
...Crazy up...
"Kau ternyata udah dibolak-balik Lendra." ia berpura-pura menangis.
Aku tertawa lepas melihat aktingnya.
"Udah habis-habisan aku sama dia." aku langsung terbahak, kala matanya malah ingin lepas.
"Biarpun seminggu sekali tak nentu juga. Tapi sekalinya minta, aku udah kek adonan kue. Di mix lagi, diolahin lagi." tambahku, yang kemudian mulutku langsung dibekapnya.
"Senang kau bikin aku mendidih?!" matanya sampai melotot-melotot, dengan urat leher yang terlihat jelas.
Aku tergelak puas, meski mulutku masih dibekapnya. Ternyata, ia cemburuan juga. Setidaknya, aku tahu bagaimana ia padaku. Meski, rasa cintanya dikelabui sedemikian rupa.
Aku mencintai, laki-laki yang bisa memanusiakanku dan memberi timbal balik perasaan padaku.
"Permisi ya?" perawat muncul dengan menenteng kantong infus.
"Oh, iya. Besok operasi apa boleh bius total, Sus?" tanya mas Givan dengan memperhatikan perawat tersebut.
Perawat tersebut tersenyum ramah, "Tidak bisa, jika tidak ada indikasi masalah untuk pembiusan regional. Karena lebih aman dan minim resiko pada janin juga, jika pembiusan regional."
Pembiusan regional itu bagaimana?
"Regional itu, yang di punggung itu ya?" mas Givan sepertinya tahu pertanyaan di dalam hatiku.
"Iya betul, Pak." perawat tersebut mengatur selang infus.
Entah kenapa, perawat suka sekali membuat simpul lalu ditarik. Kan tanganku jadi nyeri.
__ADS_1
"Perbedaannya di mana, Sus?" tanya mas Givan kembali.
"Kalau pembiusan regional, Ibu tidak akan merasakan nyeri pada area operasi meskipun ibu masih sadar." perawat tersebut memperhatikanku dengan tersenyum, "Obat anestesi lokal yang dipakai pada pembiusan regional, bekerja dengan memblok aliran saraf di tingkat saraf tulang belakang saja. Disini Ibu diuntungkan, karena dapat langsung melihat bayinya dan dapat melakukan IMD, kalau kondisi ibu dan bayi memungkinkan. Selain itu pada teknik epidural, dapat dilakukan pemasangan kateter epidural yang dapat digunakan sebagai alat memasukkan obat pengurang nyeri setelah operasi dengan prinsip kerja sama seperti pembiusan regional. Hanya dengan dosis yang lebih kecil, sehingga diharapkan ibu lebih cepat bebas nyeri dan lebih cepat mobilisasi. Obat anestesi lokal yang dipakai, tidak masuk ke aliran darah plasenta sehingga tidak masuk ke janin. Itu, kalau pembiusan regional, yang di punggung itu." ia beralih menatap mas Givan, "Kalau pembiusan total, obat bius total bekerja langsung di susunan saraf pusat di otak. Kesulitan pemasangan alat bantu nafas, karena perubahan bentuk tubuh Ibu. Risiko aspirasi cairan lambung yang menyebabkan infeksi paru-paru Ibu. Risiko terjadinya gangguan nafas pada bayi, akibat penggunaan obat-obatan. Menjadi alasan mengapa pada akhirnya, pembiusan total bukan menjadi pilihan utama. Begitu, Pak?"
Panjang-panjang menjelaskan.
Kalau bius total, otaknya diistirahatkan. Membuat semua syarat di tubuh kita tidak berfungsi. Jika bius regional, syarat yang istirahat dari punggung ke bawah saja.
"Saya pernah dengar, katanya setelah obat biusnya habis pasien bakal merasakan panas dingin, nyeri sayatan. Ada tak itu, untuk meredakan rasa sakitnyanya?" apakah suamiku benar-benar tidak mau aku kesakitan?
"Nanti dikasih obat ya, Pak. Tenang aja, itu reaksi umum setelah sadar. Bahkan, kalau memang keadaannya langsung membaik. Dua atau tiga hari sudah boleh pulang." perawat tersebut melihat kami bergantian, "Saya permisi dulu." ia tersenyum ramah dan berlalu pergi.
"Nanti beli obat cina juga kalau udah di rumah, biar kau cepat pulih. Pusing betul aku, istri satu-satunya lahiran disulitkan gini. Kau punya dosa apa sih sebetulnya, Canda? Kau berani ya ke orang tua? Kau sering gerutuin suami kau ya?" ia menggerutu, tapi malah menuduhku.
"Mas aja kenapa kasih aku benih raksasa?" aku menarik hidungnya.
"Mas, lahiran normal aja aku kuat." aku mengusap ujung matanya karena basah.
"Lahiran normal, sakit kontraksinya aja. Bayi keluar, kau udah tak ngerasain sakit. Beda sesar, Canda. Sebelum lahiran, kau malah tak kesakitan tak apa-apa. Tapi setelah lahiran, kau bisa aja ngerasain sakit di luka sayatan kau. Belum lagi pemulihannya lama, Canda. Lahiran normal sih, belum empat puluh hari juga kau udah bisa kayang lagi. Kalau lahiran sesar, kau baru bisa aktivitas ringan aja baru empat puluh hari begitu." mas Givan mengusap-usap kembali alis mataku.
"Menurut Mas aku kuat tak?" aku malah tidak yakin dengan diriku sendiri.
Apakah begini, rasanya anak-anak yang akan disunat?
Aduh, aku malah teringat mafia kecilku yang belum disunat.
"Aku ragu, Canda. Makanya kalau ada opsi lain, aku pertimbangkan lagi. Aku ingat waktu Lendra baru sadar setelah operasi, matanya merem, tapi meringis terus. Mana gitu, mukanya pucat pasi, bibir membiru, keringatnya banjir." pandangannya kosong, lalu ia bergidikan.
Ia menoleh padaku, "Aku yakin, dia lagi kesakitan pas itu. Meski dia tak ngomong, dia tak bilang apapun."
__ADS_1
Aku merasa, mas Givan dan bang Daeng cukup akrab.
"Mas kenal bang Daeng awalnya gimana? Terus gimana awalnya dia bisa kena usus buntu?" aku masih tidak memahami, karena mas Givan tidak pernah ribut dengan bang Daeng. Melainkan, malah berteman akrab.
"Kenal dari dia tinggal di rumah. Laki-laki itu ngopi, duduk, ngobrol, ya kebuka semua gimana-gimananya. Laki-laki lebih ember dan lebih ceplas-ceplos, apalagi kalau ngomongin perempuan. Kalau usus buntu, itu kek demam berdarah menurut ilmu yang aku dapat. Jadi gejalanya itu mendadak gitu loh. Nyeri perut kanan bawah, diare atau sembelit, nafsu makan berkurang, terus mual-mual. Mirip gejala diare karena makan pedas, mirip juga keracunan seafood. Ini nih sekitar satu mingguan lama-lamanya, terus tuh usus buntunya pecah. Ditandai dengan, demam tinggi plus menggigil, lemah lesu dan gelisah, pikun, saki parah terus menyebar di seluruh bagian perut, perut tampak membengkak serta terasa keras dan nyeri ketika ditekan, jadi perutnya besar gitu kek orang cacingan. Disertai juga sesak napas, keringat dingin sama jantung berdebar. Udah tuh, masuk rumah sakit langsung tindakan. Jadi usus buntu ini, bukan karena setahun yang lalu sering makan seblak. Jadi kek penyakit dadakan gitu loh. Hitungan minggu aja, bukan karena pola jangka panjang. Ya memang, mempengaruhi juga. Tapi dari gejala awal, sampai ke pecahnya ini tak butuh waktu lama. Kek DBD, kalau kata aku tadi."
Semoga anak-anakku cerdas dan banyak wawasan seperti ayahnya. Anaknya orang cerdas seperti mamah Dinda, wajar saja bisa mas Givan sepandai ini.
Mungkin pengetahuan ini bukan apa-apa. Tapi, pengetahuan seperti ini tidak banyak orang yang tahu. Kecuali, orang-orang yang berkecimpung di dunia medis.
"Udah kau tidurlah, istirahat dulu. Besok juga pasti ada ipar-ipar kau yang datang." mas Givan mengusap-usap dahiku, lalu ia bangkit dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Bismillah, esok pasti aku akan mampu.
Sampai tidak bisa terasa, kini aku tengah membungkuk karena tengah dilakukan pembiusan regional di punggungku. Rasanya begitu sakit, mungkin karena yang ditusuk adalah bagian yang bertulang.
Mas Givan pun, sudah hadir di ruangan operasi. Ada Ghava, Ria dan Zuhdi, yang datang tadi pagi dengan membawa banyak makanan dan perlengkapan bayi.
Perlengkapannya, bekas anak-anakku sebelumnya. Namun, aku tetap membeli setengah lusin untuk semua pakaian bayi.
Aku diinstruksikan untuk mengangkat salah satu kaki secara bergantian. Namun, sayangnya begitu berat seperti ketindihan.
Sangat malu sekali, karena dokternya laki-laki. Belum lagi, bukan hanya satu laki-laki.
Mas Givan ada di dekat kepalaku, saat lampu terang itu dinyalakan.
"Mas, pegangan." aku mendongak menatapnya dengan rasa takut yang tidak aku mengerti.
...****************...
__ADS_1