
"Okeh, kita break. Kalau sampai lebaran Abang tak ada kabar, itu tandanya kita selesai. Abang bakal sanggupi permintaan Adek kali ini." ia mensejajarkan telapak tangannya di depan dada.
"Okeh." aku menerima keputusannya.
"Tapi... Masanya Abang datang nanti. Mau tak mau, Adek harus terima lamaran Abang. Abang bakal segerakan pernikahan kita."
Aku memejamkan mataku sejenak, lalu aku menangkap netranya yang tengah fokus padaku itu.
"Jangan ngomongin, yang belum tentu terjadi. Mana tau, malah sebaliknya." tuturku perlahan.
"Abang cinta ke Adek. Abang HARAPIN, yang terbaik buat hubungan kita." ia menegaskan pengharapan yang ia katakan.
"Yang terbaik untuk hubungan kita aja kek mana, Bang. Aku tak mau berharap, aku trauma Abang ngulangin kebohongan lagi. Malah, aku baru tau hari ini. Kalau aku ini, yang merebut pacar orang lain. Kau keterlaluan, Bang." aku geleng-geleng tak percaya.
Ceysa menunjukkan layar ponselku, yang tengah ia mainkan.
"Pon."
Ya, ada panggilan masuk.
Aku langsung mengambil alih, ponsel yang anakku ulurkan itu.
Ghifar?
Tumben apa ia menelponku?
"Ya, Far." aku langsung menerima panggilan telepon tersebut.
__ADS_1
"Ardi suruh pulang, udah malam." suaranya lembut. Namun, penuh tekanan.
Aku melirik bang Ardi sekilas. Ternyata, ia tengah memperhatikanku.
"Bang Ardi udah pulang, Far." aku mencoba menciptakan kedamaian.
"Tengok ke pintu. Bohong ya kau? Aku lempar obor sekalian." suaranya bercampur dengan geraman.
Aku segera bangkit, lalu membuka tralis besi. Aku melongok ke arah luar, terlihat Ghifar bersedekap tangan di depan gang belakang rumah ini.
"Ya, Far." aku gugup.
Terlihat ia masih menatapku tajam, tapi tidak terlihat ia menempelkan ponselnya ke telinganya. Sepertinya, ia menggunakan semacam headset bluetooth.
Panggilan terputus.
"Ada apa?" mungkin ia menyadari kepanikan di wajahku.
"Ghifar minta Abang pulang." sahutku dengan memutar-mutar ponselku.
Bang Ardi melirik jam tangannya, "Jam sembilan malam." ia memandangku kembali.
"Ya... Pulang aja deh sana." aku langsung menggendong Ceysa, yang berjalan ke arahku dengan mengucek matanya.
"Pasti Ghifar tau dari motor Abang." bang Ardi bangkit dari duduknya.
Ya, pastinya sih.
__ADS_1
"Abang minta maaf ya? Mungkin cara Abang salah. Abang bener-bener nyesel, semoga hubungan kita masih bisa berlanjut sampai nikah." ia berhadapan denganku, di depan pintu ini.
Aku mengangguk samar, lalu aku memutuskan pandangan mata kami.
"Jangan blok nomor Abang ya? Hubungi Abang, kalau Adek butuh bantuan Abang. Tak perlu pikirkan hubungan kita tidak lagi break, kalau Adek bener-bener lagi butuh Abang." ia mengusap lenganku.
Aku mengangguk kembali.
"Bobo, Yung." Ceysa sudah bersandar di bahuku.
Bang Ardi langsung mencondongkan kepalanya, lalu ia mencium pipi Ceysa.
"Doain Abu sama Biyung tetap sama-sama ya, Nak." ia mengusap pucuk kepala Ceysa.
"Ya." suara Ceysa sudah begitu lemah.
"Abang pulang dulu ya?" ia mengusap-usap lenganku.
Aku memandang wajahnya sekilas, kemudian aku mengangguk cepat. Tanpa pamit, ataupun ciuman seperti biasa. Ia langsung pergi dengan terburu-buru.
Aku masih memandang kepergian motor dengan lampu yang menyala terang itu. Aku tidak menyangka, hubunganku menggantung di sini. Padahal baru pagi tadi, aku berbaikan dengannya. Namun, ombak besar kembali menggoyahkan kepercayaanku pada bujang satu itu.
Biar saja nanti, bagaimana hubungan kami selanjutnya. Aku hanya bisa berdoa yang terbaik untukku, juga untuk anak-anakku.
...****************...
😢😢😢😢😢😢 Kasian. Lika-liku terus ðŸ˜
__ADS_1