Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD256. Video call


__ADS_3

Kami semua sudah kembali ke rumah, dengan belanjaan yang memenuhi bangku belakang. Kini, kami baru selesai menikmati masakan ibu dengan mas Givan yang masih berada di antara kami.


"Putri video call." mas Givan menunjukkan layar ponselnya padaku.


Panggilan itu belum diterima.


"Diangkat aja lah, Mas." aku masih menyuapi Ceysa yang terlihat sudah begitu mengantuk. Bahkan, makanan tidak kunjung ditelan olehnya.


"Yah... Main atas." Chandra menarik-narik tangan mas Givan.


"Ayah dimarahin kakek, kalau main di kamar Biyung. Dikiranya Ayah lagi ngapain kali." mas Givan menarik balik anaknya, lalu mencium pipi anaknya.


"Ayah..." Chandra sudah merengek tidak jelas.


"Ngantuk ya, Nak. Yuk lah, ke atas. Tak apa Ayah dimarahin, nanti Biyung yang bela." mas Givan melirikku dengan senyum manisnya.


Aku memanyunkan bibirku padanya. Mas Givan tergelak dengan berlalu pergi menaiki tangga menuju lantai atas.


"Beli apa aja kau, Ndhuk?" tanya ibu kemudian.


Aku melirik belanjaan yang masih tergolek di pojokan, "Banyak, Bu. Aku beli baju, ini itu. Sama mas Givan pun boleh aja, jadi aku tinggal beli." aku ditraktir oleh ayahnya Chandra.


"Ibu ambil lah, yang Ibu mau. Aku beli enam daster masa kini, Ria pun katanya mau satu."


Ria sepertinya tengah mengalami masa-masa jatuh cinta. Ia selalu bermain ponsel dan menyendiri. Sepertinya, ada laki-laki yang selalu bertukar chatting dengannya.


"Ibu urus Zio dulu. Dia kegerahan keknya." ibu menuntun Zio masuk ke dalam kamar.


Aku memilih untuk naik ke kamarku saja. Ceysa pun sudah terlelap, padahal ia belum minum. Anak-anakku, memang gampang tertidur ketika badannya nyaman.


Mas Givan seolah berada di kamarnya sendiri. Ia bertelanjang dada, bersama Chandra juga. Chandra sudah nungging-nungging saja di ketiak ayahnya, ia mengantuk tetapi banyak tingkah. Sedangkan mas Givan, ia asik mengobrol dengan ponselnya.


Aku mengunci pintu, lalu menaruh Ceysa perlahan di ranjang.


"Jangan berisik, Bang Chandra. Adek Ceysa udah mabok." aku memberi sekat dengan bantal, agar Chandra tahu batas wilayahnya.


"Iya, mau rujuk kok. Ya, Canda?" mas Givan mengarahkan layar ponselnya ke arahku.


Aku tidak berkedip sedikit pun, saat melihat manusia yang berbaring lemas di belakang tubuh Putri. Bang Daeng masih di rumah sakit ternyata.


"Hai, Biyung." aku langsung memfokuskan perhatianku, pada gadis yang pernah aku temui itu.


"Hai, Nak. Lagi apa, Jasmine?" aku malah duduk bersandar di tengah-tengah tempat tidur.


Aku malah menjadi sekat, antara Chandra dan Ceysa. Sedangkan mas Givan, ia berada di tepi ranjang paling kiri.


"Aku lagi nemenin Mangge. Adek Ceysa lagi apa?"


"Adek Ceysa bobo." aku mengarahkan layar ponsel mas Givan, ke arah putri kecilku ini.


"Adek Ceysa abis naik odong-odong loh, sampai udah miring-miring karena ngantuk." ujar mas Givan, dengan mengarahkan kembali ke wajahnya.


"Aku gak diajak, Ayah jalan-jalan sendiri aja. Waktu di sini, Ayah gak mau terus." Jasmine terlihat memasang wajah kecewanya.


"Iyalah, namanya juga Ayah tiri. Kek gitu tuh kalau Ayah tiri. Makanya sama Mangge aja tuh, jangan sama Ayah lagi."


Hah? Berbicara apa mas Givan ini.

__ADS_1


Aku meraup wajahnya. Hingga ia terkekeh geli.


"Mesranya. Iya kah mau rujuk?" Putri baru bersuara.


Mas Givan bangkit, ia merangkulku yang bersandar di kepala ranjang.


"Iya lah, udah romantis gini. Udah ngamer aja dari semalam. Tidur bareng sama anak-anak." mas Givan mengusap-usap bahuku.


Aku akan selalu ingat mata Putri yang hampir lepas ini. Sudah berapa kali, aku melihat mata Putri akan menggelinding.


Mas Givan tertawa lepas. Ia sampai membekap mulutnya sendiri.


"Iseng betul kau!" tukasku dengan merambat, untuk turun dari ranjang ini.


"Biyung bobo." mata Chandra sudah lima watt. Ia sudah memeluk guling, dengan posisi nyamannya.


"Iya, bentar ya? Biyung ambil bantal dulu." aku hanya beralasan.


"Canda sehat kah, Van?"


Aku kenal suara itu.


"Liat aja sendiri."


Aku cepat-cepat sok sibuk. Memunguti kain dan selimut anak-anak, yang belum sempat aku bereskan. Karena mas Givan mengajak jalan-jalan pagi tadi.


"Itu ranjang bekas aku decitkan, Van."


Mas Givan menyumpal mulutnya kembali, ia sepertinya tidak tahan menahan tawanya.


"Ini anak kau, habisin dana aku tiap kali aku balik." mas Givan mengarahkan ponselnya pada Ceysa.


"Iya, aku belum bisa nengok." suara bang Daeng begitu lemas.


Aku meraih ponselku yang lupa aku bawa jalan-jalan tadi. Aku mengecek notifikasi yang masuk.


Raka, ia memberiku banyak pesan chat.


Hari minggu, ada rencana ke mana?


Aku jemput ya, Canda?


Kita jalan-jalan, sama anak-anak.


Panggilan video terlewat, panggilan telepon terlewat.


Aku mengabaikan. Aku memilih untuk menilik sosial mediaku saja. Ria menandaiku beberapa foto bersama. Mas Givan ikut meriahkan foto kami, ia memasang beberapa ekspresi terbaiknya di foto bersama tadi.


Drttttt.....


Panggilan video masuk kembali.


"Mas, Raka nih." aku berjalan ke arah ranjang.


Mas Givan mengesampingkan ponselnya, ia melirikku sekilas.


"Kau betul tak minat sama Raka, Canda?"

__ADS_1


Ada suara percakapan, dari ponsel mas Givan. Sepertinya, ia masih melakukan panggilan video bersama Putri.


"Aku minatnya sama kau, Mas." aku menyempil di dekatnya.


Ia tertawa geli, "Gatal!" ia malah mengejekku.


"Iya, kau punya uang sekarang Mas."


Tawanya terdengar begitu lepas, "Siapa yang ngajarin? Kau ditawari jadi yang kedua buat Ghifar tak mau. Uang dia lebih banyak."


Sebetulnya, aku hanya bercanda.


"Nih, Len. Mantan kau." tiba-tiba layar ponsel mas Givan terarah ke wajahku.


"Berani loh dia buka kerudung di depan mantan suaminya."


Aku langsung menutup layar ponsel tersebut dengan tanganku.


Sejak tadi kita makan bersama di ruang keluarga pun, aku memang sudah melepas hijabku.


"Jangan aneh-aneh lah, Mas. Kau kek belum tau rambut aku aja." tuturku kemudian.


"Nanti kau abis telpon, ladenin Raka nih Mas. Aku malas betul. Kalau tengok dia, rasanya aku mau ngajak nge-gym bersama."


Mas Givan asik tertawa saja. Aku seperti humor untuknya.


"Len... Len...." mas Givan mengangkat ponselnya, sehingga berhadapan dengan wajahnya.


"Hmm, hmm." suara bang Daeng masih terdengar lemah.


"Kau dapat hidayah belum sih? Canda mau dijodohkan nih, laki-lakinya udah nelponin aja." mas Givan menunjukkan layar ponselku, ke arah layar ponselnya.


"Kata kau, dia bebas kalau udah janda. Lan, Len, Lan, Len terus."


Jujur, aku sedih mendengar penuturannya.


"Iya, aku mau rujuk sama dia. Cuma aku bingung buang Putri sama Jasmine aja."


"Bang Givan....!" seru Putri begitu melengking.


Mas Givan terkekeh kecil, "Serius, Put. Kasian anak-anak, masa harus latihan manggil ammak. Udah aja lanjut manggil biyung." terang mas Givan.


"Ihh, Bang Givan apa tuh. Bercandanya gak seru."


Aku mengulurkan tanganku, mengalungkannya di bawah leher mas Givan.


"Iya, kata mamah nikah KUA aja bulan depan, kalau aku tak cocok sama laki-laki yang mereka jodohkan itu."


Mas Givan membekap mulutnya, ia mungkin akan terpingkal-pingkal setelah ini.


"Nanti sembuh, Abang ke sana Dek."


Tawa mas Givan bocor. Ia sepertinya begitu puas, melihat wajah kakuku.


...****************...


Aduh, siapa tuh yang kalau sembuh bakal ke sana 🤫

__ADS_1


__ADS_2