. Kini tidak terlalu ikal, aku sudah smoothing keratin. Kemudian, bulan selanjutnya aku membuatnya bergelombang di bagian bawah saja. Aku pun merubah warna rambutku di bagian bawah. Di bagian atas, tetap memiliki warna hitam. Namun, di bagian bawah memiliki dua layer warna lagi. Warna grey di tengah, di bagian bawah memiliki warna hijau yang cukup terang.


"Aku belum prepare, Bang." sahutku dengan membuka kunci pintu ini.


Saat pintu mulai terbuka, aku bisa melihat bang Daeng yang masih menggunakan baju rapih.


Aku tersentak kaget, saat pelukan dan dorongan tiba-tiba aku dapatkan dalam waktu bersamaan.


"Kangen." ungkapnya di sela leherku yang tertutup kerudung.


"Aku mau prepare." aku tak membalas pelukannya.


"Coba usap dulu punggung Abang. Abang kangen."


"Ck... Udah cepet lepas!" aku menarik lengannya, agar terlepas dari tubuhku.


Aku benar-benar muak pada serigala berbulu domba sepertinya.


"Kau gak kangen kah? Seneng kah tiap hari sendirian?" ia melepaskan pelukannya. Namun, ia malah membingkai wajahku dengan telapak tangannya.

__ADS_1


Aku mencoba melepaskan jemarinya, lalu aku memberi jarak padanya.


"Aku gak suka berteman sama laki-laki munafik. Aku lebih suka laki-laki macam mantan aku. Dia tolak aku dari awal. Aku tak masalah, aku tetap ngejer-ngejer dia. Sampai akhirnya, dia memutuskan buat nikahin aku tahun depan. Iya, iya! Tidak, tidak! Keputusan kau tak selaras sama sikap kau! Kau cuek, kau enggan sama Putri! Tapi, kau malah ambil opsi buat tunangan sama dia! Laki-laki macam apa kek gitu!!" ungkapku dengan mengunci pandangannya.


Lalu aku berbalik badan, hendak berkemas dan membiarkannya menunggu di ambang pintu.


Aku meraih tas jinjing milikku, lalu aku membuka lemari peninggalan kak Anisa.


"Kau naruh rasa sama Abang?" pertanyaan itu mengusik aktivitasku.


Aku menghela nafasku, kemudian aku menoleh ke arahnya.


Bang Daeng masih berdiri di ambang pintu, sembari menatapku dengan begitu dalam. Entah apa maksudnya. Mungkin ia pikir, agar aku terpikat atau bagaimana.


"Tak!" ketusku kemudian.


"Maaf ya?" suara itu terdengar menurun.


Lagi pula, maaf untuk apa?


Aku tidak peduli dengan aktivitasnya sekarang. Namun, suaranya menimbulkan grasak-grusuk yang cukup mencurigakan.


"Numpang kamar mandi."


"Hmm." jawabk kemudian.


Aku rasa, ia lebih sopan sekarang. Entahlah, dia adalah orang yang tidak bisa ditebak.

__ADS_1


Maafnya pun, seperti kata yang biasa ia ucapkan. Aku pun pernah mendengar ia mengatakan maaf pada Putri, saat Putri meluncurkan kalimat putus untuk bang Daeng.


Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di dalam mobil. Namun, ini bukan mobilnya. Terdapat juga supir, yang tengah mengemudikan mobil sejuta umat ini.


"Ini mobil kantor, cuma nganter kita sampai bandara." jelas bang Daeng, meski aku belum bertanya langsung.


Bang Daeng tak mengajak aku berbicara. Ia diam, dengan memejamkan matanya. Aku paham dari raut wajahnya, ia kelelahan.


"Bisa diundur besok, Pak. Kalau memang hari ini lelah. Yang penting, lusanya Bapak bisa langs kerja."


Sepertinya, supir pun mengetahui bang Daeng yang tengah kelelahan ini.


"Biar cepat sampai di sana, terus bisa istirahat. Kasian Canda tadi pagi abis kerja. Dia pun butuh istirahat lebih nanti."


Ia malah memikirkanku?


Benarkah?


Atau memang hanya alasannya saja?


Aku merasa punggung tanganku ditangkup oleh seseorang yang bertangan kokoh. Aku segera menoleh, karena hanya ada dia di sampingku.


"Bukan.....


...****************...


Bukan apa 🥺

__ADS_1


Sebenarnya aku kenapa sih? 😟 kok sering gantung 😆 padahal sudah selengkap mungkin buat nulis 🤭


__ADS_2