Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD166. Di dalam selimut


__ADS_3

"Aku sampai dibawa ke rumah sakit. Karena aku langsung tak sadar, pas tulang pinggul kena pukul gagang sapu. Gagang sapunya, malah sampai patah loh Dek. Kin kalap, minta mamah buat bawa aku ke rumah sakit. Sadar aku, ada mamah di sisi aku. Aku tanya ke mamah. Kin malah kasih penjelasan bohong sama mamah, dia bilang kalau aku mau jatuh terus kepentok kena sapu di sudut ruangan. Aku diam, aku tak kasih tau mamah kalau aku dipukul Kin. Sampai di X-ray, takut tulangnya kenapa-kenapa. Alhamdulillah, tak apa, tapi wajib minum obat sampai sekarang. Ini kejadiannya, pas Kaf kena diare itu."


Aku tidak percaya, Kin bisa semengerikan itu.


"Far... Jujur, aku tak percaya. Itu gara-garanya apa sih? Kok Kin bisa sekejam itu?" tanyaku kemudian.


Ghifar menghela nafasnya, "Tak percaya pun, tak apa. Aku bukan lagi nyari belas kasih kau, aku bukan pengarang buku kek mamah. Yang gagang sapu itu, gara-gara ada telepon masuk dari Novi. Novi kan sekarang gantiin posisi aku di pabrik kopi. Novi itu, anaknya om Edi. Sebelumnya, mungkin aku belum cerita ke Kin. Tapi Kin juga, tak sepantasnya mukul suami tak tau kira gitu. Kadang aku mikir, apa sih Kin memang tak pengen punya suami lagi." ujar Ghifar dengan meluruskan kembali pandangannya ke plafon kamar.


"Tunggu deh, Far. Keknya ada yang ganjal." aku memikirkan setiap ucapan Ghifar.


"Apa.... Novi sebelumnya pernah bikin kau renggaang sama Kin? Maksudnya, bikin Kin cemburu gitu?" tanyaku ragu.


"Heh, Dek. Sama Ahya aja Kin cemburu, apa lagi modelan Turki kek Novi. Kawan SD lewat, nyapa dia. Udah tuh, ngamuk Kin. Apa lagi kalau yang nyapanya lebih cantik dari dia. Udah gaplok-gaplok aja itu tangan."

__ADS_1


Oh, iya. Aku lupa, bahwa Kin adalah pencemburu besar.


"Bingung." aku tidak tahu harus menimpali apa.


"Apa lagi aku, bingung ngatasinnya. Salah terus, udah nyerah sendiri. Coba nanti setelah ketemu, dia nanti gimana tanggapannya." Ghifar bangkit, lalu menaruh bantalnya di dekatku.


Tanpa aku duga, tangannya melingkar di atas perutku.


"Kapan kita terakhir kelonan?" tanyanya kemudian.


"Mana pernah!" elakku cepat.


"Pernah, pas abis nonton film dewasa itu. Kau nyusulin aku ke ruang tengah, kau ngusel-ngusel di ketiak aku. Mas Ghifar, Mas... Maaf, aku harus gimana lagi nih? Iya aku diem, aku mau kok." Ghifar menirukan suara merengekku.

__ADS_1


Aku tertawa malu, lalu aku menutup wajahku sendiri.


"Bodoh! Bodoh! Ada lagi perempuan menyerahkan diri." ia mengacak-acak rambutku.


"Aku dulu takut ditinggal." jawabku dengan tertawa malu.


Aku dulu sebodoh itu padanya. Aku rela Ghifar apakan, asalkan aku tak ditinggal olehnya. Namun, saat itu hanya sampai kami tertidur pulas dengan posisi saling memeluk di atas karpet ruang televisi.


Ya, saat aku merengek padanya. Membuat kami sama-sama nyaman di dalam satu bantal yang sama. Hanya sebatas itu, tanpa perlakuan lebih darinya.


"Coba sekarang minta lagi, nanti beneran aku tak bakal ditinggalin." ia tiba-tiba mengurungku dengan selimut yang menutupi kami.


Ghifar membawaku bersembunyi di balik selimut, dengan melakukan kegiatan yang tidak pantas ini. Melawan pun apa daya, tenagaku tak sebanding dengan ego Ghifar saat ini. Sampai aku pun tak menduga, bahwa Ghifar kini....

__ADS_1


...****************...


Ngapain???? 😳😳😳


__ADS_2