Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD300. Gavin sakit


__ADS_3

Alhamdulillah dulu, sebelum aku mengeluh.


Kaki gemetaran, tangan begitu ngilu. Sampai punggung begitu lelah rasanya. Tapi aku yakin, aku hanya kaget dengan aktivitas baru saja.


"Udah, biar ibu yang nyuci wajan sama yang lainnya."


Penjualan sesuai ekspektasi. Jam dua siang ini, dagangan sudah ludes. Ya memang sih, aku tidak menyetok banyak. Karena aku pikir, takut tidak habisnya. Karena ini adalah barang yang gampang basi.


"Mbak... Bikin daftar, apa yang harus aku beli lagi. Biar aku yang pergi ke pasar."


Meski sudah memiliki sendok takar, agar rasa tetap konsisten. Ria tetap tidak mau terjun langsung di depan kompor. Ia hanya membantu, untuk membungkus dan memotong kol saja.


Mungkin ia sadar, bahwa ia tidak banyak bekerja. Membuatnya memilih, untuk pergi ke pasar saja.


"Ya, Dek." aku akan memejamkan mataku sejenak.


"Tidur di atas sana, Ndhuk." pinta ibu.


Aku tengah beristirahat bersama Ria di sofa tamu. Sedangkan ibu, sudah masuk ke dapur. Gemericik air sudah terdengar. Sepertinya, ibu sudah mulai mencuci piring.


Entah Ria berbicara apa, karena aku mulai nyaman sekarang.


Sore harinya, ternyata aku hanya bisa membawa pulang Ceysa saja. Mamah Dinda masih saja ketus padaku, perkataannya masih saja kasar.


Papah Adi geleng-geleng kepala, melihatku keluar dari rumah dengan wajah lesu ini.

__ADS_1


"Kek...." sapa anak satu setengah tahun ini.


Ceysa sudah satu setengah tahun. Kosa kata dan giginya semakin lengkap.


"Ceysa mau ke mana?" tanya papah Adi kemudian.


"Lang." Ceysa memamerkan senyumnya yang seolah menawan itu.


"Sini aja lah sama Abang." Gavin tumbuh menjadi remaja tanggung.


Jika sudah mencapai umur tanggung seperti ini. Pakaian akan terlihat menggantung semua. Ia tidak cocok lagi mengenakan pakaian anak-anak, tetapi kebesaran jika memakai pakaian dewasa. Ukuran pakaiannya pun, sulit dicari.


Gavin memiliki wajah pasaran, ia persis seperti kakak-kakaknya yang lain. Menurutku, ia cenderung mirip Ghava. Karena Gavin jarang tersenyum, wajahnya tidak ramah seperti Ghavi.


"Adek....." Gibran muncul dari halaman samping rumah, dengan senyum yang begitu mekar.


Kulitnya secerah kulit mas Givan. Urat wajahnya begitu ramah, meski sekilas mirip papah Adi.


Entah kenapa, Gibran terlihat ganteng meski mirip papah Adi. Sepertinya, karena warna kulitnya yang cerah dan juga wajah ramahnya itu. Ghavi yang terkenal memiliki wajah paling ramah pun, kalah alim dibanding Gibran.


Ceysa langsung kegirangan. Tawanya begitu renyah.


"Bang....." tangan Ceysa melambai-lambai.


"Sini main." Gibran berjalan ke halaman depan, dengan menarik selang air.

__ADS_1


"Main air, Dek." tambah Gavin yang duduk di dekat papah Adi.


"Cepet kau mandi aja sana! Udah jam empat ini. Biar Papah, biar Papah." papah Adi berbicara dengan Gibran, ia mengambil alih selang air pada anaknya.


"Aku mau bantu Papah." Gibran terlihat kecewa.


"Biar Papah, kau ngaji aja sana!" pinta papah Adi kemudian.


"Abang tak ngaji, boleh." Gibran langsung cemberut.


"Abang sakit, Adek Gibran." Gavin berkata perlahan.


"Adek! Adek! Apa tuh!" Gibran semakin sewot.


Ia melewatiku begitu saja, ia masuk ke dalam rumah.


"Papah siram tanaman dulu. Nanti Papah antar ke dokternya." ujar papah Adi, dengan meninggalkan Gavin yang masih duduk di teras.


"Sakit apa sih, Vin?" aku menurunkan Ceysa. Ia langsung berjalan mendekati pamannya yang tengah sakit itu.


"Bang...." Ceysa menepuk-nepuk pundak Gavin.


"Sakit perut, Kakak ipar. Tadinya BAB terus. Udah berhenti mencretnya, tinggal sakit perutnya aja. Perih gitu." ia sampai meringis.


"Makannya tak teratur ya?" aku duduk di sampingnya.

__ADS_1


...****************...


Sakit apa sih, Vin? 😢 Trauma usbun kek Lendra lagi 😭


__ADS_2