
"Aku pernah diminta Putri, buat datang ke rumah orang tuanya."
Aku memejamkan mataku. Ternyata, hubungannya sudah sejauh itu.
"Jangan nangis." ia malah merangkulku.
Posisi kami begitu dekat dan int*m.
"Terus gimana?" aku ingin tahu lebih jelas.
"Ya, maksudnya kalau suatu saat denger dari Putri ya tak usah kaget. Aku udah ada bilang kan hari ini? Yang jelas kan, sekarang aku udah sama kau."
Inilah yang aku tidak sukanya dari mas Givan. Ia enggan untuk menjelaskan lebih rinci.
"Iya gimana kejadiannya?" aku sedikit memaksanya.
Ia melepaskan rangkulannya, sorotnya melirikku tajam.
"Kan aku udah bilang, ya kek gitu. Ngerti keadaan dan coba pahami, Canda!" ia malah bangkit dan meninggalkanku di ruang tamu Riyana Studio.
Aku membenci ayahnya Chandra yang seperti ini.
Aku penasaran dan aku ingin menuntaskan rasa penasaranku. Aku paham, akan Putri yang bermulut dua. Tapi, segala cerita darinya nanti tak akan aku telan bulat-bulat. Aku akan mengkonfirmasikannya pada mas Givan.
Di sinilah aku sekarang, dua kali sudah mengetuk pintu rumah Winda. Aku yakin, ada penghuni di dalamnya.
Pintu langsung terbuka, menampilkan Winda dengan alis terangkat sebelah.
"Kenapa, Kak?" pura-pura tidak tahu ini anak.
"Mau ngomong sama Putri." aku langsung nyelonong masuk melewatinya.
"Kakak ipar...." Winda mencekal tanganku, "Biar aku bantu selesaikan, Kakak di rumah aja jaga anak-anak."
Jika orang lain sampai ikut campur seperti ini, berarti bukan lagi masalah kecil.
Aku melepaskan cekalan tangan Winda, kemudian aku mengedarkan pandanganku untuk mencari keberadaan Putri. Ia tidak berada di ruang tamu rupanya.
Ke mana Putri ular itu tadi?
"Mana Putri?" aku bertanya pada Winda.
"Di halaman samping."
Aku langsung berjalan menuju tempat yang disebutkan oleh Winda. Halaman samping rumahnya ini, menyatu dengan halaman samping milik Ghifar. Mereka bisa saling mengunjungi, lewat halaman samping ini.
Air mata buaya.
Wajahnya dipenuhi air mata, dengan ia tertunduk agar nampak terlihat menyedihkan. Aku sedikit paham tentang tabiatnya.
"Apa masalahnya, Put? Sampai-sampai kau susulin suami aku begini?" aku melontarkan pertanyaan, padahal posisiku masih berjarak dua meter dari tempatnya.
Ia menatapku sendu. Bangku taman, yang menjadi saksi air mata penuh lukanya itu.
__ADS_1
"Kau gak tau apa-apa, Canda. Ini urusan aku sama Givan."
Kali ini, aku ingin ikut campur di setiap urusan mas Givan.
"Urusan mas Givan, urusan aku juga." aku duduk di sampingnya.
Sekarang apalagi coba?
Padahal aku dan mas Givan baru saja menikmati sebagai pasangan baru, tapi badai terlalu dini menghampiri.
"Givan udah lamar aku."
Klasik.
Ini pun beberapa kali ia lontarkan, saat permasalahan dengan bang Daeng dulu.
"Gitu? Terus?"
Aku sedikit paham tabiatnya, aku tidak boleh langsung terpengaruh. Namun, aku perlu tau titik masalahnya.
"Habis lebaran kita nikah, tapi sebelum puasa dia putusin aku."
Lalu di mana titik masalahnya? Kan mas Givan memutuskan lebih awal, otomatis pernikahannya tidak dilanjutkan.
"Kau udah pernah diperingatkan sama mamah Dinda." aku masih teringat di mana saat Ceysa lahir, lalu ia datang ke rumah megah bersama mas Givan.
"Ya, tapi aku jalani itu sampai datang pembodohan dari Givan."
Aku harus berbicara apa ya?
Kita sama-sama tahu bagaimana sifat dan karakter mas Givan.
"Terus?" aku masih memperhatikannya dengan begitu lekat.
"Asal kamu tau, Canda. Dia pernah nyeret nama kamu, saat panai didengarnya." ia menarik nafasnya, "Lebih baik aku rujukin Canda, daripada harus nikahin kau dengan jumlah yang ditentukan itu. Aku lebih suka barang murah, karena lebih fleksibel. Misal aku buang juga, aku tak terlalu sayang karena belinya murah."
Aku menelan ludahku.
Setajam itu ucapan mas Givan?
Jadi, aku barang murah?
Jika diingat tentang malam wafatnya bang Daeng. Pantas saja mas Givan keberatan saat aku meminta mahar sejumlah ladang yang ia miliki.
Aku dan Nadya yang pernah ia bawa akad juga, tidak lebih dari seratus juta. Aku dan Nadya, tidak membuat jebol hartanya.
Sampai, pada pernikahan ketiganya ini. Kentara sekali bahwa mas Givan keberatan dengan mahar yang aku minta.
Rasanya, aku menyesal bertanya pada Putri. Karena, kini aku yang malah sakit hati sendiri pada suamiku.
Aku tidak ingin percaya pada Putri, jika yang Putri katakan tidak logis. Tapi, aku pernah mengalaminya sendiri. Benar adanya, dengan mas Givan yang tidak mau memberi mahar perempuan terlampau tinggi.
"Terus?" aku mencoba tegar di sini.
__ADS_1
"Permasalahan ini jauh-jauh bulan sebelum puasa, puncaknya pas beberapa hari menjelang puasa. Kamu tau, Canda? Aku turun tangan buat bantu panai dia. Uang dia bawa kabur, dengan tiga bangunan baru hasil nipu aku." ia menjeda kalimatnya, "Kita main logika, kalau kamu tak percaya." mimik wajahnya begitu serius.
Aku adalah wanita perasa, bukan pemikir.
"Rasanya.... Tak mungkin loh, Canda. Givan ini terlilit hutang, hampir lima belas triliun. Dengan hutang begitu banyaknya, ia dengan santainya bangun rumah. Apa masuk di akal? Kan gak kan?"
Benar.
Papah Adi pun, malah pernah berpikir bahwa mas Givan masuk ke dalam daftar orang yang terlibat pencucian uang dana koruptor.
"Berapa uang kau yang mas Givan bawa?" tanyaku kemudian.
"Aku gak mungkin bilang bahwa ini gak banyak, karena jumlahnya nyentuh angka dua puluh milyar. Aku yakin, kamu pun tak bisa gantikan uangku yang dibawa suamimu."
Putri benar.
Aku adalah beban suami. Aku malah menuntut nafkah darinya, bukan malah berkarier membantunya.
"Biar aku bicarakan dengannya dulu."
Ini masalah uang.
"Ohh, silahkan." kedua tangannya mempersilahkan aku pergi.
"Kalau Givan punya sepuluh milyar saat itu, rasanya mustahil dia nikahin kamu. Aku bantu dua puluh milyar, dengan dirinya yang aku wajibkan tutup sepuluh milyar buat genapkan. Nyatanya dia lebih milih kau jadikan pelampiasan, karena ekonominya gak mampu yang hanya aku tuntut sepuluh milyar buat pernikahan kita."
Aku barang murah?
Apa karena aku sudah memiliki dua keturunan?
Mataku sudah pedih. Aku akan menumpahkannya di kamarku saja.
"Nikahlah dengan diri kau sendiri, Put." setelah mengatakan itu, aku berlalu pergi.
Mungkin, benar tentang mas Givan yang kurang mampu menikahinya. Tapi, aku tidak mengerti kenapa mas Givan malah menjadikan aku sebagai pilihan pelariannya.
Apa karena aku menerima anaknya dengan orang lain? Rasanya, tidak begitu ikhlas juga. Karena, aku hanya menerima. Bahkan, sampai hari ini aku tidak murni mendidik keturunannya dengan perempuan lain.
Bukan aku tidak sayang anak-anak, bukan aku ibu sambung yang buruk. Karena kecakapanku untuk mengurus anak sedikit kurang. Aku banyak kekurangan untuk ia jadikan pelarian cintanya.
Rasanya, hari ini pun aku ragu ia mencintaiku. Bahkan, kami tidak pernah berbicara tentang cinta.
Satu hal yang aku ingat kali ini. Mas Givan pernah menawarkanku untuk menjadi partner orang tua untuk keturunan kami, bukan partner suami istri yang baik.
Dari sini aku menyimpulkan, bahwa ia mencari sosok untuk menjadi ibu untuk anak-anaknya. Ditambah lagi, hanya aku kandidat yang paling dekat dengan anaknya bersama orang lain. Bahkan, darahnya mengalir pada seorang anak laki-laki yang aku lahirkan.
Tentu, anak-anaknya tidak memerlukan penyesuaian lagi. Apalagi, penyesuaian orang baru yang harus dipanggil ibu untuk keturunan mas Givan.
Jadi ini teka-tekinya?
Jadi ini alasannya menjadikanku sebagai wanita yang ia nikahi?
...****************...
__ADS_1
Menurut kalian?
Gara-gara baca novel Canda, pikiran pandai aku jadi tercemari 😆 Awalnya, dia bilang gak akan menelan ucapan Putri bulat-bulat. Lah, sekarang dia malah menggoreng ucapan Putri jadi tambah bikin panas sendiri aja 🤣 Jadi termakan omongan Canda nih 🤠Benar gak ayah Givan ini begini begitu seperti yang Canda katakan 🤗