
"Ya intinya, mamah tuh udah mulai curiga sama Papah. Paham, sadar punya kesalahan. Tapi, Bilqis ini ngancem Papah untuk tuntut Papah. Karena seolah memperkosa. Belum lagi, dia tambahkan mau nembusin ke mamah katanya. Dengan tidak mendengar berita yang jelas aja, sikap mamah kau udah begitu. Apalagi, mulut Papah buka suara. Atau, ia dengar dari orang. Keknya, satu kabupaten diracun tikus sama dia."
Oh, papah memilih bungkam karena paham sepak terjang mamah.
"Terus gimana lagi, Pah?" aku sesekali menoleh ke arah anak-anak, yang beralih memainkan mobil-mobilan kecil yang jumlahnya amat banyak. Entah itu sekutu apa, entah Israel tau Filipina.
Eh, yang tengah perang itu negara apa? Perasaan bukan Israel dan Filipina. Kenapa aku menyebutnya Israel dan Filipina? Aku jadi bingung.
"Jadi Papah kek dikendalikan Bilqis itu. Anter dia ke sini, anter dia ke sana. Digandengnya dibawa ke hajatan, minta ditemani untuk pemotretan. Jadi kek, kabar Papah selingkuh itu benar nyata. Padahal, tak benar-benar selingkuh Papah."
Tapi menurutku sudah fatal, Pah.
"Heran aja aku sama Papah, kok segala nyicipin." aku geleng-geleng kepala.
"Karena penasaran. Tertariknya Papah, cuma sebatas penasaran. Laki-laki yang punya istri, terus selingkuh sama istri orang. Itu semata-mata karena penasaran aja loh, Dek. Dia penasaran, karena nampak di matanya istri tetangga lebih indah."
Aku melirik beliau, "Bahkan ketika Papah mengawini seluruh perempuan yang ada di muka bumi. Papah bakal merasa, bahwa an*ing lebih menarik dari seluruh wanita yang ada di genggaman Papah."
Ini ada hadistnya, hanya saja aku lupa. Aku lama tidak belajar, otakku benar-benar sudah tumpul sekarang.
Papah Adi mengangguk, "Kau benar, Dek." sahutnya kemudian.
Aku terdiam, aku cukup terpukul dengan kenyataan ini.
"Makanya Papah diam, tak berusaha terlalu banyak untuk bareng sama mamah lagi. Karena Papah merasa bersalah, jadi berpisah mungkin lebih baik. Bukan karena Papah pengen nikah lagi, Papah bahkan udah ganti nomer dan tak punya kontak Bilqis dan orang studio dari sana lagi. Tapi Papah merasa, bahwa ini hukumannya. Dulu, Papah berusaha setengah mati untuk perjuangan rumah tangga Papah dengan mamah waktu masih siri dan Papah punya istri sah. Papah berjuang, karena Papah merasa melakukan hal yang benar, Papah juga tidak mengkhianati mamah seperti hari kemarin. Papah tidak bersalah, dalam kasus poligami kemarin. Makanya Papah sekuat tenaga, coba pertahanan rumah tangga. Kalau sekarang, kan kesalahan ada di diri Papah. Tidak berpikir bahwa mamah sesuci itu dan Papah masih ada hak, karena merasa Papah pantas mamah tinggalkan."
Aku menyimak dengan perlahan. Ini sudut pandang yang berbeda. Mamah dengan kepasrahannya, dengan papah yang merasa bersalah. Jika sudah begini, mau gimana lagi coba?
"Tapi Papah udah tua, Pah. Masa mau cer...."
Papah langsung memangkas ucapanku, "Tau, kalau Papah udah tua. Tapi mau gimana coba, Dek? Toh, saat bau bangkai juga tetangga pasti cari di mana letak bangkainya. Tak mungkin Papah mati, terus tak ada yang menguburkan."
Jika mas Givan yang berbicara seperti ini, aku akan menepuk mulutnya. Biar saja, aku akhirnya dimarahinya karena telah menepuk mulutnya. Yang penting, ia jangan berbicara jelek.
"Pah, coba lah cari solusi lain. Jadi duda tua bukan pilihan yang bagus." aku menggoyangkan lengan beliau.
"Ada, tapi Papah takut." papah Adi memijat pelipisnya.
"Apa itu, Pah?" aku semakin penasaran.
__ADS_1
"Papah jujur, dengan mohon maklum dari mamah. Tapi, itu minim diterima mamah. Papah pun, ragu kalau mamah bisa maafin papah."
Aku pun ragu dengan cara yang satu ini.
Motor berwarna hitam itu tiba-tiba muncul dari gang depan. Buyar sudah, pasti papah Adi sulit diminta bercerita lagi.
"Katanya Papah kerja?" tanya mas Givan, dengan menurunkan standar motornya.
Ia berjalan ke arah teras tangga.
"Ya, Van." jawab papah Adi.
Tumben mas Givan tidak langsung meletup-letup.
"Tak usah kerja lah, nih pegang uang ini." mas Givan mengeluarkan uang dari sakunya, "Biar apa kerja? Kek tak punya anak aja." lanjutnya dengan wajah kecut.
Mas Givan menaruh uang tersebut di saku yang berada di baju papah Adi yang memiliki kerah ini. Ada tiga kancing, di bawah kerah baju tersebut. Namun, di bagian bawahnya seperti kaos.
"Kau punya kewajiban ke anak istri kau, anak-anak yang lain pun sama. Kau aja bebasin mamah kau kerja, tapi ke Papah kau ngomong gitu." papah Adi merogoh kantongnya.
Mas Givan memasang telapak tangannya di depan tubuhnya, "Udah pegang aja."
"Ayah.... Enak." Ceysa menunjukkan kue yang berwarna kuning itu.
"Wah, apa nih?" mas Givan berjongkok dan membuka mulutnya.
Ia duduk berjongkok di depanku. Sedangkan aku duduk di kursi bersama papah Adi.
"Belum makan ya, Mas?" aku memperhatikannya dari samping.
Mulutnya mengunyah, dengan menoleh ke arahku.
"Udah siang sih." sahutnya kemudian.
Ia melepaskan Ceysa, yang tadi berada di dekapannya. Ceysa kembali pada teman bermainnya, yang tengah memotong-motong sayuran dan buah mainan yang memiliki perekat. Mereka tengah bermain masak-masakkan sekarang. Seingatku, ini adalah mainan Ceysa saat manggenya wafat.
"Pah, nanti minta tanda tangan untuk surat pernyataan cerai." ucap mas Givan, setelah ia duduk dengan berselonjor kaki.
"Lewat sidang?" tanya papah Adi.
__ADS_1
"Aku dulu tak lewat sidang, Mas." timpalku kemudian.
"Itu gugatan, ini kek kesepakatan. Jadi kedua belah pihak, saling menyetujui. Aku sengaja ambil pernyataan cerai aja, biar masing-masing pihak bisa berpikir dulu."
Oh, secara tidak langsung mas Givan memberi mamah Dinda dan papah Adi kesempatan untuk bermeditasi. Eh, mediasi ya sepertinya? Meditasi sih semacam bertapa.
"Menurut kau?"
Mas Givan memperhatikan papah Adi, "Kalau dilihat dari sisi laki-laki, mungkin terus mengulur. Kalau dilihat dari sisi perempuan, percepat agar dia bisa bahagia dengan pilihannya. Tergantung pilihan Papah aja. Masalah mamah kerja, karena mamah bakal sakit kalau terus di rumah dan meratapi. Tapi dengan beliau keluyuran, ya beliau bisa memanage pikirannya sendiri. Yang penting kan, mamah bukan keluyuran yang bagaimana. Aku tau mamah bijak dalam langkahnya." mas Givan sambil memijat kakinya sendiri.
"Mamah kau tak apa kah, kalau tanpa Papah?"
Pertanyaan itu, begitu menyentuh hati. Kekhawatiran begitu tersirat di sana.
"Ya sejauh ini sih tak apa." mas Givan hanya memberikan kalimat penenang.
"Kau yakin? Kau tak tau isi hati ibu kau, Van."
Memang mas Givan tidak tahu, tapi aku tahu itu. Ya menurut ucapan mamah Dinda sendiri, beliau sudah biasa saja pada papah Adi. Namun, perhatian kecil yang diberikannya pada papah Adi. Cukup membuatku mengerti bahwa papah Adi cukup berarti untuk mamah Dinda.
"Buktinya cerai sama papah Hendra aja, mamah masih bernapas dan berkembang biak."
Contoh yang sangat sederhana, yang mas Givan berikan.
"Mamah kau sekarang udah tua, Van. Dia tak mungkin terus-terusan hidup bolak-balik di jalan begini." papah memperhatikan mas Givan yang memperhatikan anak-anak itu.
Untungnya, Fandi anteng di dekapanku. Ia tidak seperti kakaknya yang lincah bergerak. Lehernya saja yang senantiasa menoleh ke kiri dan ke kanan.
"Terus mau Papah gimana? Papah yang cari nafkah begitu? Dengan keadaannya yang tidak lebih baik dari mamah juga. Papah tuh aslinya mau cerai tak? Jangan seolah, kek mempersulit gitu lah. Gimana mamah nanti, itu apa kata nanti." alis mas Givan menyatu.
Fandi yang malah merengek, mendengar suara tegas mas Givan.
Mas Givan mengambil alih Fandi. Ia menimang dan mengayunkan tubuhnya.
"Apa mungkin, Papah perlu coba cara terakhir yang Papah sebutkan tadi. Sebelum, Papah bener-bener mutusin bercerai?" aku menoleh ke arah papah Adi.
Namun, papah Adi kini saling melempar pandangan dengan mas Givan.
...****************...
__ADS_1