Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD161. OYO Three Joye


__ADS_3

"Abang, sakit. Jangan terlalu dalam."


Ya Allah, aku sampai meringis kesakitan beberapa kali. Kenapa hubungan kali ini terasa tidak nyaman?


Aku merasa perut bawahku kram.


Bang Daeng tersenyum manis, lalu ia melepaskan penyatuan kami. Ia mengambil posisi berada di belakangku, kemudian tangannya melingkar ke pinggangku.


"Sakit terus dari tadi, tumben." ia mengusap-usap perutku.


Kemudian, ia sedikit bangkit. Kepalanya langsung menghadap perutku. Satu kecupan kecil mendapat di sana, kemudian kecupan itu berubah menjadi sapuan l*dah yang menggelitik.


"Abang..." Aku tertawa kecil, dengan menarik kepalanya.


"Jadi mau berapa ronde? Satu aja kesakitan gini." ia kembali memelukku dari belakang.


"Satu aja. Cepet selesaikan, aku tak usah dikeluarkan. Nanti lama." aku ingin kegiatan ini cepat selesai.


Aku menoleh ke arahnya, terlihat alisnya naik sebelah.


"Abang tuh kasih Adek nafkah batin. Bisanya cuma Abang yang tersalur?" ia bangkit, lalu merentangkan kakiku berlainan arah.


"Mau diapain?" tanyaku saat bang Daeng hanya menatap.


"Coba Abang o*al aja, mana tau Adek bisa nyaman keluar." ia kembali menurunkan kepalanya.


Aku merasakan tangan hangatnya mengusap-usap perutku. Apa ia pikir aku hamil?


Menurutku, aku akan mendapat tamu bulananku kembali. Karena p*yuda*a terasa nyeri, juga perut yang tidak nyaman. Memang, aku merasakan kram perut sejak bang Daeng memasukiku saja. Tapi, ini mirip seperti gejala haid.


Aku memejamkan mataku, mencoba menikmati perlakuan yang suamiku berikan. Ia tengah mencoba membuatku menjadi plong. Karena ini adalah nafkah darinya untukku.


"Maaf ya?"


Eh, untuk apa ia meminta maaf?


"Ouchhh..." rupanya ia memasukan jarinya ke dalam intiku.


Aku mencoba menikmati sapuan l*dah suamiku, di kacang yang paling sensitif itu. Aku baru mengetahui, bahwa itu adalah letak sensitif perempuan dari bang Daeng. Lalu, aku menikmati gesekan pelan yang ditimbulkan dari jari milik bang Daeng.


"Rileks, Dek. Biar cepat dapat kl*maks." ujarnya di sela aktivitasnya.


Benar saja, beberapa saat kemudian. Aku mendapatkan apa yang aku harapkan darinya.


"Abang selesaikan di kamar mandi aja ya? Jangan tersinggung, Abang cuma mau Adek gak kenapa-kenapa. Takutnya, kram perutnya makin menjadi kalau harus sabar sampai Abang keluar." terangnya, setelah mengelap jarinya dengan tisu.


Aku mengangguk, aku tidak boleh tersinggung karena ini. Aku harus paham, bahwa bang Daeng khawatir dengan keadaanku.


Aku membiarkannya pergi ke kamar mandi. Dengan aku yang dilanda kelelahan luar biasa, hingga mataku pun merasa berat.


~

__ADS_1


"Macam! Macam!!!"


Aku menggeliat, saat mendengar suara bang Daeng yang menggerutu.


Terlihat ia tengah mengusap-usap perutnya, dengan memandang ke luar pintu. Aku langsung menoleh ke arah jam dinding. Pantas saja ia mengusap perutnya, sekarang sudah pukul sebelas. Bahkan kami belum sarapan.


"Maaf, Bang." aku langsung duduk dari posisiku.


Namun, detik itu juga aku merasakan mataku berkunang-kunang. Aku merapatkan pandanganku, dengan memegangi pelipisku. Terasa begitu nyeri di bagian kanan dan kiri pelipisku.


"Hei, kenapa? Sakit kah?" aku merasakan bang Daeng merangkul pundakku.


"Kliengan, Bang." aku masih belum berani membuka mata.


"Makanya bangun coba, Dek. Adek kuat kali tidur." ungkapnya dengan memijat pelan kepalaku.


"Aku tak berasa tidur lama." aku mencoba membaringkan tubuhku ke samping kanan.


Terdengar ponsel bang Daeng berbunyi, lalu aku merasakan bang Daeng meninggalkanku. Mungkin ia ingin menjawab telpon tersebut.


"Ohh, iya-iya. Biar Saya yang ke sana."


Aku menyipitkan mataku, untuk melihat keberadaan bang Daeng.


Mau ke mana dia?


Kenapa ia malah meninggalkanku yang tengah pusing ini?


Atau, ia ingin pergi bekerja kembali?


Aku langsung meraba, mencari keberadaan ponselku. Dengan segera, aku mengirim pesan chat padanya.


Abang mau ke mana? Aku ditinggalin.


Seperti aku mengirim panah keluar. Seketika itu juga, aku mendapat panggilan telepon darinya.


"Ambil gofood, Bondeng!!! Apa sih orang tuh dikit-dikit langsung ngebatin aja?!" ucapnya sedikit ketus.


Sepertinya bang Daeng kesal padaku.


"Abang tak ada bilang." sahutku kemudian.


"Udah, Abang lagi nunggu depan toko kelontong. Orang yang nganternya kesasar." balasnya kemudian.


Tut...


Panggilan langsung diputuskan olehnya.


Aku cekikikan seorang diri. Bisa-bisanya aku berpikir ia pergi jauh?


~

__ADS_1


Rasanya aku ingin terbang dan menemuinya saja. Aku tidak tahan rasanya hidup seorang diri di kos ini. Sudah satu minggu sejak bang Daeng pulang, ia belum mengabariku kembali. Ia hanya berkata, bahwa dirinya sudah sampai di hotel. Setelah itu, ia tidak bisa dihubungi sama sekali.


Saat bertanya pada kak Raya. Ia mengatakan, bahwa bang Daeng lama tidak mengambil alih kembali tugasnya. Kak Raya pun mengeluh karena pekerjaan bang Daeng, yang tertumpuk dan butuh tandatangannya.


Sepertinya, aku harus mencari sendiri keberadaan bang Daeng. Aku tengah memikirkan kemungkinan besar yang terjadi pada dirinya. Sekarang, dirinya berada di Batam. Atau, berada di Banda Aceh bersama ketiga temannya itu. Bisa juga, bang Daeng berada di rumah keluarganya di Makassar.


Drttttt.....


Aku cepat-cepat menjawab panggilan masuk tersebut, tanpa melihat dulu siapa yang meneleponku. Karena pikiranku, sudah tertuju pada bang Daeng seorang.


"Canda... Aku udah di bandara, kami mau terbang ke Indonesia. Aku udah pesan tiket juga buat terbang ke Padang, aku tunggu kau di OYO Three Joye." Ghifar langsung nyerocos saja.


"Hah? Mamah udah tau aku di Padang?" aku langsung kalap.


"Aku bilang ke mamah, bahwa aku mau healing sendiri. Kin juga tak tau, kalau aku mau jemput kau. Sebenarnya... Aku sama Kin lagi renggang. Segala Kin pengen lanjut pendidikan lagi, dia kek tak peduli sama rumah tangganya." terdengar helaan nafas beratnya, "Tapi tenang aja, aku udah kabarin Ghava sama bang Givan buat kasih alasan. Mana kan, Kaktus masih dalam perawatan pasca sesar di rumah sakit. Jadi dia tak ada di rumah itu." terangnya kemudian.


"Nadya lahiran berapa bulan?" tanyaku setelah mencerna kalimat Ghifar.


Jika Nadya melahirkan anak mas Givan, dalam waktu bersamaan dengan Giska melahirkan. Berarti, mas Givan dan Nadya sudah menjalin hubungan sejak lama.


"Sembilan, Canda. Pokoknya, Kin, Giska sama Nadya beda satu bulanan. Sekarang, Giska udah sebulan anaknya. Kan waktu kami mau balik itu, Kaf diare hebat. Jadi ditunda sampai satu bulan sekarang."


Aku manggut-manggut, meski Ghifar tidak berada di hadapanku.


"Anak Giska perempuan apa laki-laki?" aku ingin tahu kabar orang-orang baik di sana.


"Laki-laki, namanya Riyan Hadi Ibrahim."


Kenapa nama keluarga ini termotivasi dari nama papah Adi semua?


"Kok tak ada Teukunya, Far?" tanyaku kemudian.


"Karena Giska gak nikah sama keturunan Teuku lagi. Kalau anak perempuan kerajaan, tak nikah sama keturunan kerajaan, dia biasanya tak boleh bawa nama itu."


Aku kira, Teuku dalam keluarga papah Adi hanya variasi saja. Ternyata, mereka masih ada keturunan. Tapi benarkah? Aku malah jadi penasaran.


"Kok Chandra ada Teukunya? Teuku Chandra Andiyana?" aku keheranan di sini.


"Kek tak tau tabiat mantan suami kau yang iri hati aja. Jaman sekarang sih, udahlah, suka-suka aja. Di Jawa juga banyak yang namanya Teuku, udah macam trend sekarang." suara Ghifar terdengar seperti menyepelekan mas Givan.


"Kamar aku di penginapan OYO Three Joye nomor seratus tiga puluh sembilan ya, Canda. Aku udah reservasi dari sekarang, jadi tinggal masuk aja. Kalau kau butuh waktu, ya nanti kabari juga. Kalau mau dijemput, ya tinggal bilang aja. Aku bener-bener pengen refreshing untuk diri sendiri." lanjut Ghifar, karena aku masih terdiam.


"OYO?" aku masih menjernihkan pikiranku.


Sepertinya, aku tidak asing dengan nama itu.


...****************...


Ngapain sih 😳😳😳


Aku merasa Canda aneh.

__ADS_1


__ADS_2