Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD171. Rencana di balik kejujuran


__ADS_3

...**Yey, Crazy up dong...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ**...


"Semalam aja, Mah." terlihat mas Givan menunduk.


Apa bedanya istrinya dan ibunya menurutnya? Padahal kan, sama-sama harus ia jaga.


Tapi, ia memperlakukan ibunya dengan luar biasa. Ketakutannya pun luar biasa pada ibunya. Dengan istrinya, ia cenderung menyepelekan dan tak menganggap.


"Terus? Canda bilang, tiga hari." tanya mamah Dinda kemudian.


"Aku sama Nadya. Dia mabuk, minta tolong aku buat cek in, karena tempat kita reuni itu di gedung hotel. Dia tak berani pulang, takut di jalan kalau pulang dalam keadaan mabuk. Mana kan, dia bawa mobil sendiri."


Aku mengeratkan rahangku. Aku baru tahu sekarang, ternyata aku terus-terusan dibohongi olehnya.


"Maaf, Canda." aku langsung menoleh pada sumber suara lirih itu.


Mas Givan tengah menatapku sendu.


"Aku sadar, Mah. Aku tak akan nyalahin setan di sini. Aku berbuat dalam keadaan sadar, meski dalam pengaruh alkohol. Bukan kurang bersyukur, tapi godaan di depan mata. Saat istri sendiri tak ada pergerakan, tiba-tiba datang perempuan naikin aku dalam keadaan menggoda, aku tak bisa nolak. Aku bilang juga sama Nadya masa itu, aku punya dua anak, aku punya istri, apapun yang terjadi jangan minta aku tanggung jawab." mas Givan menjelaskan hal itu dengan terbata-bata.


"Tapi... Paginya." ia menjeda kalimatnya, ia menatap lantai kamar ini.

__ADS_1


"Gimana?" tanya papah Adi.


"Paginya, suaminya datang ke kamar. Entah kek mana caranya, dia tiba-tiba masuk ke kamar kita. Aku kalap, apa lagi masa itu kami tak bisa ngelak karena belum berpakaian." ia menghirup oksigen lebih banyak, "Suaminya ngelempar Ziyan di atas kasur kita. Perkataan kotornya keluar semua, apa lagi dia ini orang Medan, logatnya bikin aku jantungan. Sampai pada akhirnya, suaminya ngelempar vas bunga ke kepala aku. Entah lagi gimana ceritanya, karena aku udah tak sadar. Posisi aku pun saat itu babak belur. Aku udah dipukulinya berkali-kali."


Aku ingat ini. Di mana luka lebam di sekujur tubuhnya dan wajahnya didapat dulu, dengan luka jahitan di kepalanya.


"Satu pertanyaan yang mengganjal dari semalam buat Papah. Gini loh, Van. Ibunya Icut yang janda aja, dia ngandung sama yang lain tapi minta tanggung jawabnya ke Papah. Karena dia ngelakuin yang terakhirnya sama Papah. Apa lagi, Nadya yang istri orang. Pasti sebelumnya, dia berhubungan badan sama suaminya. Nah, bisa jadi. Dia memang udah ngandung, sebelum dia berhubungan sama kau. Kek cerita Papah sama ibunya Icut. Harusnya dari awal kau cerita ke Mamah, ke Papah, yang udah pengalaman. Bukan ngulang cerita yang sama. Untungnya, pembaca tak pada bosan." aku memperhatikan lekat laki-laki matang yang tengah bertutur itu.


Ini pun pernah terlintas di pikiranku dulu.


"Nadya yakin, Zio anak aku. Soalnya, jauh sebelum kejadian itu dia udah pulang ke rumah orang tuanya. Entah apa masalahnya, tapi dia bilang, dia tak sanggup jalani rumah tangga sama suami lamanya, makanya milih pulang ke orang tua. Terus, katanya... Suaminya itu ngabarin pas Nadya dalam perjalanan ke hotel buat tempat reuni. Suaminya minta maaf, bilang mau jemput dia sama Ziyan."


Aku merasa, mas Givan berpihak pada Nadya.


Obrolan ini terdengar santai, tapi cukup menegangkan.


"Masa aku babak belur itu, aku bangun udah di rumah sakit. Nadya bilang, uangnya tak cukup bayar biayanya. Jadi, mau tak mau aku ngeluarin uang simpanan aku. Aku simpan uang beberapa bulan terakhir di ATM, karena aku mau ajak Canda sama Chandra liburan. Key, aku pikir mau dititipkan ke Ghifar pas aku liburan itu. Karena tau sendiri kan, Mah? Key anaknya aktif betul, aku sama Canda kewalahan. Aku tau, dia stress dengan kesehariannya, aku pun stress sama kesibukan aku. Tapi berantakan rencana aku itu, karena Nadya tak lepasin aku gitu aja. Aku tak enak hati, mana dia dulu kawan baik aku. Namanya kawan ini, jadi serba tak enak Mah." mas Givan mengacak-acak rambutnya.


Aku teringat jumlah uang toko kami dulu. Jadi, ia menabung untuk liburan? Liburan kami?


"Aku pikir lagi, Canda tak berani ngelangkah keluar pas aku kasih dia ancaman. Tapi nyatanya, dia milih pergi pas aku bilang kita bukan suami istri lagi kalau kau berani ngelangkah keluar. Aku pikir juga, Canda bakal berpikir pas dia bener-bener udah pergi. Apa lagi, dengan adanya Chandra sama dia, pasti itu jadi alasan Canda pulang. Aku di situ sengaja tak ngejar, eh malah keburu jauh dia pergi ternyata. Di hari yang sama, aku dapat tekanan dari Nadya, segala dia bawa polisi. Padahal, Mah. Aku ngelakuin hal itu, karena Nadya yang naik. Tapi di mata polisi, aku yang bersalah. Mana Ghifar sibuk sendiri aja, Ghava Ghavi tau sendiri orangnya tak bisa ditebak kesibukannya. Aku diurus pak RT sama om Safar. Mau tak mau, aku ambil sirikan Nadya. Aku pikir, Canda tak apa jauh sementara. Kelak Nadya lahiran, aku bakal jemput Canda. Tapi Ghifar kacauin segalanya. Tanya juga sama Kin, Kin juga sempat berantem hebat sama Ghifar gara-gara dia." mas Givan menunjukku.


Aku menjadi pusat perhatian sekarang.

__ADS_1


"Kenapa sama Kin?"


Aku mengingat kembali, bahwa Kin adalah menantu favorit papah Adi. Dari awal pun, papah Adi terlihat menganggap anak pada Kin. Mungkin karena, papah Adi dulu pernah mengasuh Kin kecil.


"Ghifar ternyata...." ucapan mas Givan terpangkas oleh mamah Dinda.


"Udah, jangan narik nama orang lain. Yang Mamah butuh itu penjelasan kau sama Canda." sela mamah Dinda kemudian.


"Ya udahlah, Mah. Mau gimana lagi? Aku tak mau berebut sama adik sendiri. Ghifar lebih berani sekarang, mungkin karena uangnya udah terlalu banyak." mas Givan menoleh ke arah lain.


Dari tatapannya, ia terlihat marah dan kesal.


"Ghifarnya kenapa? Berebut gimana?" papah Adi terlihat begitu penasaran.


"Saat masih istri orang aja, dia natap Canda itu beda. Laki-laki itu keliatan dari matanya, meski mulutnya diam. Aku begitu, jadi aku tau gimana laki-laki. Ditambah lagi, mas Ghifar, mas Ghifar, haha hihi dalam mimpi, ini menu makan siangnya, kurang apa rasanya." mas Givan menirukan suara perempuan. Sepertinya, ia tengah menirukan suaraku.


"Aku suaminya, aku tidur di sampingnya. Mau marah pun aku bingung, aku kek jin kurang sesajen. Jadi bangun tidur, liat Canda, hawanya udah kesel aja. Ditambah lagi dia liat Ghifar lewat, macam air liur ngalir deras. Aku tersinggung digitukan. Makanya sengaja pengen liburan, pengen bangun gubug kecil, karena biar misah dari Ghifar. Biar kami ini sadar, biar aku sama dia bisa saling ngerti, bukannya mimpiin Ghifar terus." suaranya bergetar, pandangannya masih mengarah pada televisi yang tidak menyala.


"Kenapa tak transparan? Kenapa uangnya dipegang sendiri aja? Pikiran aku udah bercabang. Segala beli parfum mahal, kau bilang cuma tiga puluh ribu. Capek, pusing, tiap hari otak aku berpikir buat bagi uang lima puluh ribu, yang sekiranya bisa dapat semua yang aku butuhkan. Masalah mimpi, itu di luar kehendak aku. Aku tak berniat bikin kau tersinggung. Lagi pun, selama jadi istri kau aku selalu patuh. Tapi sikap kau tak pernah bikin nyaman, aku iri sama ipar yang lain, aku iri pengen keurus juga. Udah perut lapar, batin kaku, segala bikin ulah, nyukupin dua anak darah daging sendiri aja tak bisa. Gayanya sok betul, segala nyanggupin nyukupin anak orang lain. Dikiranya berkah? Key, Chandra itu darah daging kau. Jangankan jauh-jauh ke mall Medan kek anak Nadya yang kau bawa-bawa itu, odong-odong pasar malam pun Chandra baru ngerasain pas tak punya peran ayah lagi. Pantas kau begitu? Segala punya rencana, macam yang paling nurani aja! Bir*hi pun, nyatanya kau tuntaskan di tempat yang tak pantas!"


Aku menggulirkan pandanganku pada tiga orang ini. Kenapa mereka? Apa aku sekarang memiliki tanduk? Mereka nampak begitu terheran-heran.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2