
"Pengen punya suami yang pengertian, yang setianya tak habis, yang bisa jaga keutuhan keluarganya." ini yang selalu aku doakan.
"Aamiin. Semoga Abang kek yang Adek ingin." ujarnya kemudian.
"Cuci yuk? Terus tidur." bang Daeng langsung bangkit dari posisinya.
Aku mengangguk, membiarkannya memungut celana d*l*mnya. Setelah itu, aku bergantian ke kamar mandi kecil ini.
Sebenarnya, hanya seperti ini saja nafkah batin untukku. Namun, aku menagihnya sampai sesulit itu.
Dulu aku tidak pernah sesulit ini, untuk mendapatkan nafkah batin. Namun, pengalaman dan sensasi seperti ini. Baru aku dapatkan kali ini.
Bukan karena aku melakukannya dengan orang baru. Tapi aku jujur, permainan seperti ini baru aku dapatkan seumur hidup.
Aku sempat berpikir, apa caraku dan mas Givan saat melakukan d*ggy style itu salah. Karena, saat dulu aku tidak diminta untuk menukikan part belakang dan sekarang aku diminta untuk demikian. Lebih lagi rasanya sangat berbeda. Saat d*gyy style dulu, aku cenderung merasakan mentok, penuh dan sakit.
Namun, sekarang tidak seperti itu. Meski yang aku ketahui, ukuran milik bang Daeng tidak kalah panjang dengan mas Givan. Memang, mungkin berbeda satu sampai satu setengah sentimeter.
Apa seorang player seperti mas Givan, bukan bandingan untuk seorang bujang lapuk yang tidak terobsesi dengan se*s?
Ya, bang Daeng melakukan se*s hanya untuk kebutuhannya saja. Kebutuhan dalam artian, ia sewaktu-waktu melakukannya, karena ia butuh. Bukan seperti mas Givan. Ia melakukan se*s, karena sudah menjadi kehidupannya.
__ADS_1
Jika aku baru selesai haid seperti ini, ia langsung bergegas mengunciku di kamar. Meminta anak-anak untuk segera tidur, agar ia segera bisa melakukannya.
Namun, dengan bang Daeng. Aku malah memohon padanya, untuk memberiku nafkah batin. Meski pada awalnya aku mengira ia tengah melakukan kekerasan, tetapi saat sudah berjalan aku baru mengetahuinya ternyata yang ia lakukan memiliki sensasi tersendiri.
Aku bukan selalu ingin membandingkan. Mungkin, karena dulu pasangan hidupku tidak seperti ini. Membuatku selalu teringat, akan perlakuan yang aku dapatkan dulu.
~
Hari ini, kami sudah mulai bekerja kembali. Bang Daeng sedikit bingung, saat ia ingin memiliki waktu denganku. Ia beberapa kali berbisik, karena ia tengah ingin melakukan quality time bersamaku. Tetapi, kehadiran kak Raya membuat kami kaku.
"LDR, padahal aku pengantin baru. Mana baru sebulan lagi." kak Raya memijat pelipisnya sendiri.
"Video call?" ia menoleh ke arah suamiku tercinta.
"Ya, video call sambil gesek-gesek." aku paham apa yang bang Daeng maksud.
"Idih.... Gue mampu beli yang bisa bergetar. Ngapain pula aku mesti gesek-gesek?! Lecet nanti yang ada." kak Raya menjawabnya begitu sengit.
Tawa bang Daeng langsung pecah.
"Memang apa yang bisa bergetar?" aku menimpali pembicaraan mereka.
__ADS_1
"Jelasin, Len! Lugu, polos, suci, bersih. Ragu juga aku nyebutnya, mana janda muda lagi." kak Raya menepuk pundak bang Daeng.
Bang Daeng tersenyum simpul, "Itu, Dek. Alat bantu se*s untuk perempuan. Berbentuk kek punya laki-laki. Dia bisa bergetar, bisa ngurek, bisa ngoyak, bisa mutar juga." jelas bang Daeng seperti sungkan.
"Ohh, ya Abang pun bisa." karena sepahamku, bang Daeng juga bisa memvariasikan goyangannya. Tidak melulu maju dan mundur.
"Wahhhh!!!" kak Raya langsung bangkit, lalu menunjuk tepat di depan wajah bang Daeng.
"Abang pun bisa dikatanya..." lanjutnya, membuatku sadar.
"Lebay deh! Kau mau, duduklah di sini." bang Daeng bersandar di kursi, lalu dirinya menepuk pangkuannya sendiri."
Hah?
Begitu kah respon bang Daeng?
Ia akan membagi rasa yang membuatku candu pada orang lain?
...****************...
Canda baperan 🙄
__ADS_1