
"Bener Meriahnya di mana? Aku diamanatkan buat nganterin kau, Dek."
Aku segera melepaskan pucuk dadaku, dari mulut Chandra. Ia sudah nyenyak, tetapi mulutnya masih aktif mengh*sap.
Lalu aku membenahi pakaianku, kemudian duduk menghadap bang Dendi yang tengah makan cemilan.
"Disuruh siapa, Bang?" tanyaku kemudian.
"Disuruh bang Lendra. Katanya ongkos yang dia kasih ke Chandra, anak kau itu. Cukup buat ongkos aku pulang pergi nganter kau ke Bener Meriah. Dia juga ada kata, kalau kurang bilang aja, nanti ditransfer."
Aku bungkam, menunduk memperhatikan jari kakiku yang mengintip dari rokku.
Bukan aku tak ikhlas, karena uang pemberian bang Lendra untuk Chandra. Malah digunakan sebagai ongkos aku dan bang Dendi.
Hanya saja, aku memang tak ingin kembali.
Tapi, aku pun mulai memikirkan tentang statusku.
Benar nasehat dari Jeni tadi. Aku harus pergi, dengan statusku yang sudah berganti menjadi janda. Setidaknya, aku harus meminta mas Givan untuk membereskan perceraian kami. Karena aku tak punya dana, untuk perceraianku. Sedangkan yang aku pahami, perceraian harus menggunakan uang sendiri. Jika pinjam pun, orang yang meminjamkan dapat sialnya saja. Jadi lebih baik jangan dilakukan, jika uangnya hasil pinjaman.
"Bukan ngusir kau, Dek. Cuma bang Lendra keberatan, takut disangka ngumpetin istri orang. Aku, Enis, bang Lendra kan udah macam saudara. Tak masalah dengan kehadiran kau sama anak kau, asal status kau udah aman. Maksudnya... Kalau rujuk ya rujuk, kita tetap bisa berteman. Kalau kami lagi liburan ke Bener Meriah pun, kan bisa mampir ke tempat kau sama suami. Kalau cerai, ya cepat diproses. Biar kita tak disangka ngumpetin kau, lebih-lebih disangka ada main sama istri orang."
Bang Dendi sepertinya menyadari, bahwa aku tidak suka dengan perintah bang Lendra ini.
"Kalau mau ngobrol sama Enis dulu ya, silahkan. Nanti kalau keputusan kau udah mantap, tinggal bilang ke Abang buat anter kau ke sana."
Mungkin opsi itu bisa aku lakukan. Bahkan, aku belum pernah curhat sama sekali dengan kak Anisa.
"Ya, Bang. Aku butuh pendapat lain. Aku masih belum mantap." akhirnya aku memberi jawaban pada bang Dendi.
"Ya udah, nanti tinggal bilang aja. Abang mau ke apotek dulu, kunci aja pintunya. Nanti ngasihin salepnya, kalau Enis bangun aja."
Aku mengangguk, lalu mengunci pintu selepas bang Dendi pergi.
Aku bingung, aku harus bagaimana?
Di satu sisi, Ghifar begitu mendukungku agar aku bisa lepas dari mas Givan. Tapi, di lain sisi. Aku malah terjebak para sahabat, yang menyuruhku untuk kembali ke mas Givan.
Apa alasanku untuk kembali?
Apa mungkin mas Givan masih menginginkan aku sebagai istrinya?
Tapi bagaimana dengan Nadya itu?
Karena ia menuntut tanggung jawab dari mas Givan, atas perpisahannya dengan suaminya.
Mas Givan pun pasti mengejekku, karena aku kembali dengan kesengsaraan ini.
Aku menghela nafasku. Untuk sekarang, aku lebih memilih beranjak untuk mandi. Lalu menunaikan ibadahku, yang tak terjaga beberapa waktu ini.
__ADS_1
Setelahnya, aku lebih memilih mengisi perutku. Karena kantong ASIku sudah kempes, Chandra menuntut kantong ASIku penuh untuk kebutuhannya. Sebagai ibu yang baik pun, aku harus memenuhi kantong ASIku.
~
Malam semakin larut. Jam tidur kami sepertinya berantakan, karena kami belum mengantuk sampai sekarang.
Selepas isya, Chandra baru terbangun. Aku pun sempat tertidur, selepas sholat maghrib. Sedangkan kak Anisa, ia baru terbangun sekarang, pukul sembilan malam ini.
"Dek... Minta tolong ambilin handuk."
Aku mengangguk, menyanggupi untuk mengambilkan handuk. Aku paham, di balik selimutnya. Kak Anisa pasti tak mengenakan sehelai benang pun.
Aku memberikan handuk padanya. Lalu ia langsung membalut tubuhnya dengan handuk, di balik selimut itu.
Setelahnya, kak Anisa melarikan diri ke dalam kamar mandi.
"Yunggg...." Chandra tengah rambatan pada pintu kamar yang masih terkunci itu.
Aku berinisiatif membereskan sprai yang begitu lecek ini. Lalu, aku membenahi bantal-bantal hingga tersusun rapih.
"Makan kah?"
Chandra menggelengkan kepalanya, ia mengerti bahasanya. Meski, ia belum bisa berbicara.
Ia menggerakkan kakinya perlahan, ia masih belum berani lepas dari benda yang menjadi tumpuan tubuhnya.
Selepas itu, aku meraih sapu. Menggiring beberapa pasir, yang mengotori kamar ini.
Kak Anisa tengah mencari pakaiannya, dalam lemarinya.
"Tadi bang Dendi udah beresin, dibawanya satu juga."
"Ohh, iya. Ada berapa sih? Tadi bang Lendra bilang beli banyak."
Rambutnya basah, aku malah ingin mengejeknya.
"Ada delapan atau berapa, aku cuma nyimpen aja tadi. Soalnya sama bang Dendi disusun di situ." aku menunjuk pojok lemarinya, "Terus dimainin Chandra, jadinya aku pindahin ke dapur. Aku masukin di kresek, yang gantung di rak piring itu." lanjutku dengan menunjuk objek yang aku maksud tadi.
"Wah...."
Chandra sampai tertawa lepas, lalu ia terduduk dengan tawanya itu.
Ia telah sampai di dekat kak Anisa, lalu ia menepuk-nepuk punggung kak Anisa. Yang tidak tertutupi handuk dengan sempurna.
"Adek katanya sakit. Udah minum obat belum?" kak Anisa mengajak Chandra berdialog.
"Yunggg....." Chandra marah merangkak ke arahku.
"Bentar ya? Ganti baju dulu." kak Anisa berlalu lagi ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Aku lanjut bermain dengan Chandra, sesekali aku menyuapi biskuit kentang ke dalam mulut Chandra. Ia belum ingin makan kembali, tapi ia selalu memasukkan jarinya ke mulutnya.
Cetek....
Aku menoleh, terlihat tubuh kak Anisa sudah terlapisi daster. Sedangkan rambutnya masih tergulung handuk.
Ia tengah berada di depan kompor bertungku satu. Mungkin, ia ingin mengisi perutnya.
Begini ternyata hidup di rantau orang. Jika lapar, akan mencari bahan instan untuk mengisi perut.
Di sini tidak ada kulkas. Stok mie dalam dapur kak Anisa cukup banyak. Sedangkan bahan makanan lain, mungkin hanya ada telor dan garam. Tadi aku makan pun, aku makan nasi dalam penanak nasi berukuran kecil. Dengan mie instan saja, karena nasi bungkus jatahku sudah ada yang memakannya. Aku tidak masalah untuk itu, aku paham keadaan kami semua yang tengah kekurangan ekonomi.
Aku tidak mengerti membuat toppoki instan tersebut.
"Yung...." aku merasa geli, melihat bibir lancip Chandra.
"Apa, Nak?" aku tertawa tipis, dengan mengusap ingusnya.
Chandra mencari pegangan, ia meraih bajuku dan berjalan perlahan padaku.
"Nen." ia menepuk-nepuk dadaku kembali.
"Chandra belum makan, Chandra makan dulu. Terus baru nen lagi deh."
Namun, ia menggeleng. Ia memaksa menarik kaosku. Agar pabrik susu yang ia inginkan, memenuhi mulutnya kembali.
"Nen, Yung!" suaranya sampai menjerit.
"Iya, iya. Nih." aku memposisikan Chandra lagi, agar bisa nyaman menikmati ASI.
"Nih, toppoki. Aku candu kali sama makanan ini, rasanya nagih."
Satu piring berada di depan kak Anisa. Lalu satu piring lainnya, kak Anisa sodorkan di depanku.
"Besok kerja lagi kah, Kak?"
Ia menggeleng, dengan mulut yang tengah menikmati makanannya.
"Gak kerja, belum ada job lagi. Ada apa memang?" tanyanya kemudian.
"Gini, Kak. Aku diminta bang Lendra buat balik ke Aceh, bang Dendi pun disuruh bang Lendra buat anterin aku. Aku tak mau balik, Kak. Tapi aku mikirin terus ucapan Jeni, yang bilang buat aku minta kejelasan sama suami aku. Maksudnya... Diurus kek gitu Kak, status aku ini. Kan di KTP, status aku masih kawin. Aku juga, belum proses perceraian aku." aku menceritakan pokok masalah yang menghantuiku sekarang.
Ia menganggukkan kepalanya, sepertinya ia menyimak dengan jelas cerita dariku.
"Tadi pun aku sama bang Lendra ngobrol tentang kamu sedikit, Dek. Yaa, dia......
...****************...
Urus ya mereka βΊοΈ
__ADS_1
Tapi ngomong-ngomong, Canda bakal balik ke Aceh kah? π€
Ikuti terus, bakal ada kejutan seru untuk kalian π