Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD260. Kediaman Giska


__ADS_3

"Kau ngapain sih, Raka?" aku menghampirinya.


"Aku mau ngasih sesuatu." ia memberiku sesuatu, yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya.


"Apa itu?" aku menggendong Ceysa.


Muncul lah sebuket bunga berwarna merah.


Aku ingin menyampaikan saja, bahwa aku lebih suka diberi uang berwarna merah. Dari pada bunga seperti ini. Aku kurang mengerti kegunaannya sebuket bunga itu. Tidak bisa dimakan, tidak bisa bertahan lama di ruangan juga.


"Aku tau, Givan ada di antara kita. Semoga, kau bisa mikirin hubungan kita ke depannya. Aku udah pengen berumah tangga, Canda." ia menyodorkan bunga tersebut.


Aku langsung mengambil alih, agar tidak ada drama berlutut di depan wanita.


"Makasih ya?" aku memberinya senyum palsu.


"Ya, sama-sama." sahutnya dengan senyum yang terjaga lebar itu.


"Aku mau balik dulu. Aku disuruh mamah. Kau mainlah ke rumah mamah aja, jangan ke rumah aku. Aku sibuk sama anak-anak, ini waktunya mereka tidur siang."


Bohong.


Tidur siangnya anak-anak, mulai pukul sebelas siang sampai pukul satu siang. Selebihnya, mereka bermain dan mengemil ketika sudah makan.


Sekarang, sudah pukul dua siang. Mereka baru terbangun dari tidur siangnya.


Raka mengangguk, "Aku pun, mau ada yang diomongin sama mamah."


"Ya udah gih. Aku duluan." aku berlalu pergi, dengan kerepotan membawa bunga dan wadah kedap udara ini. Belum lagi Ceysa yang aku gendong, karena ia hendak pergi mendahului.


Lebih baik, tiga juta dari mas Givan kemarin. Lumayan, menghemat pengeluaran. Jangankan cilok, kebutuhan dapur pun terpenuhi.


Bukan aku matre, hanya saja ini perbandingan mengenai barang yang aku dapat.


"Eit, cieeeeee......" Ria menunjuk bunga yang aku bawa, dengan senyum usilnya.


"Tuker sama uang." aku mengibaskan sebuket bunga ini.


"Oh, bisaaa...." Ria memang menyebalkan. Ia terbahak-bahak begitu renyahnya.


"Raka tadi ke sini, Ndhuk." ujar ibu, saat aku berpapasan dengan beliau.


"Iya, Bu. Udah ketemu di depan pagar mamah Dinda." aku langsung menaruh sebuket bunga ini, di ruang terima tamu yang berada di bagian belakang bangunan ini.


Ibu ada di sana, dengan Zio yang tengah bermain mobil-mobilan. Sesekali Zio membuka mulutnya, karena ia tengah disuapi oleh ibu.

__ADS_1


"Kamu mau rujuk sama Givan?"


Aku menoleh cepat.


Aku memberi gelengan samar, "Tak, Bu. Kan aku udah cerita, Raka minta sepuluh keturunan. Jangankan aku, mamah Dinda pun keberatan." ujarku perlahan.


"Ya coba dicari jalan tengahnya. Mamah Dinda juga punya banyak keturunan, masa iya dia keberatan?" ibu menaikkan sebelah alisnya.


"Mamah Dinda hamil, itu diluar rencananya. aslinya dia udah KB terus, tapi tetep jebol." jelasku kemudian.


"Ganteng loh Raka ini, kek chef Arnold."


Hah?


Ibu cekikikan, saat melihat wajah kagetku.


"Bu, jangankan yang ganteng, yang jelek pun aku mau kalau sreg sama hati aku." ujarku, membuat tawa ibu hilang seketika.


"Terserah kamu lah, Ndhuk. Yang penting, kamu bahagia sama pilihan hati kamu."


"Ya, Bu. Doakan yang terbaik untuk masa depan aku dan anak-anak." aku mengusap rambut Ceysa.


"Yung... Ain Bang Yo." Ceysa meminta turun dari gendonganku.


Kosa katanya lebih baik, dari pada Chandra kecil. Mungkin karena beda ayah, membuat tumbuh kembang kedua anakku berbeda.


Ceysa memamerkan giginya, kala ia akan meminjam mainan Zio. Ia adalah anak kecil yang sok akrab.


Ibu tertawa geli, "Bilang lah, Bang Iyo pinjam." ibu mengusap keringat di pelipis Ceysa.


"Bang Yo, jem." Ceysa menepuk-nepuk mainan yang menarik perhatiannya.


Zio mengangguk, "Leh."


Anak-anak di sini, sudah terbiasa berbagi dan berebut mainan. Entah Zio atau Chandra, mereka pasti mengizinkan jika Ceysa yang meminjam. Namun, jika antara Zio dan Chandra sudah berhadapan mereka pasti bentrok. Entah apa masalah anak-anak satu ayah tersebut, mereka susah akur.


~


Esok harinya, aku diminta untuk mengantar sesuatu ke rumah Giska. Mamah Dinda adalah ibu yang baik, ia selalu membuat makanan lebih untuk anak-anaknya. Meski, anak-anak mereka sudah tidak tinggal bersama mereka lagi.


"Sendirian aja, kek gadis." celetuk Zuhdi, saat melihatku naik ke tangga rumah panggungnya.


Ia tengah berdiri dengan berpegang pada pagar pembatas teras rumahnya. Ya, bayangkan saja teras rumah Upin-Ipin yang memiliki pagar pembatas. Aku tidak bisa menjelaskan dan menyebutkan namanya secara pasti.


Aku hanya membalasnya dengan tawa kecil. Ceysa tidak mau diajak, Chandra pun malah meminta ikut dengan papah Adi. Meski Chandra dan Ceysa bukan cucu kandung papah Adi, beliau terlihat menyayangi mereka begitu tulus.

__ADS_1


Ya, mas Givan bukanlah anak kandung papah Adi. Membuat Chandra pun, aslinya berstatus bukan cucu kandungnya. Apa lagi Ceysa, yang jelas-jelas bukan dari ayah yang sama.


Ceysa malah anteng menjelajah rumah mamah Dinda. Tentu diawasi juga oleh beliau. Ceysa suka mengetuk-ngetuk pintu, masuk dan keluar ruangan. Mungkin ia ingin melatih kaki mungilnya.


Chandra malah ikut ke ladang bersama kakeknya. Ada-ada saja dengan Chandra ini, untungnya papah Adi tidak merasa keberatan.


"Giska ada, Bang?" aku canggung jika memanggil Zuhdi hanya nama saja.


Karena ia teman mas Givan, yang jelas umurnya jauh di atasku.


"Ada dong, Dek. Masuk aja." ia malah iseng.


Aku tertegun, melihat mainan anak-anak yang berserakan sejauh mata memandang. Luar bisa Hadi ini. Padahal hanya satu anak, benar-benar anak yang aktif.


"Biyung." ternyata bocah tersebut bersembunyi di bawah meja.


"Ma mana, Dek?" aku melangkah masuk menghampirinya.


Aku tidak akan mengatakan Giska malas. Karena, mungkin aku pun sama. Di rumah saja, ibu yang selalu memasak. Tugasku hanya menggiling pakaian, menjemur dan melipatnya kembali. Ria yang selalu berbenah di lantai dua, tempat kamarnya berada, kamar ibu, kamar Chandra dan ruang keluarga. Sedangkan aku, hanya berbenah di kamarku saja.


Aku tahu sendiri, bagaimana aktifnya anak usia dua tahun tersebut. Menurut mamah Dinda, Hadi seperti Ghifar kecil. Selalu jelalatan dan tidak akur jika memiliki teman. Entah apa masalah anak-anak hiper aktif seperti mereka, tapi mereka seperti memiliki dunia dan fantasi sendiri.


Manda, panda yang diterapkan pada keponakannya. Ternyata tidak berlaku untuk Hadi, anak mereka sendiri. Hadi tetap memanggil ibunya, ma. Sedangkan, untuk memanggil ayahnya adalah abu. Mungkin Hadi belajar dari nenek dan kakeknya dari pihak Zuhdi. Karena rumah mereka dekat dengan rumah Giska ini, mungkin mereka sering berkunjung. Membuat Hadi merekam panggilan untuk orang tua tersebut.


Hadi keluar dari bawah meja, "Yuk, Biyung." tangannya melambai padaku. Kemudian, ia langsung berlari ke arah belakang.


Aku cepat-cepat mengikuti anak itu. Ini adalah rumah panggung, di mana dapur dan kamar mandinya menempel di tanah. Bayangkan saja seperti rumah Upin-Ipin. Aku khawatir, anak yang berkulit hitam manis itu terjungkal.


"Ma...."


Syukurlah, ternyata ada tralis pengaman di tangga. Membuat Hadi tidak langsung turun dari tangga.


"Ma...." Hadi berseru kembali.


"Hmm." Giska tengah beraktivitas di depan kompor.


Meski rumahnya terlihat seperti rumah penduduk biasa. Tapi peralatan dapurnya, terkesan seperti perabot milik sultan. Kompor gas saja, ia menggunakan kompor tanam. Belum lagi wastafel cuci piring, yang berbahan keramik marmer tersebut.


Satu dua, seperti dapur mewah milik mamah Dinda. Di mana wajan dan pancinya, terbuat dari keramik, beling dan stainless yang terlapisi teflon anti lengket. Sutil dan kawan-kawannya pun sungguh mewah. Aku sampai menyicil, saat ingin membeli alat-alat dapur modern seperti itu.


"Ma... Dengoe!!!" seru Hadi.


"Yaaa.... Dengoe." Giska ikut berseru saja, tapi ia enggan menoleh.


"Ma, na.....

__ADS_1


...****************...


Ribut aja pasti, antara Giska sama anaknya 🤣


__ADS_2