Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD284. Mendinginkan hati


__ADS_3

"Jangan ngomong ke mana-mana, Bang."


Aku paling sensitif, jika membahas kematian. Aku tahu itu adalah hal yang pasti, hanya saja aku belum siap. Aku pun belum siap, jika suatu saat ditinggal oleh orang-orang terdekatku.


"Jadi gini sifat Adek? Harus nunggu perintah aja?" ia mengulangi, pertanyaan yang tak mungkin aku jawab.


"Terus, kalau Adek lapar. Apa Adek nunggu perintah dulu buat makan? Apa-apa, harus diperintahkan. Heran betul, manusia tak punya inisiatifnya." nadanya menurun seperti menggerutu.


Rasanya aku ingin membandingkannya dengan bang Daeng dan mas Givan saja. Mau bagaimana pun, dua orang itu tetap sering memerintahkanku. Namun, tidak dengan banyak cerita dan penilaian tentang diriku.


"Abang sakit, masuk rumah sakit. Apa Adek nunggu perintah dari Abang juga, buat jenguk Abang?"


Aku terdiam dan menunduk. Ia tidak perlu bertanya. Jika memang masalahnya berbeda, aku akan mengerti keadaan. Aku pun pasti menjenguknya, tanpa menunggu perintah darinya yang tengah sekarat di rumah sakit itu.


Aku memandangnya lurus, "Bang, masalah kita beda. Abang marah, disamakan dengan Abang masuk rumah sakit." aku menjelaskannya perlahan.


"Apa bedanya? Tetap diri Abang kok." ia malah nyolot.


Aku garuk-garuk kepala, bingung sudah menyikapi manusia seperti ini.


Oh, iya. Aku teringat akan Chandra yang memeluk ayahnya dan meminta maaf, untuk meluluhkan hati ayahnya.


Aku bangkit, lalu berjalan ke arahnya. Kemudian, aku memilih untuk duduk di pangkuannya dengan mengalungkan tanganku ke lehernya.


Wajah kami begitu dekat. Aku bisa menangkap, ekspresi kaget dari bang Ardi.

__ADS_1


Aku mencoba cara bang Daeng, yaitu mengunci pandangan lawan bicaranya.


"Aku minta maaf ya?" aku menganggukkan kepalaku, agar ia juga mengikuti gerakan tubuhku.


Tidak disangka, ia mengangguk cepat seperti orang konyol.


Tepuk jidat.


Ketawa ngakak.


Guling-guling, sampai terbatuk-batuk.


Ibarat kata, jika tidak ada orang yang melihat. Aku akan melakukan hal itu, karena saking lucunya melihat ekspresi bang Ardi.


"Ini Abang. Abang tak pandai, ngungkapin rasa marah Abang. Abang pengen dibujuk." ia berucap begitu lirih, sampai hembusan nafasnya terasa menerpa wajahku.


Dia bujang, mungkin pengalamannya tentang sifat wanita. Ia belum ketahui.


Aku harus mengalah dulu.


Namun, ia malah menarik tengkukku. Menyatukan sisa sarapan pagi ini, dalam l*matan yang terasa begitu terburu-buru.


Kemudian, ia menundukkan kepalanya.


"Turunlah! Ceysa pasti keheranan." ucapnya lirih.

__ADS_1


Aku langsung menoleh pada Ceysa. Ceysa masih menggoreng sarapannya, ia tengah sibuk memasak dengan kompor mainannya.


Aku turun, lalu memilih duduk di sebelahnya. Dengan manja, aku mengganduli lengannya.


"Adek cinta tak sama Abang? Gimana kalau Abang dibandingkan dengan bang Givan dan ayahnya Ceysa?"


Aku memilih untuk diam sejenak. Ini adalah pertanyaan yang menjebak dan sensitif. Ditambah lagi, ia baru pulih dari amarahnya.


"Aku cinta sama Abang. Abang terbaik."


Rasanya aku ingin muntah, mengatakan bualan yang tidak benar sama sekali ini.


Jika terbaik memperlakukan diriku, pastilah manggenya Ceysa. Ia begitu meratukanku, memberikan semua yang aku ingin. Umumnya perempuan, aku bahagia saat dibelanjakan ini dan itu.


Namun, aku harus berbohong. Supaya hati bang Ardi tetap dingin.


Ia mengatakan, bahwa dirinya panas hati tadi.


Untuk masalah cinta, aku pun ragu.


Menurutku, cinta itu seperti aku pada Ghifar dulu. Tetapi sekarang, aku sudah biasa saja pada Ghifar. Lantaran hatiku diisi oleh sosok manggenya Ceysa yang sekarang memelihara kumis dan jenggot itu.


Ahmad Syailendra Samaratungga, mungkin mirip dengan visual bang Daeng. Ia tinggi, hitam manis, sorot matanya tajam mengunci, ditambah lagi kumis dan jenggot yang terlihat lebat terpelihara itu.


...****************...

__ADS_1


Langsung turun lagi, terus naik lagi. Gitu terus siklusnya, sampai konflik tuntas, terus tamat.


__ADS_2