
"Maafin tingkah Ghifar kemarin ya? Aku paham, pasti masa itu pun kau udah ingetin dia."
Aku sangat merasa bersalah padanya.
"Aku juga minta maaf, Kin. Demi Allah, masa itu aku tak sengaja datang ke hotel Ghifar nginep. Aku lagi di bus, terus aku minta turun, karena posisi aku udah mual betul. Pas turun, aku langsung muntah-muntah. Aku tak tau, kalau aku berdiri di depan hotel tempat Ghifar nginap. Entah Ghifar abis apa, dia tiba-tiba datang bawa air mineral botol." ini baru pertama kalinya aku bercerita dengan Kinasya.
"Lama ya kalian di hotel?" Kinasya menutupi bagian lehernya dengan rambutnya.
Aku paham. Apa lagi dengan kamar berantakan dan pakaian Ghifar yang berceceran.
"Gak juga. Semalam aja, terus malam besoknya ambil penerbangan." aku jujur mengenai ini.
"Ngomong-ngomong, masih enak kan Ghifar? Masih sama rasanya masa kalian pacaran dulu kah? Atau udah lebih lihai karena ajaran dari Aku?"
Aku tersinggung.
Di dalam kalimatnya, memiliki makna yang menusuk. Secara tidak langsung, Kinasya tengah merendahkanku. Di dalam pertanyaannya juga, seolah mengatakan bahwa Ghifar sekarang lebih lihai karena dirinya.
"Aku dulu pacaran sama Ghifar tak keterlaluan. Sering nginep juga, tapi biasa aja. Lebih kek teman, banyak guraunya. Kalau dimasakin pun, banyak komentarnya, bahkan tak pernah muji. Kurang asin, kurang mecin, kurang penyedap rasa, kurang manis, kurang pedas. Bahkan, dulu aku pernah dikasih tantangan buat masakin kuah beulangong." aku mencoba berpikir positif.
Agar Kinasya paham, bahwa suaminya bukan bekasanku.
"Ohh... Pernah tuh dia ngigau, dia bilang ini kurang asin, besok masakin lagi, nanti gajian aku kasih biaya masaknya. Jelas betul pas bilang kek gitu, meski nama seseorangnya tak disebut." ekspresi wajah Kinasya begitu miris, dengan suara bergetar dan wajahnya yang menghadap ke arah lain.
Aku dulu sering mengigau. Ternyata, Ghifar pun sama.
Jika memang ia tidak suka membahas ini. Aturannya, ia tidak usah menanyakan aku tentang hal itu.
Tanganku terulur, untuk mengusap lengannya.
"Yang jelas, Ghifar sayang betul sama kau. Dia laki-laki baik, dia suami yang terbaik. Bolehkah aku kasih saran?"
Kinasya menoleh ke arahku, ia mengangguk dengan mengusap air matanya.
"Ghifar butuh teman ngobrol. Dia butuh teman bergurau. Bukan bikin panas kau, tapi saat aku sama Ghifar akrab lagi, dia persis kek Ghifar dulu. Dia suka bergurau, dia suka bercanda, dia suka ngeledekin, dia butuh bahan tertawaannya. Memang kalau keadaan kita lagi sensitif, pasti hawanya pengen gaplok aja karena cara berguraunya. Tapi kalau ditilik dari Ghifar sendiri, dia butuh pelipur capeknya dengan gurauan itu." aku tersenyum manis pada Kinasya.
"Dia bilang apa tentang aku?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
Aku tidak boleh membeberkan segalanya. Kinasya pasti berpikir, bahwa Ghifar menjelek-jelekkannya di depanku.
"Kau sedikit kasar aja. Maaf Kin, dia pun ngajakin aku nikah lagi. Karena dia jujur, dia butuh pelipur capeknya kerja. Dia pengen ngobrol, pengen bercanda. Keknya, dengan kau sedikit lebih ngertiin sifat dia, rumah tangga kau bakal baik-baik aja. Ghifar itu orangnya langsung ngasih keputusan, jangan sampai dia benar-benar udah mutusin buat ceraikan kau gara-gara masalah sepele ini. Mungkin itu tak akan pernah, tapi kemungkinan besar kau dimadu itu pasti ada. Aku bilang kek gini, buat meminimalisir keputusan Ghifar nanti. Biar dia berpikir, bahwa kau adalah istri yang enak dijadikan teman juga. Jangan tersinggung, Kin. Bukan maksud hati, kalau aku campuri rumah tangga kau. Aku cuma pengen, Ghifar sama kau tetap baik-baik aja." aku mengusap-usap lengannya, berharap ia mengerti maksud baikku.
"Aku takut Ghifar tak setia. Dia muda, dia kaya, aku takut dia diambil orang." mungkin ini penjabaran tentang rasa cemburu yang Kinasya miliki.
"Tapi bukan kek gitu caranya, Kin. Papah Adi tunduk ke mamah Dinda, bukan karena kekasaran mamah Dinda. Bukan juga surat kuasa yang mamah Dinda genggam. Cara biar laki-laki mempertahankan kita itu, dengan cara kita bisa jadi yang kek dia mau. Aku pengalaman tentang ini, aku pun pernah menyesal soal ini. Mas Givan, dulu nuntut aku aktif untuk masalah ranjang." aku menjeda ucapanku, dengan tanda petik yang aku buat dengan jariku.
Lalu aku menghela nafas panjang, "Aku kurang bisa nyenengin masalah ranjangnya. Aku selalu tak mau untuk ganti-ganti gaya, aku selalu nolak buat coba hal baru. Mas Givan diam setelah itu, dia tak pernah nuntut aku sesuai fantasinya. Sampai muncul tragedi reuni itu datang, terus rumah tangga aku berantakan. Di pernikahan kedua aku. Aku sadar kesalahan aku dulu, aku nurutin semua gaya yang suami kedua aku mau. Masalahnya satu, suami kedua aku gila harta, sedangkan aku sekarang orang tak punya." suaraku menurun.
Jujur, aku masih saki hati jika teringat tentang bang Daeng.
Saat masa kelam dengan mas Givan sudah aku terima dengan lapang dada. Malah masalah dari bang Daeng, yang membuat lukaku semakin melebar.
"Tapi... Aku ngerasanya udah muasin dia di ranjang. Ya memang, tak selalu di ranjang."
Aku malah tertawa lepas.
Ya ampun, Kinasya.
"Ihh, kok ketawa?" Kinasya mengguncangkan lenganku.
Kinasya pun kini ikut menyuarakan tawanya.
"Berarti bukan soal adegan itu berarti. Ghifar pengen kau kek temannya, bisa diajak bergurau." terangku kemudian.
Kinasya manggut-manggut, "Makasih ya? Aku coba nanti." ia begitu cantik jika tersenyum seperti ini.
"Eh, bang Daeng itu nama suami kedua kau ya?" lanjutnya kemudian.
"Namanya Lendra, bang Daeng itu panggilan kesayangan aku buat dia. Dia minta dipanggil daeng, tapi aku udah biasa panggil dia Bang. Daeng itu artinya abang, kalau dalam bahasa Makassar." jelasku padanya.
"CANDA!!!! ASTAGHFIRULLAH!!!! DIPANGGIL-PANGGIL TUH!"
"Owaa....."
"Ngeeeng......"
__ADS_1
Dua bayi ini langsung menangis sesuai kebiasaan mereka. Owa adalah bayi Zio, jika ngeng adalah Kaf. Ia suka main balap, dari cara menangisnya.
"Ya, Mah." aku langsung mengambil alih Zio, lalu keluar dari kamar Kinasya.
Jika mamah Dinda sudah berteriak, artinya ia bukan cuma sekali ia memanggilku.
"Dianterin Ghifar tuh, cepet! Belikan itu sufor buat dua anak itu." aku mengangguk cepat, dengan berjalan di belakang beliau.
"Givan kek kurang waras, Nadya kek tak punya otak. Gemes-gemes betul sama dua manusia itu. Heran, hidup harus disumpal aja. Kenapa pulak itu anak laki-laki jadi kek gitu, pengen aku lebur jadi air lagi aja rasanya." mamah Dinda tengah menggerutu hebat.
"Bantu urus dulu itu dua anak terlantar itu. Mamah udah telpon neneknya, suruh jemput itu cucu-cucunya."
"Mamah kan neneknya juga." sahutku sambil mengikuti langkah kakinya.
"Neneknya, neneknya gimana?! Menantu tak ada adab, ngapain dianggap cucu?!"
"Dah tuh! Ghifar udah di motor. Biar Mamah yang urus Kin, kalau dia sampai ngamuk." mamah Dinda memberiku dua ratus ribu uang.
"Beli apa, Mah?" tanyaku kemudian.
"Ish, sufor buat Zio sama Ziyan lah. Ziyan pakai V*doran katanya." mamah Dinda menepuk pundakku.
"Mah, aku mau tancap sunscreen dulu." aku berbalik badan, hendak naik kembali ke tangga.
"Pakailah kau helm sana! Sunscreen! Sunscreen! Udah cepat sana berangkat!!!"
Aku langsung berlalu dengan terkekeh geli.
Pakai helm dikata.
Okelah.
"Far... Minta tolong anterin ke minimarket." aku berjalan mendekati Ghifar.
Ghifar menoleh padaku, senyumnya begitu merekah.
"Oke, nanti mampir ya?"
__ADS_1
...****************...
Mampir-mampir 😑 kemarin ke tengah ladang sama Givan 😝