
Tok, tok, tok...
"Mas...." aku ingin membujuknya.
"Mas.... Jangan gantung diri di sini, aku pulangnya gimana?" aku panik karena ia tidak keluar dari kamar mandi sekitar lima belas menit.
"Mas Givan....."
Jika aku tidak mendapat sahutan juga, aku akan memanggil petugas villa.
Jika mas Givan menuntaskan b*rahinya seorang diri di dalam kamar mandi, rasanya aneh saja. Karena ia tidak pernah melakukannya.
Masanya aku sedang haid saat dulu pun, mas Givan akan menungguku sampai delapan harian.
"Mas Givan....." aku sedikit meninggikan suaraku.
Tidak ada sahutan. Namun, pintu langsung terbuka.
"Apa?!" wajahnya tidak bersahabat.
Ia melenggang pergi dari kamar mandi, melewatiku begitu saja yang berdiri di ambang pintu.
"Abis BAB kah?" kau mengikuti langkah kakinya.
"Tak, Canda!" ketus jawabannya.
Ia duduk di sofa single dekat pintu. Ponselnya, berada di genggamannya lagi. Mas Givan selalu ponsel sekarang.
"Kita perlu ngobrol." aku tak ingin rumah tanggaku hanya sebatas status.
Aku ingin memiliki keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah bersamanya.
__ADS_1
"Tinggal ngomong."
Baiklah, jika caranya seperti ini.
Aku memilih duduk di sofa yang antara ujungnya memiliki batas seperti roti gulung. Sofa ini berada di paling ujung ranjang.
Aku berterus terang saja baiknya, agar ia mau mengerti.
"Aku tak ga*rah. Rasanya aneh." aku merapatkan baju handuk yang masih melekat di tubuhku.
Aku bisa melihat matanya begitu tajam menatapku. Pasti di hatinya banyak makian untukku.
"Karena kau lama tak disentuh."
Benarkah?
"Rasanya kek pertama lagi, kaku, tak enak disentuh, merinding."
Ia berjalan ke arahku, kemudian duduk di sebelahku.
Aku tertawa tipis, kemudian memeluk lengannya itu.
"Aku mau ambil kamar lain, kau telpon aku aja kalau memang mau pulang dari liburan kita. Aku pengen bebas. Kau keberatan dibikin risih, dengan suami kau sendiri. Kurang apa sih aku?! Aku banyak sambat dalam hati, buat hadapin tingkah kau ya Canda! Biarpun kau tak aneh-aneh, tapi kaku hati aku ngadepin sifat kau. Jandakan kau lagi, jelas tak mungkin. Karena yang jadi anak papah Adi sekarang itu kau, bukan aku yang jelas anak yang beliau besarkan dari kecil. Beliau garda terdepan, untuk ngelindungin kau."
Aku lebih suka dibentak saja kalau begitu. Dari pada diajak berbicara halus seperti ini, tapi membuat air mataku tumpah ke mana-mana.
"Mas, aku minta maaf." aku mencoba tidak sesenggukan di lengannya.
Namun, tiba-tiba posisi tangannya berubah. Ia merangkulku, dengan aku yang langsung bersandar di dadanya.
"Dimaafkan." hanya itu yang keluar dari mulut mas Givan.
__ADS_1
"Mas...." perasaanku campur aduk dalam pelukannya.
"Yang berbakti sama suami! Jadi suami kau itu capek, Canda. Kaku hati, tekanan batin. Sekarang kita udah enak, kau mau apa tinggal tunjuk. Ya tolong, senangkan suami kau di ranjang sedikit aja. Sebagai ucapan terima kasih kau, karena suami kau nurutin semua keinginan kau. Ini di luar kewajiban kau dan kewajiban aku. Kita lagi ngomongin timbal balik aja, simbiosis mutualisme. Kau seminggu di rumah kemarin santai, ngurus anak ada yang bantu. Masih bisa tidur siang, masih bisa main HP. Bukannya aku pengen diakui. Aku seminggu itu kerja ke sana ke mari, buat ngurus peralihan kepemilikan dari mendiang ayahnya Ceysa. Udah gitu, aku baca laporan dari A sampai Z. Aku harus cepat paham cara kerjanya, biar keuangan anak-anak kau stabil. Entah untuk Chandra sih, ada aku yang jelas ayah kandungnya. Tapi buat masa depan Ceysa dan Jasmine. Sekarang memang aku mampu ngempanin. Tapi kelak nanti mereka paham fashion, mereka paham pergaulan, puluhan juta bisa mereka habiskan sebulan. Belum lagi urus perusahaan tambang aku, yang labanya buat nutupin hutang melulu. Sepuluh usaha, aku tanggung dalam waktu yang sama. Toko material kita, makelar kayu, galon, beras, ladang kopi mahar kau, ladang sawit Ceysa, tambang dua, yang di Singapore dua. Pusing, mumet. Kasih lah hiburan aku sedikit di se*s. Kalau memang belum bisa dan males buat aktif, ya tolong respon dengan suara. Apa segitu tak enaknya kah sentuhan aku? Sampai-sampai kau bikin aku tersinggung dengan sikap kau."
Aku tidak kuat, jika mas Givan berbicara halus seperti ini.
"Jangan nangis, aku tak akan pernah jandakan kau." aku mendapat usapan di lenganku.
L*dahku kelu untuk menjawabnya. Tapi tadi aku sudah berusaha jujur, bahwa aku asing dengan sentuhannya.
"Kau tenangin diri kau, aku mau keluar dulu."
Aku langsung mencekal tangannya, ketika mas Givan langsung berdiri tegak.
"Mas mau ke mana? Mas jangan main perempuan." aku begitu memohon padanya.
"Dari dulu pun, aku tak pernah main perempuan. Tapi beda ceritanya lagi, kalau istri aku memang keberatan untuk disentuh. Aku bisa main rapi, aku bisa beli dan buang sesuka hati di belakang kau. Dengan kau tak mau ladenin aku di ranjang, artinya status kita kan memang hanya untuk anak-anak aja. Aku bukan lelaki slengean, aku bisa berkomitmen. Tapi, dengan dulu kita baik-baik aja dan hanya masalah komunikasi aja. Itu bikin aku bisa khilaf, terus tak sadar bahwa udah buat hamil istri orang. Yang artinya, kau udah tau gimana tabiat suami kau. Kalau memang kau tak bisa benahi, aku tak bisa milih juga Canda. Kemungkinannya aku jajan lagi."
Berbelit, aku tidak paham maksudnya. Yang terpenting adalah menangis saja dulu.
"Jangan kek gitu, Mas. Jangan ngancam-ngancam, kan komunikasi kita udah baik." aku seperti anak kecil yang menangis sembari berbicara.
Apa boleh buat, aku takut kehilangannya.
"Komunikasi kita udah baik. Berarti, apa yang harus kau benahi? Kau tau inginku, dari dulu pun aku tak maksa kau terlalu jauh. Aku paham, aku pelaku pemerkosaan kau dulu. Aku tak bisa maksa kau, tapi aku butuh pengertian kau. Memang tak bosan kah, kalau se*s cuma gitu-gitu aja?" ia membuang nafasnya perlahan dengan tangan yang masih aku cekal, "Sekarang kita udah sama-sama paham. Kau tau aku gimana, aku pun tau kau gimana. Sekali lagi aku tekankan, kalau memang belum bisa, tolong respon. Tapi kalau ngerespon juga tak bisa. Lebih baik kita masing-masing aja. Bukan bercerai, tapi kita jadi partner sebagai orang tua anak-anak aja. Kau dan hidup kau, kau bebas. Aku dan hidupku, aku bebas."
Aku tidak ingin seperti itu. Aku ingin menjadi partner hidupnya, aku ingin rumah tanggaku berkah dan bahagia. Dengan ikatan seperti itu, sudah jelas itu pasti menyakiti satu sama lain saja.
"Mas...." aku bangkit dari dudukku, kemudian menarik tengkuknya.
...****************...
__ADS_1
Astaghfirullah 🙈 jangan dicekik dong, Canda 😲