Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD276. Otot yang sudah lurus


__ADS_3

...CRAZY UP 😍...


Sedikit informasi aja, kalian harus bacanya lebih sabar ya 🤗 aku ada kesibukan lain di real life. Jadi, mohon maaf kalau gak bisa up sepanjang punya suamiku ✌️😌 Karena stok naskahnya gak ada betul, aku dadakan keteteran 😢 Tapi kalau udah kehandle semua, pasti up sepanjang mungkin kok ✌️😁


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mamah Dinda mengangguk, "Nah itulah, kenapa Mamah tak bolehkah dulu Givan buat nikah. Masalah ketus, Givan ke Canda pun dulu ketus." mamah Dinda menyentuh tanganku.


"Tapi... Keknya tak berlebihan. Entah karena Mamah tak tau. Tapi ke anak-anak, Givan megang meski sebentar." tambah mamah Dinda.


"Ya itu sih terserah Givan sama Putri aja, Mah. Tapi untuk Jasmine sendiri, dia malah minta ikut aku, katanya kok ayah Givan galak. Pas itu aja, Jasmine dititipkan ke aku, karena Putri ada perjalanan pekerjaan. Aku banyak ngobrol sama Jasmine, aku tanya pendapat dia tentang calon ayah barunya. Ya, jawabannya memang kurang bagus. Jasmine kan anak yang pandai ngomong gitu. Dia sampai bilang ke aku gini. Ammak egois ya, Mangge. Ammak suka ayah Givan, tapi ayah Givan gak suka. Lebih-lebih, ayah Givan suka ketus sama aku."


Mamah Dinda terkekeh kecil, mendengar ucapan bang Daeng. Aku dan beliau tahu, bagaimana tanggapan mas Givan tentang anak sambungnya itu.


"Kau tau, Givan keberatan dengan Putri bawa Jasmine?" aku tak percaya, mamah Dinda mengatakan hal ini.


Bang Daeng mengangguk, "Aku tau itu, Mah. Givan pun, keberatan dengan Putri. Dalam satu tahun belakangan, Givan beberapa kali minta aku ambil Putri, setiap aku ketemu sama dia. Alasannya macem-macem, yang intinya aku paham, bahwa Givan belum siap beristri kembali."


Benarkah demikian?

__ADS_1


Jadi, mas Givan akrab dengan bang Daeng?


"Kau beneran tak berniat ambil balik kah? Kasian Jasmine, Len." ucap mamah Dinda, dengan menarik Ceysa ke pangkuannya. Karena Ceysa sudah dua kali mengelilingi meja.


Anak-anakku punya dunia sendiri.


"Bisa aku minta Mamah, buat nyuruh aku ambil balik Canda? Kasian Ceysa, dia bahkan gak kenal sama ayahnya sendiri." bang Daeng terkekeh kecil, "Ayah tuh, menurut Ceysa ya Givan. Bapa ya, Ghavi." terangnya kemudian.


Mamah Dinda ikut tertawa saja, "Kalau kau ingat sama serapah kau, Len." tawa mamah Dinda lepas.


"Aku ingat, makanya aku datang. Harusnya, aku datang sebelum sakit. Aku telat datang, Mah. Setelah aku sakit, Canda udah pro aja ke laki-laki. Udah dua aja laki-laki sepeninggalan aku."


Kenapa mereka mengobrol santai?


"Itu urusan kau sama Canda, Len. Tapi aturan itu masih berlaku. Kelak kalian bersatu lagi, karena jodoh tak ada yang tau. Mamah tak mau Canda pergi dari sini. Mamah tak mau Chandra tak nampak di depan mata Mamah." mamah Dinda mengacungkan jari telunjuknya ke arah bang Daeng.


"Itu udah kita bahas semalam, Mah. Mamah pun pasti udah tau, bahwa aku bukan Lendra yang dulu lagi. Udah sadar sesadar-sadarnya, masa di mana aku dikasih makan orang tua lagi, karena gak mampu beli nasi bungkus apa lagi rokok."


Ohh, jadi semalam mereka bertemu?

__ADS_1


Pantaslah, obrolan kali ini tak memerlukan otot. Rupanya, ototnya sudah diluruskan semalam.


Mamah Dinda tersenyum samar, "Bawa Ceysa jajan ke warung belakang. Kau pasti diingatnya nanti, karena jajanan yang kau kasih." mamah Dinda bangun, ia membuka pintu teralis tersebut.


Bang Daeng tersenyum senang, ia bangun perlahan dengan mengulurkan tangannya pada Ceysa.


Namun, mamah Dinda menatap bang Daeng tajam.


"Jangan rusak kepercayaan Mamah."


Bang Daeng mengangguk cepat, "Siap, Mah." senyumnya bahkan tidak bisa disamarkan.


Mamah Dinda mempersilahkan bang Daeng untuk keluar dari pintu belakang. Kemudian, ia menunjuk sesuatu.


"Tuh, warung jajanan."


Warung yang mamah Dinda maksud, berjarak dua rumah dari tempatku.


"Ayo, Ceysa." bang Daeng mencoba menggandeng tangan putrinya.

__ADS_1


...****************...


Aduh, takut dibawa kabur 😣


__ADS_2