
Aku hanya diam, karena bang Daeng pun tak membuka suaranya. Ceysa tengah anteng memberantakan isi toples, lalu memasukkannya ke mulutnya.
Entah, apa yang harus aku bahas. Aku tidak tahu, ingin menanyakan hal apa. Dari tempatku duduk, aku bisa melihat mangge Yusuf berada di teras toko dengan Chandra. Beliau juga tengah mengobrol bersama ibu.
Sepertinya ia sengaja meninggalkan anaknya di sini denganku. Memberikan waktu untuk anaknya, agar bisa mendekati Ceysa.
"Ceysa... Ngapain sih, Nak? Sini coba ngobrol sama Mangge." bang Daeng menepuk pahanya sendiri.
Mungkin ia bermaksud meminta Ceysa, untuk duduk di pangkuannya.
"Ain, mamam."
Aku mengajak anak-anakku untuk menjawab pertanyaan ketika ditanya.
Ceysa mengemil kembali, makanan yang ia tumpahkan di meja.
"Ceysa mau punya adik ya? Mainnya sendiri aja."
Boleh aku katakan. Apa hubungannya, Bondeng?
Tapi jika diingat, bondeng itu makian untukku.
Ceysa menoleh ke arah bang Daeng, "Ya, au." ia manggut-manggut beberapa kali.
Dasar, bocah polos.
"Minta ke Biyung lah. Biyung, Ceysa minta adik." bang Daeng mengajari Ceysa berbicara.
"Iyung..." Ceysa menatapku, "Mana?" ia malah mengulurkan tangannya.
"Apa, Ceysa?" tanyaku dengan tersenyum samar pada Ceysa.
"Cis, jan." padahal Ceysa jarang bermain dengan Kal.
Tapi, ia mengikuti kebiasaan Kal yang selalu meminta uang untuk jajan.
Aku menunjuk bang Daeng dengan daguku, tapi aku tak mengatakan apa-apa.
Ceysa memutar kepalanya. Ia memperhatikan bang Daeng dengan tatapan polosnya. Tangannya terulur kembali. Namun, ia malah diam dengan mengunyah stick keju itu.
"Apa?" bang Daeng terkekeh kecil.
"Au, cis, jan."
Bang Daeng tertawa lepas, "Minta adik, malah jadi minta cicis jajan." bang Daeng menepuk jidatnya sendiri.
"Au, cis." suara Ceysa melengking.
"Iya, iya. Ini..." bang Daeng langsung merogoh kantongnya.
Ia melirik ke arahku. Garis bibirnya masih terlihat begitu gembira.
"Diajarin minta uang malah." ia geleng-geleng kepala.
"Lah, memang ke sini mau apa?" tanyaku kemudian.
Bang Daeng meladeni Ceysa dulu. Ia memberikan anaknya beberapa lembar uang merah.
Ceysa bagaikan tuyul. Setelah mendapat uang, ia malah kabur.
__ADS_1
"Eh, Nak. Sini sama Mangge." bang Daeng sedikit berseru.
"Iiii.... Buuuuhhhhh...." Ceysa begitu bahagianya, memamerkan uang yang ia dapat pada neneknya.
"Mari kita sama-sama tepuk jidat." ungkap bang Daeng dengan terkekeh geli.
Aku ikut menyuarakan tawaku, "Kalau main sama Kal. Si Kal ribut uang aja soalnya. Dia selalu diminta pulang dari keude, kalau jajan tak bawa uang. Jadi dia kek latah, apa-apa minta uang terus." ucapku kemudian.
"Ya wajar, anak perempuan. Jasmine pun begitu."
Ia duduk bersandar di sofa. Kami berhadapan, hanya disekat dengan meja saja.
Aku masih diam. Aku memberanikan untuk untuk beradu menatapnya. Kalau canggung, jelas aku canggung.
Nafasnya begitu berat, "Nama panjang Ceysa siapa?" tanyanya kemudian.
"Ceysa Ayanda Mamonto." nama Ceysa mungkin sedikit asing. Itu adalah nama, dengan saran dari Putri juga. Mamonto adalah, nama yang banyakan dipakai orang-orang Sulawesi.
"Dia udah punya akte?"
Aku mengangguk, "Udah punya akte." jawabku cepat.
Ia mengangguk, "Beruntungnya Ceysa." ia merogoh sesuatu dari jaket yang ia kenakan.
"Ya, alhamdulilah. Chandra dan Ceysa adalah anak yang beruntung, tak kek saudara-saudaranya." aku bersyukur untuk ini.
"Berapa kebutuhannya perhari? Pakaian, diapersnya, lain sebagainya?"
Aku teringat akan ucapan Putri. Ia pernah mengatakan, bahwa bang Daeng menjatah Jasmine seperti menitipkan anaknya. Semuanya akan dihitung.
"Bawa aja Ceysanya, biar tau." aku tidak bersungguh-sungguh mengatakannya.
Dahinya berkerut, ia terdiam dengan pandangan yang tidak biasa.
"Tak juga. Dia tau itu resikonya ambil janda anak dua. Cuman... Aku yang memang keberatan. Kok enak betul jadi laki-laki gitu." aku menerawang jauh tembok di atas kepala bang Daeng, "Dari hamil, sampai melahirkan, tak diurus. Wujud anak, ngakuin anak, tapi cuma tau berapa kebutuhan hidupnya." aku memandang wajahnya kembali, "Tak berniat kah bawa dia aja? Aku capek bangun malam. Aku capek ngurus dia dari di perut sendirian." aku tidak benar-benar tengah mengeluh.
"Bukannya pilihan ini yang kau ambil?" ia menaikan sebelah alisnya.
Aku menggeleng, "Tak, sebelum kabar pertunangan itu datang." aku memberanikan diri untuk memandang matanya.
Aku tahu ia merasa bersalah. Bahkan, ia sendiri yang memutuskan pandangan kami. Ia menatap ke arah lain, ini adalah bukan bang Daeng.
"Maaf." bahkan, ucapan itu terdengar begitu lirih.
"Tak perlu maaf. Harusnya cepat kasih akte buat Jasmine, biar perpisahan kita tak sia-sia."
Matanya langsung tersorot padaku. Ia seperti kaget, urat-urat wajahnya begitu tidak biasa.
"Putri punya pilihan sendiri."
Aku membuang nafasku, lalu aku bersedekap tangan dengan mengalihkan pandanganku.
"Jadi, yang kau mau dari Putri udah dapat?" aku menoleh kembali ke arahnya.
Ia menunduk, "Kau jangan bikin aku ngerasain penyelesalan yang lebih-lebih, Canda. Kau tau, tapi memang kau pengen itu keluar dari mulut aku. Aku kehilangan kau, aku jauh dari Ceysa, aku gak bisa gapai impian aku, akte kelahiran Jasmine pun gak aku dapatkan, kesehatan aku menurun. Ini bertubi-tubi, Canda. Kau gak mungkin paham, rasanya menyesalnya hidup sebagai seorang Lendra."
"Apa motivasi kau jadi orang yang tamak?"
Matanya sampai mencilak, kala mendengar pertanyaanku.
__ADS_1
"Mungkin karena aku jauh dari Tuhanku. Mungkin karena aku hidup, tidak didasari agama dan kepercayaan. Aku terlalu bebas, aku menyembah Yang Kuasa, hanya bilamana aku butuh saja. Mungkin ini semua teguran, biar aku sadar bahwa aku hanya umat-Nya."
Aku harus ingat, bang Daeng bukan tandinganku. Bisa jadi, di mulutnya ada dusta lagi. Tapi jika dipikir, memang untuk apa aku menanyainya sejauh ini? Aku kan tak ingin kembali padanya.
"Aku minta maaf, bisakah kita sama-sama lagi?"
Trekkkk, trek, trek....
Aku langsung menoleh ke arah tralis besi yang tertutup ini. Memang pintu kayunya terbuka, tetapi tralisnya terkunci.
Cengiran tanpa dosa. Dasar, manusia Ardi!
Aku bangkit, lalu berusaha membuka tralis ini.
"Apa?" ketusku kemudian.
"Ini katanya mangganya lagi. Di depan ada Chandra, nanti minta ikut. Akuhhh mau nongkrong, bang Adi udah nunggu mau bahas proyek. Banyak asap rokok, nanti cucu mahal bengek."
Aku menoleh cepat, karena bang Daeng malah cekikikan sendiri.
Pintu tralis terbuka, bang Ardi langsung mengulurkan kantong plastik yang ia bawa.
"Dijus, terus masukin ke cetakan eskrim jeli itu. Atau, dipotong terus masukin freezer. Nanti Abang bawakan coklat, Adek lumerkan itu coklat pakai minyak goreng." ia masih nangkring di motornya ternyata.
"Terus, apa lagi?" ketusku kemudian.
"Terus mainlah Abang sama Hadi. Habis deh makanan."
Ardi, Zuhdi, papah Adi, terkoyak dunia. Mereka adalah makhluk yang usil, iseng, tukang ejek, rusuh, bercandanya ekstrim plus humor yang kocak.
Ia mencubit hidungku lumayan kencang, "Sabtu gajian, tenang." ia langsung ngeloyor pergi dengan motornya.
Absurd?
Random?
Memang.
Sayangnya, aku malah terlanjur naksir.
"Bujang kah?"
Aku langsung menoleh, pada yang mempertanyakan hal itu.
"He'em." aku mengunci kembali pintu teralis ini.
"Kerja apa?"
Aku duduk kembali di sofa tadi, dengan menaruh mangga yang sepertinya berisi dua kilogram ini.
"Bangunan proyeknya Zuhdi, dia adiknya Zuhdi." aku tidak malu mengakui itu, bahkan aku sering kali menikmati hasil jerih payahnya.
"Ck... Modelan Zuhdi, ya klop sama keluarga mamah Dinda. Satu frekuensi."
Kenapa memangnya?
"Apa masalahnya?" tanyaku kemudian.
Ia menggelengkan kepalanya. Senyumnya terlihat samar.
__ADS_1
...****************...
Mamah Dinda jeh 😆 apa Lendra berhenti ngefans ke mamah Dinda 😂