Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD392. Alasan dan bukti


__ADS_3

"Kau tak paham, Canda." mamah Dinda menggeleng samar.


"Memang tujuan Mamah apa, kalau bukan sengaja bikin papah mati? Dengan hantaman kuat kek gitu, bu Bilqis juga sampai retak tulang tengkorak. Rahang geser, belum luka penyerta lainnya." aku akan mencoba memojokkan mamah Dinda.


Agar motifnya mencelakai suaminya sendiri, akan terungkap.


"Mamah cuma buat perhitungan. Mamah yakin, orang bersangkutan tak akan meninggal. Mamah tau kira-kira, Mamah tak mungkin salah perhitungan. Buktinya, Mamah aja utuh tak ada luka apapun. Mamah juga di situ yang panggilkan ambulance, Mamah tak benar-benar pengen bunuh papah." mamah Dinda menatapku dengan bulu mata yang basah.


Secantik ini loh istrimu, Pah. Apa perkara bosan, buat papah jadi berpaling ke lain hati?


Aku tidak mengerti isi hati ibu dan ayah mertuaku sekarang.


"Kenapa dengan cara yang kek gitu? Papah kan ada di rumah terus. Mamah bisa kasih perhitungan di rumah aja. Kan kita jadi bingung jawab pertanyaan tetangga dan pak RT. Belum lagi kerabat yang berkunjung, terus nanyain ceritanya gimana. Nama keluarga kita jadi jelek, terutama Mamah." benar tidak ya aku berucap?


"Karena menuduh tanpa bukti yang jelas itu, cuma bikin kita semakin berdosa ke suami. Dengan Mamah kasih perhitungan langsung ke papah. Kan ada buktinya juga, kalau memang papah benar salah. Dia benar sama perempuan, yang sering jadi bahan kita berantem kemarin. Tanpa Mamah ngomong dan maki panjang lebar, papah pasti paham kesalahannya."


Benar juga sih.


Katakanlah papah tertangkap basah. Mamah pun bertindak demikian, karena papah membawa perempuan lain di mobil. Perempuan yang sering bikin mereka adu mulut. Laki-laki pasti mengelak, ketika dituduh. Namun, jika langsung dihantam dengan bukti perempuannya ada. Mereka tidak bisa mengelak lagi. Jika laki-laki yang waras, ia akan merasa bersalah. Masuk akal juga. Kalian bisa belajar ya, ibu-ibu.


"Sefatal itu kah, Mah? Memang kesalahan papah tak bisa dimaafkan kah? Mamah sama papah udah tua. Udah waktunya tentram di rumah, nemenin cucunya main. Bukan pisah-pisah kek gini." aku memeluk mamah Dinda.


Mamah Dinda mengusap tanganku yang memeluknya, "Waktu sama tante Maya aja, papah tak berani begitu dalam nyakitin Mamah. Dengan dia milih sembunyi-sembunyi dari Mamah, kasih alasan ke Mamah biar bisa jalan sama itu perempuan. Detik itu juga, Mamah udah tak nyaman hidup bersama. Tiap bulan Mamah cek kesehatan, takut tertular dari perempuan itu. Mau nolak suami, dosa udah menggunung aja. Sedangkan, surga istri ada di telapak kaki suami. Mamah dibuat serba salah dan terus-terusan berdosa kalau gitu." mamah Dinda terisak lirih.


Seiring tarikan air hidungnya, mamah Dinda mengusap air matanya. Aku hanya bisa bersandar di bahunya, dengan mengusap-usap lengan mamah Dinda. Aku mengerti berada di posisi mamah.

__ADS_1


"Udah mending misal pisah gitu, ya pisah sekalian. Enam bulan Mamah tak pulang ke rumah, papah udah bisa bebas tuh cari istri lain. Apalagi misal Mamah dipenjara, itu lebih gampang Mamah terima, karena menjalani masa hukuman juga." mamah Dinda melepaskan pelukanku, lalu beliau menutupi wajahnya sendiri.


Pasti mamah lelah menangis, beberapa bulan belakangan ini.


Jika mas Givan tahu ini semua. Pasti ia benar-benar membenci ayah sambungnya.


"Tapi Mamah mesti ngomong ke papah. Masalah kita selesaikan, Mah." aku mengusap punggung beliau.


Mamah Dinda menurunkan tangannya dari wajahnya, "Biar Mamah di sini. Papah juga pasti ngerti keputusan Mamah, Canda. Kalau memang rumah tangganya mau awet sampai mati itu, tak begini caranya memperlakukan istri." wajah beliau sampai begitu merah.


"Masalah belum selesai, Mah." aku tetap ingin mamah ikut dengan kami untuk pulang.


"Udah selesai. Kalau memang tak penjarakan Mamah, ya udah biar Mamah di sini. Enam bulan istri tak ada kabar dan meninggalkan rumah, itu tandanya seorang suami itu bebas menikah lagi meski belum bercerai."


"Mamah perlu ngomong sedikit sama papah." aku menarik pergelangan tangan beliau.


Mamah Dinda menggeleng, kemudian ia melepaskan cekalan tanganku pada pergelangan tangannya.


"Mamah ada di sini, kalau kau mau ketemu Mamah. Misal kau mau nginep di sini tak apa, nanti mamah tinggal hubungi Givan suruh dia jemput kau di sini." mamah Dinda bangkit dari duduknya.


"Mas Givan tak tau aku pergi cari Mamah. Hari pertama kita tau alasannya, bahwa papah kecelakaan sama perempuan lain itu. Mas Givan larang aku buat nengok papah, atau nemuin papah. Dia minta aku stay aja di rumah, Mah." aku memberitahu mamah Dinda, dengan sikap anaknya itu.


"Kok Givan begitu?"


Aku mengedikan bahuku, "Mas Givan marah besar sama papah." tambahku kemudian.

__ADS_1


"Jadi kau mau nginep, atau mau ikut rombongan pulang?" mamah Dinda duduk kembali di tepian tempat tidur, tepat di sampingku.


"Mah, aku tak tega liat kondisi papah. Ayolah kita pulang sama-sama." aku masih dalam misi membujuk mamah Dinda.


"Untuk saat ini, Mamah tak mau pulang." beliau menggeleng berulang.


"Kenapa sih, Mah? Kan papah belum tentu juga terlalu jauh, apalagi sampai berhubungan badan. Mamah kan tau, kalau sifat papah itu kuat dengan pendiriannya." aku mencoba mengorek sedikit informasi kembali.


Mamah Dinda membuang nafasnya perlahan, "Papah itu orang yang kek gitu memang. Dia bisa punya status sama si A dan mertahanin si A, tapi juga dia bisa ngejalanin hubungan sama si B. Coba tanya-tanya ke tante Shasha sama ke tante Seila. Papah itu dulu tunangannya tante Shasha, papah tak ninggalin tante Shasha, masanya dia tertarik dan dekat sama tante Seila. Itu hal yang sama yang dia lakuin hari ini, Canda. Dia pertahanin mamah, tapi dia coba jalin kedekatan dengan Bilqis itu. Tabiatnya aja ini laki-laki udah keliatan. Cuma masanya tante Maya dulu, papah sama Mamah masih pengantin baru, lagi hangat-hangatnya. Ya pantas, ia tak pindah ke lain hati. Karena Mamah barang baru untuknya. Beda tante Maya yang pernah jadi mantannya, dia udah tau rasanya. Laki-laki tuh, kalau tak pernah dibikin kapok begini. Tak akan bisa sadar, tak akan mau disalahkan, kalau belum ketauan." mamah Dinda berbicara dengan nada rendah.


Ini juga benar. Benar sekali mamah. Mamah berbicara, dengan menarik bukti dan tindakan yang ada.


"Tapi Mamah sama papah udah tua loh, Mah. Masa iya mau pisah? Secara tidak langsung, Mamah ngajarin jelek ke anak mantu." aku merasa, keputusan beliau tidak bisa diganggu kembali.


"Anak mantu juga ada otaknya. Entah kalau kau sih, ada otaknya tak. Tapi Mamah percaya, Givan berakal dan ada otaknya. Dia tak mungkin mencontoh yang salah. Apalagi, alasannya udah jelas di sini."


Aku terkekeh samar. Aku berakal dan berotak juga, cuma memang jarang malam ikan saja. Membuatku tidak secerdas mereka.


Tok, tok, tok....


Pintu kamar diketuk oleh seseorang.


...****************...


Nangis, ketawa, tegang 😆 Gitu terus ngadepin Canda 😭 Jadi merasa oon sendiri 😢 Kenapa bisa dapat karakter tokoh kek Canda 🙈

__ADS_1


__ADS_2