
"Ya, Dek?" ia menoleh sekilas padaku. Lalu ia sibuk memutar stir mobilnya kembali.
"Kok bisa Abang nahan?" aku tak mungkin mengatakan, bahwa aku rindu disentuh olehnya.
"Bukan nahan, bukan bosen juga. Tapi memang, kek secukupnya aja gitu nah. Bukannya Abang gak mau menuhin kebutuhan biologis Adek. Hal itu, pasti Abang coba penuhi. Tapi, takutnya Adek tersinggung pas Abang kek gitu. Jadi tuh, kalau sibuk kerja, banyak kegiatan. Keknya tuh, gak kepikiran soal se*s. Maaf-maaf ya, Dek. Dulu pun sama Enis, Abang kalau libur kerja aja. Sebulan sekali pun gak nentu. Tapi kalau udah ingin, ya udah nyiksa diri sendiri. Tau sendiri kan? Waktu trip di mana itu nah, yang Venya nyamperin. Abang udah pengen tuh, cari bahan aja mesti fokus dulu. Minat Abang ke sembarang perempuan itu kecil, karena khayalan Abang itu sekasta sama bidadari lah kasarnya. Makannya... Dapat istri yang kek bidadari, tapi suka rebahan." ia memuji atau mengejek?
Namun, akhirnya kami tertawa bersama karena gurauan itu.
Sepertinya, aku harus memahami kebutuhannya. Tetapi, aku malah teringat dengan nenek dan kakeknya Chandra, mereka begitu aktif melakukan. Aku bisa tahu, karena rambut mamah Dinda sering basah. Mamah Dinda saking sibuknya mengurus perut anak dan menantunya, ia sampai hanya menggulung rambutnya saja dengan handuk karena mandi besarnya.
Padahal bang Daeng dan papah Adi sama-sama hitamnya, tapi memiliki kebutuhan biologis yang berbeda.
"Jadi Abang ngasih jatah aku kalau lagi libur kerja aja gitu?" tanyaku kemudian.
Entah mengapa, moodku langsung buruk.
"Gak kek gitu juga, Cantik." bang Daeng mencubit pelan pipiku.
"Kalau ini kan udah masuknya kewajiban Abang, nafkah Abang untuk Adek. Tapi, kalau memang Abang lagi kumat kek gitu. Ya Adek jangan tersinggung gitu loh. Paham gak, Dek?"
__ADS_1
Entahlah, aku kurang paham.
Memang keinginan berhubungan bisa kumat-kumatan?
Rasanya aku ingin membuatnya seperti papah Adi saja.
Herannya lagi, kenapa aku baru tahu bahwa bang Daeng adalah orang yang tidak begitu menyukai se*s? Kenapa aku baru menangkap semuanya, saat bang Daeng sudah menjadi suamiku.
Ya sudahlah. Benar kata bang Daeng, ia hanya memberitahuku agar aku tidak tersinggung.
Akhirnya, sampailah kami di acara kak Raya. Ia tersenyum bahagia setiap menyambut orang-orang yang datang.
"Ya lah. Aku paham, biar pada datang semua." sahutnya kemudian.
Aku hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Rekan kerja yang unik, tidak sepertiku. Aku malah cinlok dengan bosku sendiri.
"Selamat ya, Kak. Bahagia selalu." aku mengadu pipiku dengan kak Raya.
"Makasih. Nyusul ya?" sahutnya dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk dengan terse lebar. Nyusul bagaimana? Aku lebih dulu menikah darinya.
"Makan yang banyak, potongan daging rendangnya besar-besar." bisik bang Daeng, saat kami tengah mengantri di prasmanan.
Ada-ada saja Daengku ini.
Kami makan dalam diam, sesekali memperhatikan keramaian ini. Hingga akhirnya, menu makanan enak itu kami habiskan tak tersisa.
Pengantin cenderung aktif. Mereka berjalan ke sana ke mari, berbaur dan menyapa orang. Mungkin konsep pernikahan kak Raya dan bang Koto itu seperti ini.
"Ya...." bang Daeng melambaikan tangannya ke arah kami.
Kak Raya mengangguk, ia berjalan ke arah kami duduk. Gaunnya tidak begitu berlebihan, membuat ia bebas bergerak.
"Apa......
...****************...
Author lagi amsyong betul. Habis diurut urat syaraf gitu-gitu, lagi njarem, badan pada sakit. Perjuangan pengen hamil, segala sesuatu dijabani. Doain aku sehat-sehat terus ya? Semoga usaha aku membuahkan hasil.
__ADS_1