
"Canda, aku berangkat kerja jam setengah sepuluh malam. Jam sepuluh, udah mulai kerja. Pulang jam enam pagi dari PT. Sampai sini mungkin setengah tujuh. Kamu nginep di sini aja ya? Biar besok sore aku anterin. Sekalian nanti mampir ke salon, katanya kamu minta temenin ganti trend rambut baru."
Jam setengah sembilan malam, kami baru sampai di rumah Jeni. Sekarang, kami hanya bermalas-malasan.
Sore tadi, kami menonton film di bioskop. Mencoba hal yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya.
"Aku perlu ambil barang-barang aku, Jen."
Satu yang aku takutkan. Aku takut bang Daeng kembali ke kos, dengan status barunya sekarang. Lalu ia datang, seolah tidak terjadi apa-apa dengan hubungan kami.
"Nanti aku bantuin pindahannya." sahutnya kemudian.
Sebenarnya, aku sudah menyiapkan satu buah koper yang berisi barang-barang milikku. Aku tinggal menarik koper itu keluar. Namun, pasti lain lagi ceritanya jika ada bang Daeng di sana.
"Ok, nanti temenin ambil barang ya? Aku mau langsung keluar kota, buat jemput Chandra sama neneknya." rasanya sudah habis alibiku untuk berbohong.
"Ya udah gimana aja. Nanti aku temenin besok." ujarnya dengan menguap.
Aku baru tahu hari ini. Ternyata Jeni masih beragama Protestan. Tapi, ia toleransi dalam menjawab salam. Maupun beberapa istilah dalam sebutan di agama Islam. Ia pun, sering mengatakan alhamdulilah. Aku jadi tersenyum sendiri, melihat toleransi yang cukup baik.
Pantas saja ma Amah begitu pantang pada Jeni. Mungkin ia mengetahui, perihal Jeni yang masih non muslim. Sedangkan provinsi bang Dendi, bahkan menganut sistem ajaran Islam yang begitu kental.
Akhirnya, aku tidur nyaman di bawah pendingin ruangan. Aku menempati kamar Jeni, selepas Jeni pergi untuk bekerja.
Aku jadi ingin banyak belajar dari Jeni. Dari gajinya sebesar dua koma lima juta, ia bisa menyicil rumah subsidi yang ia tinggali ini. Ya, Jeni hanya seorang operator produksi yang dibayar sesuai upah minimum provinsi di sini. Jeni mengatakan, jika lembur ia bisa mendapat gaji sekitar dua koma delapan juta sampai tiga jutaan.
Kerjaan ini pun, bang Daeng yang mencarikan. Ia dibawa bang Daeng ke kota Padang ini. Sedangkan dirinya, langsung fokus DP rumah setelah mendapat kontrak kerja selama satu tahun. Kini, dirinya sudah menjadi karyawan tetap di PT tempatnya bekerja.
Jeni merasa bangga dengan dirinya sendiri.
Sedangkan aku, selalu terpentok dengan laki-laki yang menginginkan diriku saja.
Aku memilih tidur, karena semalam aku kurang tidur sejak mengetahui rahasia bang Daeng.
~
"Lah, Canda. Kok kau ambil barang di kos bang Lendra?" Jeni terheran-heran, saat aku membuka kunci kos tersebut.
Aku malah terheran-heran dengan kos yang kak Anisa tempati dulu begitu ramai.
Banyak pemuda di sini, sepertinya mereka seumuran denganku.
"Nah itu sih, ada yang masuk. Jadi aku titipkan barang aku ke kamar bang Lendra dulu."
__ADS_1
Terus saja Canda, kau tutupi kebohongan dengan kebohongan lainnya.
Kebetulan sekali, pemilik kos tengah berada di kamar sebelah.
"Pak... Saya nitip kunci. Mau keluar kota." ucapku dengan menghampiri beliau.
Aku berucap syukur, karena bang Daeng ternyata belum datang kembali.
"Lendra masih di sini kan? Dikasih tetangga kos, kamu malah kabur." beliau tertawa, dengan beberapa orang yang menyumbangkan tawanya.
"Baru masuk kah, Pak?" tanya Jeni mencampuri obrolan ini.
"Iya, kerja di Artha Utama itu." pemilik kos-kosan menunjuk seorang laki-laki muda yang tengah memegang sapu.
Aku hanya tersenyum ramah, karena laki-laki yang ditunjuk tersebut memberi senyum sopannya.
"Mari, Pak?" aku pamit dengan sedikit membungkukkan tubuhku.
"Iya, iya. Ati-ati."
Yang jelas, kunci kamar bang Daeng sudah berpindah tangan pada pemilik kos-kosan.
Aku menarik koperku, mengikuti langkah kaki Jeni.
"Kepang aja kali ya? Kek orang-orang Turki. Terus warna rambut diganti pirang keemasan gitu."
Tadi siang aku menonton film Elif drama Turki, yang tayang di salah satu stasiun televisi lokal.
"Trend tahun ini potong pendek, dengan warna rambut coklat tua." aku mulai naik di jok motornya, saat Jeni sudah bersiap di atas motornya.
"Kau aja yang kek gitu, Jen. Aku yang bayar. Aku bayangin aku potong polwan aja, keknya udah kek donat kentang deh muka aku."
Tawa kami berbaur dengan beberapa klakson kendaraan lain.
"Ya udah, ya udah. Taruh koper kamu dulu di rumah. Terus kita ke salon langganan aku. Sebenarnya, aku cuma langganan potong aja." tawanya terdengar begitu puas.
"Aku gak pernah model aneh-aneh. Sayang uangnya, mending buat beli properti."
Senyumku langsung kaku. Aku tiba-tiba teringat dengan bang Daeng, jika mendengar ucapan Jeni barusan. Ternyata, pola pikir Jeni sama dengan pola pikir bang Daeng. Mereka sama-sama mementingkan properti.
"Deket aja, Canda. Di bunderan pertama itu loh, salon langganan aku." suara Jeni menyadarkanku dari lamunan.
"Ok, aku ngikut aja."
__ADS_1
Akhirnya, di hari ini pun aku merubah penampilanku. Aku ingin benar-benar lupa, dengan luka hatiku sendiri.
Aku pikir, dengan merubah penampilanku. Membuatku bisa sedikit mengurangi beban pikiranku.
~
Aku kini tengah berguling-guling ria di salah satu kamar hotel yang dekat dengan terminal Anak Air. Aku berencana akan mencari bus esok pagi, karena sekarang aku ingin beristirahat nyaman. Aku harus dalam keadaan sehat, agar mereka yang di rumah megah tega padaku, saat aku akan membawa Chandra. Aku tidak boleh terlihat menyedihkan di mata mereka.
Aku harus bangkit.
Aku harus mandiri.
Aku harus kuat.
Aku harus tegar.
Aku harus menyamarkan keadaanku.
Aku harus bisa membuat mereka yakin, tentang cucunya yang aman saat aku bawa pergi.
Dengan video lucu dalam sosial media, cukup membuat moodku bagus untuk tidur nyenyak. Aku berdoa, semoga esok dan seterusnya nasib baik berpihak padaku.
~
Pagi harinya, aku asik bermain ponsel. Namun, spam chat dari Ghifar menganggu aktivitasku melihat video lucu.
Aku dengan sabar mendownload satu persatu foto yang Ghifar kirimkan. Rupanya, mereka sudah berada di Indonesia. Tepatnya, mereka tengah berekreasi ke salah satu kebun binatang. Chandra begitu excited, saat melihat binatang yang berada di luar kaca mobil.
Sedangkan Kinasya, kompres penurun demam melekat di dahinya. Aku tiba-tiba iba pada Kinasya. Tidak sepatutnya Ghifar melakukan healing seorang diri, dengan keadaan istrinya yang tengah sakit.
Ya, Kinasya pasti tengah tidak enak badan dengan kompres tersebut. Matanya pun terlihat layu, saat wajahnya terjepret dalam beberapa foto Chandra yang Ghifar kirimkan.
Serumit apa permasalahan rumah tangga Ghifar dan Kinasya? Sampai-sampai, Ghifar memilih untuk healing seorang diri.
Eh, tunggu dulu.
Foto ini dikirimkan malam hari. Berarti, mereka berlibur kemarin hari.
Aku mencari chat terbaru dari Ghifar.
Aku ingin tahu informasi apa yang ingin ia sampaikan lagi. Karena, aku memutuskan agar siang ini berangkat ke terminal.
...****************...
__ADS_1
Tujuannya ke 😳😳😳