Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD374. Jalan berdua


__ADS_3

"Ada di rumah mangge. Alesan sih nengok Jasmine, tapi aku dihubunginya." mas Givan berkata, dengan menunjukkan layar ponselnya.


Aku memeluknya, "Mas masuk ke dalam kantong aku aja, aku tak mau kecolongan Mas lagi." aku sudah memikirkan hal yang sedih-sedih saja.


Mas Givan mengusap tanganku yang memeluknya. Ia hanya diam, tidak menyahuti apa-apa.


"Aku lagi bingung, Canda. Aku udah jujur nih, aku tak ada masalah apapun sama Putri. Menurut aku udah bener-bener clear, entah kalau menurut dia. Terus, aku mau bawa kau pergi ke Kalimantan. Suasana di rumah itu lagi tak kondusif. Kin ada mengarah ke kondisi kejiwaan, tapi ini belum pasti. Anak-anak belum dapat pengasuh, mereka tak mungkin kita bawa semua ke Kalimantan. Chandra harus sekolah, meski TK kampung juga. Pendidikannya tak boleh terganggu, apalagi karena perjalanan bisnis orang tuanya. Entah si Ces sih, dia belum sekolah, dia masih kecil. Ditambah lagi Zio, tak enak loh anak menantu dijaga mertua. Apalagi, itu bukan cucu kandungnya." curhatannya begitu miris.


"Ditambah lagi, belum ke rumah makan Sunda. Belum belanja baju aku, belum juga makan mie ayam bakso." tambahku dengan gelengan kepala samar.


Namun, ia malah tertawa lepas.


"Ya udah, yuk? Kita titipkan anak-anak ke tante Shasha aja." mas Givan melepaskan pelukanku, kemudian ia bangun dan melepas kaosnya.


"Mas, Mas banyak hutang tuh mampu tak sih hidupin aku?" aku berjalan ke arah kamar mandi.


"Kalau Gue tak mampu, apa kau mau jualan seblak lagi? Asal kau tau ya, asuransi kau itu cuma cover biaya rumah sakit kau setengah. Ketimbang kau lebih banyak nguras uang Gue, udah lebih baik Gue keluar uang buat makan dan jajan kau aja. Aku tak ridho kau jualan, nanti sakit, bikin uang Gue keluar banyak aja."


Aku berbalik ke arahnya dengan tertawa lepas. Mas Givan pun tertawa geli, saat aku sampai dan mencubiti perutnya.


Aku memeluknya erat, aku merasa geli setiap kali mas Givan gue-gue seperti itu.


"Kalau tak mampu bayar ya, nanti ikut kerja sama Zuhdi lagi." tambahnya kemudian.


Aduh, aku lupa.


"Oh iya, Mas. Giska minta Mas bayar di muka biaya rumah. Soalnya buat buaya Giska lahiran." aku telat menyampaikannya.


"Udah beres, bahkan udah lunas. Gue juga mikir, Cendol. Zuhdi tak sekaya yang dilihat orang, mana Giska mau persalinan lagi."


Alhamdulillah.


"Mas.... Aku pipis dulu ya?" aku mendongak menatapnya.


Mas Givan menghela nafasnya, "Ya sana, kan bukan suami kau yang meluk. Tinggal kau lepas, terus kau lari ke kamar mandi."


Aku tertawa lepas kembali. Aku begitu receh.


Aku meraih tengkuknya dengan bibir monyong-monyong, "Mas, minta cium. Mas gemesin kali sih." aku menarik pipinya berlainan arah.


"Duh...." mas Givan sedikit menunduk, kemudian ia mencium seluruh wajahku dan terakhir bibirku.

__ADS_1


Hanya sekilas.


"Cepet orang mau kencing tuh, kau tak pakai diapers." tetap saja ketus.


Tapi aku sudah biasa. Aku malah begitu gemas padanya sekarang.


Aku melepaskannya, "Okeh, Mas." aku berjalan ke arah kamar mandi.


Beberapa saat kemudian, kami sudah berada di puskesmas Simpang Tiga. Tempat di mana Giska akan bersalin.


"Gimana, Dek?" mas Givan tidak canggung mencium pucuk kepala Giska di depan suaminya.


Giska terlihat sudah amat pucat, "Udah capek, Bang. Masih bukaan empat aja. Katanya Hadi sama Abang, mana dia?"


"Di rumah tante Shasha. Hadi, Ces, Chandra, Kaf. Ces ada Hadi ya tak mau diajak ke mana-mana." mas Givan mengusap keringat Giska.


"Memang Abang mau ke mana?"


Aku menyentuh tangan Giska, tangannya sampai basah karena keringat.


"Ini si Cendol, minta makan di luar. Sampai nangis coba, Dek. Malu-maluin betul." mas Givan bercerita sambil tertawa.


Aku mencubit pelan pinggangnya, aku malu dengan mulutnya.


Mas Givan melirikku, lalu ia memandang Zuhdi kembali.


"KB kok." sahutnya kemudian.


Aduh, bagaimana kalau aku benar hamil? Pasti aku dicekik oleh mas Givan.


"Papah udah Abang kasih tau juga, tapi lagi sibuk sama HP-nya. Nanti sama mamah ke sininya katanya." ujar mas Givan dengan mengeluarkan uang dari dompetnya.


"Hadi sama Abang dulu, sampai kau udah boleh pulang bawa bayi kau." mas Givan memberikan banyak uang merah pada Giska, "Nih, sering-sering lahiran. Nanti dapat rejeki dari mereka yang nengok bayi kau." lanjutnya dengan tertawa geli.


"Abang sih apa lah! Dua aja ada drama melahirkan gini, segala dirujuk puskesmas." gerutu Giska dengan bibir mengerucut.


"Nitip Hadi dulu ya, Van. Sama masyiknya, ribut aja." Zuhdi mengisyaratkan jamarinya seperti orang yang lancar berbicara.


Mas Givan mengangguk, "Kabarin Abang aja ya? Abang mau keluar dulu." mas Givan merangkulku dengan memandang Giska.


"Ya, Bang. Makasih. Maaf, Hadi ngerepotin." ujar Giska dengan tersenyum samar.

__ADS_1


"Sekarang sih lagi ngerepotin masyiknya dulu." mas Givan mulai melangkah perlahan dengan tertawa kecil.


Aku pun mendengar Zuhdi dan Giska menyambung tawa. Kemudian, tak lama kita sudah berada di atas motor lagi.


Bahagianya, bisa naik motor berduaan bersama mas Givan.


Namun, hatiku tiba-tiba sendu karena teringat kenanganku bersama bang Daeng. Aku pernah melakukan hal ini bersamanya. Laki-laki hebatku.


"Mau makan apa di rumah makan Sunda tuh, Canda?" tanya mas Givan sedikit berseru, mungkin karena terpaan angin yang berhembus kencang. Ia sepertinya khawatir, jika aku tak mendengar suaranya.


"Mas jangan ilfil ya? Aku di rumah malu sama mamah papah. Lagian kenapa sih? Kok Mas tak bawa aku ke rumah Mas sendiri?" aku bersandar di bahu sebelah kirinya.


"Iya mau makan apa memangnya? Kok sampai buat ilfil? Kita mau ke Kalimantan, cukup lama kita di sana. Pikir aku, yang penting anak-anak dapat pengasuh yang tepat dulu. Mamah kan masih seleksi, Dek. Kerabat yang bener-bener mau, kerabat yang mau lama di sini juga. Khawatirnya, mereka menggerutu di belakang tuh. Hala aja kan, karena dia orangnya Lendra dulu. Makanya bisa cepet ditarik, buat jaga Jasmine."


Oh, jadi aku ingin diboyong ke Kalimantan?


"Mas, di Kalimantan ada motor tak sih? Ada mobil tak sih? Mas di sana minumnya air apa? Maaf nih, Mas. Soalnya aku tak tau. Aku cuma nanya aja, pengen tau." aku takut orang Kalimantan tersinggung.


"Tak ada motor sama mobil, Canda. Aku di sana, ke sana ke mari naik kepala Kuyang."


Benarkah?


Tiba-tiba spion di arahkan ke wajahku. Mas Givan langsung tertawa lepas, setelah melirikku.


"Kuyang itu, setan ya?" aku pernah mendengar cerita seram tentang Kuyang dari temanku.


Kebetulan, teman pesantrenku dulu ada orang dari daerah Kalimantan. Tapi waktu itu, aku tidak penasaran dan tidak banyak bertanya.


"Iya, kepala manusia sama jeroannya aja. Dia terbang-terbang gitu."


Aku sampai bergidikan.


"Mas kok berani sih naik kepala Kuyang? Di rumah sakit ketemu kaki sepotong aja, katanya kabur." aku sampai menggaruk kepalaku yang terlapisi hijab.


Namun, ia malah tertawa lepas kembali. Sampai-sampai, pengendara lain memperhatikan kami. Kami menjadi pusat perhatian, karena tawa mas Givan yang begitu lepas.


"Kalimantan tak begitu pedalaman juga! Kek daerah kita aja gini. Paling susah sinyal, kalau daerah yang begitu masuk. Kek kediaman kita ini, harus pakai T*lko*sel aja. Jalanan juga jelek, kalau jalan tambang aja. Jalanan kota, ya aspal juga." terangnya kemudian.


Agar aku mendengar jelas, kepalaku sampai lebih maju ke depan.


"Eh itu......

__ADS_1


...****************...


Betulkah nih di Kalimantan boleh naik kepala Kuyang? 😳


__ADS_2