
"Lagi manggung, Bang. Ada apa?"
Terdengar suara musik bergenre pop reggae, di sela suara kak Anisa.
"Chandra ilang, ibunya nangis nih." bang Dendi duduk di teras, aku pun mengikutinya.
Aku duduk di sampingnya, sembari mendengarkan panggilan telepon yang dispeaker.
"Dih, gimana sih? Memang tadi ke mana? Ilang di jalan atau gimana?" dari suaranya, kak Anisa terdengar begitu panik.
"Tadi lagi tidur, Kak. Terus pas aku bangun, Chandra udah ilang." aku menjelaskan kejadian yang aku alami.
"Ke kamar mandi kali, atau cari di lemari. Lemarinya pendek, mana tau dia mainan di dalam lemari. Soalnya yang bagian paling bawah itu kosong."
Tanpa menjawab, aku langsung berlari ke kamar kos kak Anisa. Aku segera mengecek pintu lemari plastik yang setengah terbuka tersebut.
Hatiku mencelos.
Lemari bagian bawah ini memang kosong melompong. Tak ada Chandra bersembunyi di sini.
"Dek... Tuh..."
Aku begitu semangat berbalik badan, kala mendengar seruan bang Dendi.
Alhamdulillah.
Aku langsung memeluk Chandra yang masih berada di gendongan seseorang.
Aku terisak-isak begitu puas. Hatiku lega, bercampur dengan bersalah. Karena aku teledor menjaganya, aku asik pulas dalam tidurku saja.
"Hustttt... Baru ditalak." suara lirih bang Dendi.
"Ohh, bilang lah." sahut si pelaku yang membawa anakku.
Lalu mereka tertawa puas, dengan bang Lendra yang masih kuat menggendong anakku.
"Bang Lendra tak sopan sih! Main bawa-bawa Chandra aja!" ketusku dengan memaksa mengambil alih Chandra dari dekapannya.
"Kau lebih gak sopan, main peluk-peluk aja! Bujang ammak aku nih." ia merapihkan kemejanya sendiri, tepatnya di bagian lengannya. Dengan memasang wajah sombong, layaknya aku tengah merugikannya.
"Bujang apa tiga puluh tahun?" ucapan bang Dendi, lebih terdengar seperti mengolok bang Lendra.
"Bujang ting-ting." bang Lendra menggoyangkan pinggulnya ke arah kanan dua kali.
Entahlah, aku berbalik badan untuk duduk di depan teras kos kak Anisa saja. Ketimbang meladeni gurauan para pemuda, yang mengklaim bahwa dirinya bujang itu.
"Dah ya? Lain kali ketok dulu, lagi ada tamu nih." bang Dendi berjalan melewatiku.
"Ya, Bang." aku pun merasa tak enak hati, telah mengganggunya secara tidak sopan.
"Dah ya? Lain kali kalau anak nangis, bangun ya? Biar tak main peluk bujang orang aja, jaga jarak nih Dek Sis. Suaminya jemput nanti, amsyong gue disalahkan, dikiranya rajin transfer lagi." ia ngeloyor masuk ke dalam kos kak Anisa.
Hei, dia punya kamar kos sendiri.
__ADS_1
Huh!!! Kesal sekali aku pada bang Lendra ini.
Aku fokus memandang Chandra, melupakan bualan bang Lendra itu. Apa maksudnya membawa Chandra pergi? Jika memang aku tidak mendengar tangis Chandra, lebih baik ia membangunkanku. Bukan malah membawa Chandra pergi.
Kalau sudah begini, kan dosa aku yang bertambah banyak. Karena malah menuduh orang-orang yang baik padaku.
"Kau dari mana, Nak?" aku mencium pucuk kepalanya sekilas.
Chandra hanya senyum-senyum, lalu ia bertepuk sendiri.
Ia punya dunianya sendiri.
"Diem aja, Chandra dari mana?" aku memang suka mengajak Chandra berdialog.
"Abis beli obat di apotek, Biyung. Terus mampir ke A*fa, beli k*ndom rasa durian, sama beli tisu buat lap ingus. Balik deh, bawa makanan, tapi ketinggalan di mobil."
Dia berisik sekali!
Tentu saja itu bukan Chandra yang menjawab.
Aku membuang nafasku, lalu aku bangkit dari dudukku.
"Dicari kuncinya tuh, Bang! Aku tak enak di ruangan sama laki-laki." ungkapku dari ambang pintu.
Tak betul laki-laki ini.
Aku kira ia tengah melihat film action atau semacamnya dalam ponselnya, ternyata malah memutar koleksi film dewasa.
Jelas aku melihatnya, karena posisi kepalanya dekat dengan pintu kos ini.
"Aku mau aktivitas jadi bingung, Bang." aku melangkah masuk, berjalan menuju dapur dengan Chandra di dalam dekapanku.
"Hei... Kau lagi masa idda kah? Kenapa malah ke tempat Enis? Di sini basecamp kita. Heran gue, sama Enis ini. Orang tua aja, dia larang buat datang ke sini. Ehh, malah saudaranya dipersilahkan. Sama aja bohong, nanti orang tuanya bakal tau karena laporan dari kau Dek." jika diajak berdialog, ia sering melenceng.
Apa ia sehat?
Maksudku, apa ia tidak dalam pengaruh obat?
Atau memang ia tidak ingin membahas hal itu terlalu jauh. Maka dari itu, ia berinisiatif untuk membuka obrolan lain.
"Aku bukan saudaranya. Kak Anisa cuma kasian sama Chandra, karena jam sebelas malam dia masih di terminal sama aku."
Aku sudah duduk tepat di pintu. Aku tengah mengaduk bubur bayi, aku berniat menyuapi Chandra makan.
Aku pura-pura tidak melihat, saat bang Lendra tengah menatapku begitu intens.
"Ck...." ia mengubah posisinya menjadi telungkup, dengan wajah menghadap Chandra.
"Curiga minggat, meski ngaku ditalak. Logikanya... Laki-laki nalak itu, berkewajiban mengantarkan ke orang tua pihak perempuan kembali. Itu setau aku, bukannya malah balik sendiri luntang-lantung di terminal. Gak semua orang itu baik loh, Dek. Gak semua orang itu punya belas kasih yang lapang. Kadang, ada maksud dan tujuan tertentu. Namanya orang, tuh ya orang. Bukan malaikat, bukan Tuhan. Mereka ada kadar kemanusiaan yang wajar, mereka juga memiliki kadar kurang ajarnya juga. Meski tempat tinggal orang bersangkutan itu dari tempat yang agamanya ok lah, itu gak bisa ngejamin Dek. Enis lagi kau percaya!" ia geleng-geleng kepala.
Memang ada apa dengan kak Anisa?
"Kenapa memang kak Anisa?" tanyaku kemudian.
__ADS_1
"Penyanyi itu buat kamuflasenya aja. Seminggu aja di sini, kau pasti paham dia ini apa."
Aku terdiam menyimak.
Benarkah?
Prostitusi kah?
Tapi, bukannya itu bukan urusanku. Selagi aku tidak diajaknya menyelami dunianya itu.
"Uang halal, dia kirimkan. Uang halal, ya yang kau makan itu lah."
Aku masih terdiam, menantikan kata demi kata dari laki-laki bermulut ember ini.
"Memang, halal juga. Tapi namanya laki-laki. Ada yang diminta, ketika uang diberi. Sekali sarapan seratus ribu diminta, ketemu lagi berapa ratus diminta. Itu sama aku aja, belum sama yang lain."
Maksudnya bagaimana? Kenapa ia tidak mengatakannya dengan jelas? Ini terlalu berbelit-belit menurutku.
"Tapi sama bang Dendi, dia malah ngasih makan." aku teringat, ketika makan nasi goreng itu.
Ia melirikku sekilas, kemudian mengusap sesuatu dari mulut Chandra.
"Royal orangnya. Sama, ke Abang juga begitu. Cuma apa ya??? Dibilang jual diri, enggak. Tapi.... Memang bisa diajak berhubungan." bang Lendra tidak konsisten, kadang menyebut dirinya abang. Kadang juga menyebut dirinya sebagai aku.
Ok, aku mengerti sekarang.
"Takutnya... Kau yang gak tau apa-apa. Malah kau kebawa dia, malah jadi kek dia. Kawannya banyakan laki-laki, berduit lagi. Kawan memang, tapi bisa dipakai juga, asal dimintain uangnya gampang."
Menurutku, kak Anisa ini terlibat dalam hubungan friends with benefit.
Mereka berteman, tapi dalam artian luas. Mereka saling menguntungkan satu sama lain. Bukan kekasih, tetapi bukan juga berteman wajar.
"Aku pernah denger cerita kek gitu, Bang. FWB namanya, simbiosis mutualisme. Kalau didengar dari pendapat Abang tadi, Abang adalah orang yang keberatan dengan FWB itu. Padahal, Abang diuntungkan di sini."
Telingaku pernah merekam pembahasan mamah Dinda, tentang mertuanya bang Haikal. Dalam pembicaraan mamah Dinda dan tante Shasha itu, mertuanya bang Haikal dulunya adalah FWB dari papah Adi.
Hubungan pertemanan mereka terlihat jorok menurutku. Karena, istri laki-laki bersangkutan, bekas tunangannya, bekas pacarnya, bekas FWB-nya berkumpul dalam lingkungan pertemanan.
Kadang aku memikirkan isi pikiran papah mertuaku, saat sang istri berkumpul dengan para wanita di masa lalunya itu.
"Bukan masalah di FWB-nya. Abang kasian sama kau, Dek. Kau pasti tergiur, apa lagi dengan tidak adanya suami. Wanita yang terbiasa berhubungan badan, lalu ia vakum dalam waktu yang lama. Ia akan mencari jalan keluarnya, dari rutinitas biologisnya itu. Karena, bagi mereka yang sudah terbiasa. Itu adalah kebutuhan mereka." raut wajahnya terlihat serius.
"Bukan dilihat dari kerudung kau, bukan juga dilihat dari keturunan kau. Tapi Abang paham, kau orang baik-baik. Kau polos, kau tidak paham dunia luar. Lebih baik, kau baliklah ke suami kau. Bicarakan baik-baik masalah kalian. Kasian anak, pikirkan anak. Coba kau raba isi hati kau sendiri. Coba sadari kenyataan yang ada pada diri kau, jangan balik menuntut suami yang terbaik. Dalam konteks apapun, janda baik-baik itu, janda yang ditinggal mati, bukan janda yang ke luar dari naungan suami."
Mataku berkaca-kaca, karena baru kali ini aku mendapatkan nasehat.
"Ini hanya sudut pandang aku, sebagai laki-laki yang besar di berbagai daerah. Tolong, jangan judge aku. Aku cengeng, sejak ditinggal ibu." suaranya tiba-tiba menurun.
Ia bangkit dari posisi telungkupnya, lalu ia menyatukan telapak tangannya di depan dadanya.
"Koreksi diri sendiri. Bagaimana saya, jangan bagaimana dia. Masalah apa sih yang ada pada diri saya, sampai dia demikian. Karena, di berbagai daerah pun, sesangar apapun tampang mereka. Mereka gak mungkin dadakan marah-marah sama orang yang ramah. Pasti ada alasan di balik itu semua."
...****************...
__ADS_1
Nalendra 😊
Tapi gimana sih pendapat kalian tentang Canda ini? Pantas kah dia pergi dari rumah tanpa izin seperti ini?