Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD377. Sampai di rumah


__ADS_3

Malam ini, pukul sepuluh malam. Aku baru merasakan indahnya wajah tampan itu melengguh di bawahku. Matanya terpejam, dengan senyum yang terukir samar.


Malam ini, aku bangga dengan diriku sendiri. Karena mampu menumbangkannya di atas tempat tidur.


Matanya sayu terbuka. Kilat b*rahi, begitu kentara di sorot matanya.


"Dari siapa kau belajar mutar?"


Aku langsung menghentakkan pinggulku beberapa kali, membuatnya meracau tak jelas.


Jika aku boleh jujur. Aku benar-benar tidak ingin melakukannya malam ini. Benar katanya, aku lama tak disentuh. Sehingga, membuatku asing mendapat sentuhannya.


Tapi, jika memang ini adalah inginnya. Maka salah satunya jalan membuatnya bahagia adalah memenuhi keinginannya.


"Udah, Canda." mas Givan menahan laju pinggulku.


"Biar aku keluarkan kau dulu." ia bangkit dengan penyatuan yang masih menempel.


Aku menahan dadanya, agar ia tetap dalam posisi terl*nt*ng.


"Aku gampang, biar Mas aja dulu."


Aku mencondongkan punggungku ke depan, kemudian mengayunkan pinggulku searah pantulan tempat tidur.


Kakinya mengacak-acak sprai kasur ini. tangannya pun mempercepat lajunya gerakanku.


Sepertinya, mas Givan akan mendapatkan puncaknya.


Mulutnya sedikit terbuka, dengan suara khas yang keluar dari kerongkongannya. Detik itu juga, rasa lengket dan hangat menjadi hasil akhir perdebatan kami tadi.


Aku hanya perlu menuruti inginnya, agar ia menjadi suami yang baik. Sedikit lelah menggoyangkan pinggulku mungkin tidak masalah, dibandingkan lelahnya ia mencari nafkah.


~


Mati aku.


Jika mas Givan tahu, mungkin aku akan dicekiknya.


Bagaimana ini?


Aku begitu teledor.


Ketika baru pulang dari liburan kami, lalu aku masuk ke kamar. Aku mendapati pil KB milikku, berada di atas nakas.


Yang artinya, pil keramat ini tidak dikonsumsi olehku selama empat hari kami berlibur. Dengan frekuensi se*s yang sering, juga benih yang ditaburkan terus-menerus di rahimku. Aku takut, aku menggagalkan planningnya. Karena aku hamil, di luar rencananya.


Brakkhhhhh....


"Aku mau mandi dulu, terus ngurus kayu datang."


Aku buru-buru mengantongi pil itu, ketika suara suamiku menggema di dalam kamar kami.

__ADS_1


"Barang-barang besok aja kali ya dikeluarkannya? Udah malam, takut ganggu yang udah tidur." mas Givan masuk ke dalam kamar mandi.


Beginikah rasanya the real ketar-ketir?


Rumit sudah, yang jelas aku sekarang lebih takut mendengar suara lembutnya ketimbang bentakannya.


Jika aku meminumnya sekarang, pasti beresiko kalau dalam rahimku sudah ada banihnya mas Givan yang tumbuh.


Aku langsung menyembunyikan pil tersebut di bawah tempat tidur. Kemudian, aku berbenah sebelum mas Givan selesai mandi.


Bersikap layaknya tidak ada apa-apa mungkin lebih aman, ketimbang aku gelagapan seperti ini.


Cukup lama, sampai mas Givan keluar dari kamar mandi. Ia sudah lebih fresh sekarang, padahal sejak tadi ia sudah mengantuk saja.


"Jangan mandi, Canda. Dingin, biarpun pakai air hangat juga. Cuci muka aja." ia mengusap-usap bahuku.


Mas Givan lebih sering tersenyum sekarang, setelah aku mengikuti macam-macam gaya ia inginkan. Aku tidak akan pernah memberitahu, manusia siapa yang mengajariku.


Yang terpenting, mas Givan tahu aku sudah handal saja itu cukup untukku.


Ia pun, tidak keberatan dengan sifat malasku lagi. Sejak WOT sudah wajib di setiap hubungan rahasia kami, saat anak terlelap.


Ternyata, mas Givan sama seperti bang Daeng. Mereka sama-sama menyukai gaya, di mana perempuan yang berada di atas mereka.


"Kunci aja pintunya. Nanti aku pulang mungkin setelah selesai bongkar kayu. Nanti aku ketok-ketok jendela kamar." mas Givan buru-buru dalam berpakaian.


Ia mengenakan sarung dengan motif garis kecil berwarna putih, dengan warna kain yang hitam. Dipadukan dengan hoddie tebal, yang memiliki warna gelap juga.


Bagaimana penampilannya?


"Pergi dulu, Canda." mas Givan bergegas keluar dari kamar dengan membawa dompet, ponsel dan kunci motor yang tergantung di kastok dekat lemari pakaian.


Ia tadi mengatakan akan pulang selesai bongkar kayu, yang artinya ia akan istirahat di rumah. Jika itu benar ia lakukan, aku akan bersyukur sepanjang masa hidup dengannya.


Akhirnya, ia memiliki tempat untuk ia pulang dan beristirahat. Mas Givan pulang padaku, istrinya. Mas Givan tidak lagi tidur di pos ronda, atau gudang kayu, karena alasan malas pulang lagi.


Jadi, pada suami kita harus begitu mengabdi dan menurut. Agar ia pun melakukan hal yang sama pada kita. Setidaknya, ia tidak macam-macam di luar sana.


Pagi harinya, aku bangun lebih awal. Karena mas Givan baru kembali ke rumah pukul dua malam. Ia masih pulas subuh ini, dengan memeluk kaki Ceysa yang seperti ceker ayam itu.


Sebenarnya mas Givan tidak memiliki tempat untuk tidur, karena Ceysa tidur mengitari tempat tidur. Mau tidak mau, mas Givan tidur asal saja. Karena anak sambungannya itu, tidak anteng di tempatnya yang sudah disekat dengan bantal.


Aku langsung beraktivitas di subuh ini, dengan papah Adi yang memperhatikanku. Si malas yang bangun pagi, mungkin sedikit aneh untuk mereka yang melihat perubahanku.


Bagaimana lagi? Aku adalah ibu dari empat orang anak. Aku punya kewajiban untuk mengurus mereka.


Terutama Chandra, yang jelas-jelas adalah darah dagingku sendiri.


Besok adalah waktu Key kembali pulang ke sini, dengan diantar oleh ibu kandungnya kembali.


"Masak apa, Canda?" mamah Dinda baru keluar dari kamar, dengan rambut yang digulung dengan handuk.

__ADS_1


Untungnya, malam tadi aku libur. Jika tidak, pasti malu karena mertua dan menantu sama-sama junub di pagi hari seperti ini.


"Baru masak nasi aja, Mah. Aku masak nasinya sekalian, Mamah tak perlu masak nasi lagi."


Mamah Dinda mengeringkan kulit kepalanya, "Iya, Dek. Masaknya satu aja, pakai bahan-bahan masakan Mamah aja. Stoknya masih banyak." mamah Dinda memandoriku yang tengah sibuk ini.


"Nek...." itu adalah suara Chandra.


Sejak semalam aku tak melihatnya. Karena Chandra sudah terlelap di dalam kamar mamah Dinda, yang penghuninya sudah mengurung diri di dalam kamar.


"Biyung udah pulang?" Chandra dengan rambut panjangnya yang tidak diikat itu, muncul di area dapur ini.


"Iya dong. Nanti siang bongkar oleh-oleh ya?" aku berbicara dengan nada riang pada Chandra.


"He'em, bikin susu dulu Biyung." Chandra menggaruk punggung telanjangnya.


"Okeh."


Aku langsung membuatkan susu untuk Chandra. Kemudian memberikannya yang tengah tidur-tiduran di karpet ruang keluarga.


Tok, tok, tok....


Aku dan papah Adi saling memandang.


"Keknya bukan orang deh." ucap papah Adi yang membuatku merinding.


Tok, tok, tok....


Ketukan pintu berulang kembali dari arah depan.


"Tak mungkin orang bertamu sepagi ini." lanjut papah Adi kemudian.


"Barangkali Ria atau siapa, Bang." mamah Dinda menyediakan teh hangat untuk suaminya.


"Kau berani buka, Canda?


Aku menggeleng cepat pada papah Adi, "Papah aja."


Aku masih pengantin baru, aku takut dimakan setan.


Tok, tok, tok.....


"Fira antar Key bukan, Canda? Kan dia bilang, hari jum'at anter Key balik." tanya mamah Dinda.


"Tapi semalam Fira screenshot tiket pesawat mereka, penerbangan mereka pukul sepuluh pagi. Mas Givan bahkan tunjukkin sendiri ke aku, isi chat Fira." aku membacanya sendiri, hingga aku berani mengatakannya pada mamah Dinda dan papah Adi.


Tok, tok, tok...


"Van....


...****************...

__ADS_1


Mas Givan pulang ke rumah dong, gak waktu kek sama Nadya 😅


Masih aman ya scene-nya. Scene 21+ yang lebih detail, udah dibocorkan di GC 🤭 tinggal nunggu tayang aja 😁


__ADS_2