Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD207. Sufor


__ADS_3

"Apa?" aku menghampiri Ghifar.


"Ngobrol yuk? Gih, duluan naik tangga. Buka ya pintu kamarnya, biar aku langsung bisa masuk."


"Cari mati kau?!" aku geram padanya.


Masalahku satu. Aku tidak bisa menolak pesonanya, itulah yang membuatku takut.


"Ya, Allah." Ghifar malah mencolek daguku.


"Apa sih?!!" aku memberinya pandangan marah.


"Sensi betul! Kek Kin." ia langsung murung kembali, lalu beranjak pergi. Ia langsung keluar dari pintu samping, entah kemana tujuannya.


Ghifar ini sebenarnya kenapa?


"Dek... Ajak Ziyan ke ibu, Nadya juga mau diperiksa."


Hah?


Aku langsung mengangguk cepat, dengan menggandeng tangan Ziyan.


"Bunda....." tangis pilu Ziyan, kala mendengar suara penolakan ibunya yang dibawa pihak berwenang itu.


Ohh, aku baru paham.


Aku teringat tentang cerita mamah Dinda yang melaporkan Nadya ke kepolisian. Bukan lain perkaranya tentang propertinya yang dijual tanpa izin.


Ehh, bukan mamah Dinda. Tepatnya papah Adi yang menuntut pengembalian barang. Papah Adi adalah cerminan manusia yang realistis. Dia tidak suka jerih payahnya dibuang sia-sia. Apa lagi, masalah meja makan marmer dan juga kursi makan penuh ukiran itu. Papah Adi bahkan sampai menabung selama empat tahun. Pasti dulu keinginannya begitu kuat, untuk membeli satu set meja makan itu.


"Yuk sama kawan-kawan yang lain."


Aku membawanya ke halaman belakang. Anak-anak di rumah ini suka dilepasliarkan. Mereka hanya diawasi. Perebutan mainan dan daerah teritorial pun sudah biasa. Akan ada yang menangis, lalu akan bermain bersama kembali. Dengan seperti itu, rasa persaudaraan mereka meningkat menurut mamah Dinda.


Tapi benar juga. Mereka kini bisa saling menjaga dan mengayomi. Yang besar, selalu menjaga yang kecil. Yang kecil pun, cukup mengerti akan kemauan anak yang besar. Itu yang aku perhatikan.


"Bu... Bantuin." jujur, aku tidak biasa menggendong bayi dengan menggandeng tangan anak yang tengah mengamuk ini.


"Kemana bundanya? Ibu gak boleh loh megang mereka." ibu langsung mengambil alih Ziyan yang tengah mengamuk.


Kakak dari Zio ini mengerti, bahwa ia akan dipisahkan sementara dengan ibunya.


"Mamah yang nyuruh, Bu." aku membenahi untuk menggendong bayi yang merengek minta asupan ini.


Aduh, bagaimana ini? Aku tidak tahu Zio ASI ataukah sufor. Jika sufor pun, sufornya yang mana? Aku takut sufornya tertukar dengan milik Kaf.


Ya, padahal Kinasya seorang dokter. Tapi ia memilih untuk menggunakan susu formula juga, dikarenakan bayi Kaf yang jarang tertidur dan selalu ingin ASI. Kinasya pun agak kurusan sekarang. Mungkin karena beban pikiran, atau gara-gara lelah mengurus Kaf yang rewel.

__ADS_1


"Dek... Canda..."


"Ya, Mah." aku langsung mencari sumber suara.


Mamah Dinda ternyata berada di dapur.


"Mamah nyiapin kebutuhan papah dulu. Papah mau ikut ke kantor. Urus dulu itu Zio, minta saudara yang lain anterin ke minimarket. Beli lah sufor buat Zio. Tanyakan mereknya ke Kin. Mamah lagi sibuk. Anak-anak jangan ada yang ke depan dulu." mamah Dinda berlalu pergi dari dapur, dengan membawa kotak makan kedap udara berwarna pink.


Papah Adi akan makan bekal dari wadah pink. Aku jadi ingin tertawa.


"Kin...." aku menyerukan namanya.


"Lagi makan di balkon. Tadi aku abis sama dia." kebetulan sekali Tika turun dengan menggendong Aksa.


"Kembar mana, Tik?" aku merasa heran jika kembar tidak ada di dekapan Tika.


Kembar belum bisa berjalan. Tapi mereka pun tidak mau diam. Cara satu-satunya agar mereka diam, ya dengan cara Tika menggendong keduanya.


"Sama bapa. Main ke studio keknya."


Bapa adalah Ghavi. Itu adalah panggilan kesayangan Tika pada suaminya.


"Lagi ada di rumah tuh, tak betah di rumah. Ngeluyur terus kerjaannya. Alasan ajak anak jalan-jalan, padahal dirinya memang tak betah di rumah." tambah Tika dengan melewatiku.


Ia menggerutu tentang tabiat Ghavi.


"Kin...."


Tok, tok, tok...


Aku mengetuk kamar pribadi Ghifar.


"Masuk aja." seruan itu sedikit samar.


Terlihat beberapa selimut tebal tergulung tidak beraturan. Beberapa kain pun berserakan. Pakaian Ghifar tercecer di dekat pintu. Bahkan, wadah pabrik ASI Kinasya menggantung di cermin yang berada di sudut kamar.


Aku merasa deg-degan, aku takut dengan Kinasya.


Bukan takut yang bagaimana. Hanya saja, aku takut dimintai keterangan perihal malam nakal itu.


Rasanya aku ingin mengutuk Ghifar saja. Kenapa ia tidak pandai jaga rahasia. Ia malah bercerita pada mamah Dinda.


Bodoh juga aku ini. Kenapa juga aku malah selalu teringat malam itu. Belitan Ghifar, kungkungan Ghifar, belaian lembut, selembut nada suaranya. Belum lagi endusan nafasnya, yang membuatku merinding.


Ghifar tidak seperti bang Daeng, yang suka bermain kaget. Cara main Ghifar begitu lembut, penuh dengan senyum menenangkan. Penuh dengan pertanyaan, apa dia menyakitiku atas tindakannya.


Ghifar pun cukup pandai memperlakukan kubanganku. Meski ia tidak memasukiku, tapi jarinya begitu aktif beraktivitas di dalam sana. Maka dari itu, ia bisa mengetahui bahwa perawan tiruan itu telah dijebol seseorang.

__ADS_1


Satu yang aku ingat selalu. Meski ia jujur, bahwa ia masih mencintaiku. Ia pun berterus terang, ia takut menyakiti hati Kinasya. Di alam sadar dan bawa sadarnya, hanya kakak angkatnya itu yang selalu disebut. Bahkan, saat ia mencoba membangunkan pusakanya. Ia memejamkan matanya selalu. Mungkin saat itu, ia tengah membayangkan kemolekan tubuh istrinya.


Hanya Kinasya lah, yang menjadi khayalan terindahnya.


Setelah ia menyelesaikan kegiatan nakalnya, ia bahkan meminta maaf lalu menangisi hal yang sudah terjadi itu. Ghifar ternyata memiliki penyesalan yang cukup dalam, ia tidak kuasa menyakiti istrinya.


Aku pun tidak tinggal diam. Berulang kali aku mencegahnya semakin jauh, berulang kali aku menyadarkannya. Namun, tetap saja ia ingin sekali memilikiku saat itu.


Mata gelapnya menginginkan, agar aku menjadi istri keduanya. Berulang kali Ghifar melafalkan itu, saat kejadian itu terjadi.


Satu yang aku pelajari dari keluarga Riyana ini. Mereka licik untuk mendapatkan wanita.


Ghifar yang baik budi dan lembut bertutur kata pun. Berniat buruk padaku. Ia ingin menghamiliku, agar izin poligami turun dari istrinya.


Entah apa yang ada di pikirannya. Ghifar masih penasaran dengan rasanya poligami itu.


"Ada apa, Canda?"


Kinasya melongok ke arahku. Ia berada di ambang pintu kamarnya, yang menghubungkan ke balkon.


"Nadya dibawa polisi. Mamah minta rekomendasi sufor buat Zio. Mamah pun lagi repot, lagi urus keperluan papah." terangku dengan berjalan ke arahnya.


"Coba liat dulu anaknya." Kin menggeser posisi bouncher baby yang digunakan oleh Kaf.


Ia mengulurkan tangannya, untuk mengambil alih Zio.


Aku langsung memberikan Zio, "Harus diperiksa dulu ya?" tanyaku kemudian.


"Tak juga. Maksudnya, kalau berat badannya kurang, nanti aku rekomendasikan sufor yang bikin badan isi. Kalau perutnya kembung juga, aku rekomendasikan sufor yang tak bikin melilit di perut bayi." Kin menepuk-nepuk perut Zio dengan jarinya.


"Menurut aku sih, Bebelove aja. Bayi itu cepat pertumbuhannya, bukan kek gini." Kin mengusap-usap tangan bayinya mas Givan ini.


Menurutku, Zio masih terlihat seperti bayi baru keluar rahim. Ya, ia seperti begitu kecil. Atau mungkin, karena keturunan dari Nadya yang memang bertubuh tinggi dan kurus.


Ziyan, berpostur cukup tinggi di usianya. Namun, ia terlihat begitu kurus. Nadya pun seperti itu sekarang. Ia jauh terlihat lebih kurus, ketimbang saat dirinya baru-baru merebut mas Givan.


Kinasya memandangku dengan tersenyum samar.


Ada apa ini?


Aku menjadi tegang.


"Maafin.....


...****************...


Ngerasa bersalah sih, jadi hawanya takut terus 😌 yang gak puas dengan karma untuk Nadya. Hari ini aku coba puaskan 🤫

__ADS_1


__ADS_2