Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD431. Tamu di tengah angin alami


__ADS_3

"Ya Allah, Ra. Jaring mandi sampai tak kuat nyangga berat kau. Bisa tenggelam ini anak."


Aku ikut paniknya saja, saat mas Givan tengah memandikan anaknya di baskom bathtub bayi. Mas Givan mulutnya heboh saja, ia sambat terus-menerus.


Ditambah lagi, kini bayi itu memberontak hebat dengan tangis yang mendadak kencang.


"Aduh, udah aja deh. Baru juga basah kena air, belum pakai shampo apalagi sabun." mas Givan seperti berusaha mengangkat tubuh licin anaknya karena air.


Menggendong bayi saja ia tidak lihai, apalagi memandikan bayi seperti ini.


"Nyuruh ibu aja deh, Mas. Masa Ra tak mandi? Takut keringatnya bikin iritasi kulitnya." karena Ra selalu berkeringat dengan lipatan di kaki dan tangan yang cukup banyak.


Mas Givan sudah memeluk anaknya kembali dengan handuk.


"Mau gimana lagi coba, Dek? Dia tak mau kena air keknya." mas Givan menimang Ra kembali.


"Aku aja kah?" aku mengulurkan kedua tanganku.


Sebenarnya, aku tidak percaya dengan diriku sendiri.


"Jangan macam-macam coba! Silahkan jalan-jalan, biar rahim tak bengkak. Tapi jangan jongkok-jongkok dulu, apalagi gendong anak." naik kembali suaranya.


"Iya, Mas. Iya, oke." aku mengekorinya.


"Owehhhhhhh....." tangisnya masih begitu lepas saja.


"Aduh, Ra. Ayah pusing, jangan nangis aja. Orang cuma mandi, bukan dimasak. Kalau ma kau bukan si Cendol, udah Ayah di Kalimantan aja, biar kau sama ma kau aja. Biar terlantar kau, gulang-guling di kamar."


Segala mengancam bayi.


"Givan!!!! Ngomong apa?" mamah Dinda berteriak dari dalam kamar.


"Tak, Mah." mas Givan pun menjawab dengan berseru.


Aku kini memperhatikannya yang tengah mengurus anak kami. Bahkan, lipatan di kaki dan tangan Ra begitu telaten mas Givan mengurusnya. Ia mengelap, kemudian menambahkan salep di lipatan tersebut. Tidak terluka dan memerah juga, tapi kami khawatir.


Mustela Bebe Cream ini, mas Givan sampai menyetoknya meski harganya mahal. Begitulah suamiku, berani stok meski uang hasil hutang.


Hingga tidak terasa, kini baby Ra sudah berusia satu bulan. Jangan tanyakan ia sudah bisa apa, karena ia sekarang tendangan kakinya pernah menonjok pusaka ayahnya sendiri. Masa itu, mas Givan tengah memakaikan pakaiannya.


Bukan hanya pusakanya. Matanya, dadanya, dagunya, kepalanya, beberapa kali mendapat tendangan Ra. Memang tenaga bayi tidak seberapa, tapi kan badan Ra besar. Bayangkan saja, sekali tonjok langsung membuat sesak.

__ADS_1


Ia selalu mengatakan akan pulang ke Kalimantan, karena Ra menganiaya dirinya. Mas Givan penuh drama sekarang.


"Mamah tuh betah betul tak sembuh-sembuh, tak kasian sama aku."


Mulut mas Givan selalu kurang nyaman di dengar.


"Iya, sengaja sakit. Biar kau bisa mandiri." mamah Dinda menjawab tidak kalah kasarnya.


Mas Givan menaruh anaknya di pangkuan mamah Dinda yang duduk di sofa ruang tamu. Lalu ia langsung menggeletakan tubuhnya di depan akses masuk rumah. Mas Givan sering terlelap di depan pintu, itu seperti tempat nyaman untuknya.


"Lagian Canda tak apa aktivitas sih, Van." ungkap papah Adi.


Tidak hanya papah Adi. Kin, dokter yang menanganiku cek up, juga beberapa orang yang mengunjungi dengan cerita pengalaman operasi sesarnya, mereka mengatakan bisa beraktivitas dengan normal.


"Udah. Kau giling baju, kasih anak-anak sangu, suruh mereka ngaji, nyapu, udah. Lain-lain, biarin aja numpuk." itulah mas Givan.


"Ya kau kerjakan, Van." timpal mamah Dinda.


"Aku tak butuh pengakuan. Sempat ya aku kerjain, tak sempat ya aku tinggal." ia sepertinya nyaman dengan terpaan angin alami itu.


"Assalamualaikum.... Bang...."


Merindingnya.


Mata mas Givan mencilak, ia mendongak melihat yang datang ke rumah kami.


"Tante Bu*il." mas Givan langsung bangun posisinya.


Bisanya tante Bu*il? Ya ampun mas Givan, cabulnya mulut kau.


"Bilqis." papah Adi panik dari duduknya.


Papah Adi beberapa minggu terakhir seperti buronan cinta ibu Bilqis. Hanya saja, anak-anaknya malah menutupi keberadaan papah Adi yang berada di pondok anak-anak ini.


"Masuk aja." ujar mamah Dinda, membuat papah Adi urung bangkit untuk menghampiri tamu tersebut.


"Geserin letak kaki aku, Bang." pinta mamah Dinda, sesaat ibu Bilqis masuk ke rumah kami.


"Silahkan duduk, Bu." aku hanya menyunggingkan senyum ramah padanya.


Tegang sudah.

__ADS_1


"Ada apa, Bilqis?" papah Adi terbata-bata.


"Aku gimana, Bang?" ia terisak, dengan menutupi tangannya.


"Nanti tunggu kaki aku sembuh, dua mingguan lagi." ucapan mamah Dinda begitu ambigu.


"Memang mau apa, Mah?" mas Givan duduk di dekat pintu, ia duduk di lantai dengan bersandar pada tembok.


"Ke Samarinda, Kalimantan. Hymenoplasty di sana aja, privacy aman, biaya aman."


Nah, inilah.


Aku pun di Samarinda, ketika melakukan hymenoplasty.


"Apa itu?" tanya ibu Bilqis, dengan menatap mamah Dinda.


"Kita tak jadi cerai, Dek?" papah Adi pun menambahkan pertanyaan.


Hayo? Apa nih jawaban mamah Dinda.


"Terserah, mau cerai ya tanda tangan. Mau tak jadi cerai, tinggal sobek aja. Aku sih udah tanda tangani surat itu."


Pilihan macam apa itu?


"Jangan bikin aku bingung di sini. Kalau kalian rujuk, gimana dengan aku?" ibu Bilqis menatap mamah Dinda dan papah Adi bergantian.


"Aku sarankan, jadi ataupun tidaknya kalian menikah. Kita cari aman aja gitu kan? Aku biayai, untuk operasi pembuatan selaput dara baru. Dengan begitu, kau masih nampak utuh. Tapi itu tergantung bagaimana diri Anda sendiri. Kalau memang niat merusak, dengan aku ajukan niat baik ini, harusnya kau tak lanjut kan sama suami aku? Kalau sebaliknya, aku bahkan mengklaim bahwa kau adalah musuh pertama aku." lordku memang tiada tara.


"Maksudnya gimana?"


Aku yang bodoh dan saja paham. Masa iya dirinya penuh pertanyaan?


"Maksud Ma Saya begini. Ma Saya biayai, untuk biaya operasi pembedahan itu. Kalau Tante masih mau lanjut sama Papah aku, Tante bakal jadi musuh Ma aku. Kalau Tante berterima kasih karena Ma aku udah biayai operasi itu, juga janji tak ganggu hubungan rumah tangga Ma aku, nama Tante akan tetep baik. Karena mau mundur dari sebutan yang tersemat jelek untuk diri Tante sendiri. Dengan Tante maju, sebutan pelakor atau sejenisnya pasti tetap disebut sama keluarga kita." jelas mas Givan lugas.


"Jadi kita tak jadi nikah, Bang?" setelah menoleh ke arah mas Givan, ibu Bilqis itu memandang papah Adi penuh harap.


"Aku mau balik ke istri. Dari awal kan, aku tak pernah janjikan nikah. Cuma kau, yang selalu nuntut itu dari aku. Aku tertekan, aku mau tak mau jalani, karena takut dipenjara. Tanggung jawab aku besar. Nanti semuanya bisa tak jalan, kalau aku dipenjara. Dengan aku digantung begini aja, anak-anak aku kerepotan luar biasa ngurus orang ladang, ngurus pembayaran, ngurus asuransi dan lain sebagainya. Sedangkan, anak-anak aku udah punya kewajiban untuk keluarga mereka masing-masing. Istri aku, dia cuma tau nyuruh. Dia tak pernah tindak sendiri."


Berani-beraninya mengusik singa yang tengah jinak.


Papah Adi, aku ingin melemparmu saja rasanya. Harusnya tak usah mengatakan bagaimana mamah Dinda. Mamah Dinda otak bos, sedangkan dirinya otak buruh sepertiku. Mamah Dinda mengandalkan otak, sedangkan jenis seperti kita hanya mengandalkan tenaga yang tidak seberapa.

__ADS_1


...****************...


Mau tamat, tak pernah gantung ya. Pasti juga udah bosen ini, udah kek Tukang Haji Naik Bubur 🙄


__ADS_2