Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD251. Sepuluh anak


__ADS_3

"Belum. Memang gimana, Mah?" aku kebingungan di sini.


Beliau tersenyum, "Nanti tinggal di sini aja ya? Kau, anak-anak, ibu kau sama adik kau juga. Terus, Mamah harap kau tak ikut KB. Mamah pengen cucu yang banyak. Mamah pengen kek Dinda, anak banyak, cucu banyak, rumah ramai."


Pernikahan dan memiliki anak adalah suatu kepastian. Tapi, jika ia menuntut aku terus beranak sepertinya aku keberatan. Aku ingin memiliki jeda, di mana aku fokus ke anakku yang kecil terlebih dahulu.


"Jaman sekarang bisa bayi tabung juga, Mah. Sekali hamil, kadang melahirkan empat anak sekaligus." tambah Raka yang membuat suasana hatiku memburuk.


Aku hanya terdiam, dengan menggigit bibir bawahku. Aku ingin terlihat sopan, di depan mata ibu Trisnawati ini. Aku tak mau mamah Dinda mendapat cap, bahwa mantan menantu pilihannya tidak sopan.


"Tak apa ya, Canda? Banyak anak, banyak rejeki. Biar Mamah tak kesepian lagi, rumah jadi ramai. Minimal sepuluh anak dari kau sama Raka."


Aku hanya mengangguk samar, menanggapi obrolan tentang jumlah anak yang direncanakan. Minimal sepuluh dikata.


Aku takut, malah umurku tak panjang.


Bukan aku tak menginginkan, memiliki keluarga besar. Hanya saja, aku merasa keberatan jika terus-terusan dibuat mengandung. Aku adalah Canda si Snow White ketika mengandung. Aku takut anak-anakku tak terurus, masa aku hamil nanti.


Karena, siapa tahu Raka adalah laki-laki yang memiliki pendirian seperti mas Givan. Seorang ayah tugasnya adalah bekerja, mencari nafkah, bukan mengurus rumah tangga.


"Ka... Adik aku ngechat terus. Keknya dia keteteran ngurus toko. Tolong anterin aku pulang ya?"


Aku menjeda obrolan kami.


Sebenarnya, aku hanya beralasan saja. Ria hanya bertanya di mana aku menyimpan uang receh, karena ia butuh untuk kembalian pembeli.


"Belum juga makan siang, Canda. Yakin udah mau pulang aja?" sahut Raka kemudian.


"Barangkali Canda pengen makan siang romantis sama kau, Ka." tutur ibu Trisnawati dengan tertawa kecil.


Big no.


Romantis adalah di mana si laki-laki memberikan emas batangan. Menyerahkan semua uang gajinya, atau memberiku tas mahal.


Memang makanan apa yang dimakan? Sampai-sampai dibilang makan siang romantis. Ada anak seperti ini, apa lagi dua, makan siang pun yang penting kenyang dan cepat sebelum anak mengamuk.


Jika aku ingin makan dengan hikmat. Aku akan menitipkan Chandra pada Kin, lalu aku melempar Ceysa pada mamah Dinda. Saat itu pun, aku bisa makan dengan puas dan santai.


"Pulang, Biyung." Chandra menggaruk kepala botaknya.

__ADS_1


Pas sekali, Chandra bisa diajak kompromi. Ia adalah anak, yang tidak betah di tempat baru.


"Yuk, Dek. Pulang." aku mengulurkan kedua tanganku pada Ceysa.


Ceysa menunjukkan enam giginya. Lalu ia langsung berlari ke arahku.


Ketimbang Jasmine, Ceysa lebih dominan manggenya. Padahal ia anak perempuan. Ia jadi terus diejek mamah Dinda, bahwa Ceysa jelek karena mirip dengan bang Daeng. Memang sih, hanya meledek bergurau.


Tapi papah Adi yang tukang tersinggung, langsung mengatakan bahwa Giska pun jelek karena mirip dirinya. Begitu seterusnya, sampai pertempuran terjadi.


"Pamit dulu, Mah." aku langsung berpamitan, kala anak-anakku sudah berada di dekapanku.


"Ya, Canda. Ati-ati ya? Lapor aja ke Dinda, kalau Raka nakal di jalan." beliau mencoba bergurau.


Tanpa diminta pun, aku pasti akan mengadukan semuanya. Biar saja perjodohan ini tidak jadi.


Memang aku dikira apa?


Harus mencetak banyak anak, sampai minimal sepuluh. Aku paham mereka tidak sedang bergurau, mereka benar-benar serius masalah anak itu. Mungkin karena ibu Trisnawati hanya memiliki seorang anak, membuatnya kini termotivasi agar anaknya memiliki banyak anak.


Kami sudah sampai di mobil. Aku memilih duduk di bangku belakang lagi bersama Chandra yang sangar itu. Biar saja Raka ilfeel denganku. Semoga ia mundur sendiri, dari perjodohan ini.


"Aku punya sariawan soalnya." ini hanya alibiku saja.


"Kau belum pernah makan apa? Makan sama aku ya kali ini, biar berkesan. Kau makan makanan yang belum pernah kau makan, dengan orang baru." kendaraan ini mulai berjalan.


Aku tertuju pada nasi goreng seafood yang Ghifar makan bersamaku di hotel. Itu adalah pengalaman pertama Ghifar, makan nasi goreng seafood. Ia melakukan hal itu bersamaku, dengan orang di masa lalunya ini.


Mengenai kehamilan Kin masa itu. Ia mendapat kemalangan. Ia keguguran, di usia kandungan dua bulan. Sampai sekarang, Kin belum hamil kembali padahal ia tidak menggunakan KB.


Ghifar tetap memiliki dua anak sampai sekarang.


Berbeda dengan Ghavi, yang sudah beranak pinak begitu subur. Ia memiliki lima orang anak untuk sekarang. Aksa, Ghofar dan Ghofur, Aruna, kemudian yang terakhir adalah Athaya.


Ghifar mulai tentram dengan istrinya, sekarang tinggal Ghavi. Mungkin Tika menyadari, bahwa suaminya memang belum mengenal cinta. Tika mengeluhkan pada mamah Dinda, bahwa Ghavi kini benar-benar hanya mengejar dunia. Saat jauh pun, Ghavi hanya mengabarinya sekali ataupun dua kali.


Aku teringat bang Daeng, jika ada laki-laki yang terlalu mengejar dunia seperti itu. Ghavi pun seperti bang Daeng, ia meratukan istrinya. Tapi entah jika perasaan. Mungkin, ini yang belum pernah terungkap mendalam.


"Canda... Kau mau beli apa? Aku tak enak, bawa-bawa kau, tapi tak kasih bawaan buat kau."

__ADS_1


Aku memperhatikan wajah Raka dari samping, ia tengah fokus mengemudi. Oh iya, aku melupakan sesuatu. Yaitu tentang ayahnya Raka.


"Ayah kau ke mana, Ka?" tanyaku kemudian.


Ia menoleh ke spion tengahnya, "Udah meninggal, sejak aku kecil. Tapi memang mamah tak pernah mau nikah lagi."


Oh, pantas saja ia seorang anak tunggal.


"Jadi, mau beli apa?" tanyanya kemudian.


Ini kesempatanku untuk membuatnya semakin ilfeel.


"Lapis Surabaya, ibu doyan tuh. Martabak Red Velvet pun, doyan juga. Ria suka yang gurih-gurih. Chic-Chic, martabak telur, yang gitu-gitu deh. Aku mau pizza, salak pliek, salak super tebai. Buat anak-anak, Chic-Chic yang kulit ayam itu. Ciki-cikian minimarket." aku kurang tahu nama makanannya. Jika aku mau, aku tinggal beli tanpa memikirkan namanya.


"Okeh siap. Kita cari satu-satu ya?"


"Tapi keknya kau aja deh, Ka. Ceysa tidur, dia suka rewel kalau nanti aku ganggu posisi nyamannya." pasti Raka geram padaku.


"Okeh." hanya itu yang keluar dari mulut Raka.


Aku pun ikut memejamkan mata. Biar saja ia mengemudi sendirian tanpa teman mengobrol. Aku harus membuatnya benar-benar mundur dariku.


Karena, aku tak kuasa menolaknya. Bukan karena, aku sudah naksir padanya. Hanya saja, ini tentang mamah Dinda dan papah Adi.


Beliau memilihkan pun, sepertinya memang dia yang pantas. Hanya saja, masalah ini tentang anak-anak yang ia tuntut. Aku tak sanggup, jika memang harus memberinya minimal sepuluh anak.


Meski aku hanya diminta menambahkan delapan anak lagi. Tapi sepertinya, itu bukan pilihan yang bagus.


Tak apa jika mengadopsi anak. Aku tinggal membesarkan dan berperan sebagai ibu yang baik saja.


Hamil dan melahirkan, bukan perkara hal yang mudah.


...****************...


Bagaimana pendapat kalian tentang sepuluh anak?


Ngomong-ngomong, jumlah anak kalian berapa?


Terus benarkah, kalau banyak anak, tua nanti kita tak kesepian?

__ADS_1


Keknya gak menjamin deh, itu menurutku.


__ADS_2