Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD49. Makanmi


__ADS_3

"Rindu ya? Lama gak genggam beginian." ucapnya dengan tersenyum miring.


Tangannya masih mengunciku, untuk menggenggam tuas perseneling untuk mengatur gigi manual ini.


Ya, aku rasa mobil bang Lendra ini adalah tipe mobil manual. Bukan matic, seperti keluarga besar papah Adi miliki.


"Abang!!!" seruku dengan menepuk punggung tangannya, dengan tangan kiriku.


Tawanya lepas begitu menggema. Ia makhluk usil yang pernah aku kenal sepanjang sejarah dua puluh tiga tahun ini.


"Kangen gak digituin suami? Gurau-gurau, diteriaki ambilin handuk, atau diganggu pas lagi masak?" tanyanya kemudian, dengan mengatur posisi Chandra yang tidak mau diam.


Mas Givan tidak pernah lupa untuk membawa handuk ke kamar mandi. Dia orang yang disiplin dan penuh persiapan, dia adalah orang yang tidak pernah lupa akan sesuatu. Tapi sayang, kemarin hari ia bahkan melupakan bahwa dirinya masih memiliki istri. Saat dirinya tengah menikah lagi.


"Tak pernah ngerasain gitu-gitu." jawabku lirih.


Aku tau tahu reaksinya sekarang, karena aku hanya mampu menundukkan kepalaku kala teringat hal-hal pada rumah tanggaku.


Kadang aku berpikir, apakah pernikahan ini awalnya tanpa cinta? Hingga sampai membuat nasibku seperti ini.


Tapi aku melihat pernikahan Aira dan Ikram tanpa cinta, mereka sekarang begitu bahagia dan sejahtera. Aira dan Ikram menikah melalui proses perjodohan keluarga. Aira adalah anak mak wa Ayu, sedangkan Ikram adalah anak tante Zuhra. Mak wa Ayu adalah kakak sepupu papah Adi, sedangkan tante Zuhra adalah adik dari papah Adi.


Mereka amat bahagia, ke mana-mana selalu berdua. Meski hanya ke warung sebelah rumah, Ikram selalu ikut menemani Aira.


Kenapa pernikahan aku dan mas Givan tidak memberikan kebahagiaan? Apa lagi kesejahteraan? Sebenarnya di mana letak kesalahan rumah tangga kami kemarin? Hingga orang ketiga mampu masuk dan menggeser posisiku?


"Yuk, makan dulu." aku menoleh, saat mendengar suara pintu mobil terbuka.


Ternyata mobil ini sudah terparkir di depan rumah makan padang. Aku ikut turun dari mobil, karena hanya aku seorang yang masih berdiam di dalam mobil.


Aku hanya mengekori bang Lendra, makanan pun aku mengikuti menu yang ia pesan. Pikiranku masih kacau, jika mengingat tentang mas Givan.


"Makanmi." ucap bang Lendra saat hendak bersantap.


Aku menoleh, memperhatikan dirinya yang tengah mengunyah makanan sembari memangku Chandra. Chandra pun baru saja ia suapi, dengan nasi dan bumbu rendang.


Aku menilik isi piringku. Terdapat rendang, dengan daun singkong dan sambal ijo. Tidak ada mie di sini, tapi bang Lendra mengatakan makanmi.


Aku jadi bingung.


"Dimakan! Tunggu apa lagi?" ia fokus pada makanannya dan Chandra.

__ADS_1


Tunggu dulu, aku masih bingung.


Makanmi?


"Mana mie-nya, Bang?" tanyaku kemudian.


Aku memperhatikannya dengan seribu pertanyaan.


"Uhuk, uhuk ..." bang Lendra segera meraih es teh manisnya.


Cepat-cepat bang Lendra melegakan tenggorokannya, dari makanan yang tersangkut di jalan nafasnya tersebut.


"Sini Chandranya, ganggu makan kah?" aku bangun, hendak memutar posisiku agar bisa meraih Chandra.


Namun, bang Lendra menahan tanganku. Ia mengisyaratkan jarinya, agar aku duduk kembali.


"Kenapa sih?" aku terbingung-bingung di sini.


"Silahkan makan. Maksudnya begitu." bang Lendra berbicara begitu ramah seperti pelayanan restoran, dengan menyunggingkan senyum yang mampu mengubah dunia.


"Bukan suruh makan mie. Tapi sok dimakan makanannya, itu bahasa Makassar. Bahasa sana ada imbuhan mi, ji, pi, ki, ki', ko, mo, untuk bahasa yang memusatkan kalimat. Mi sepadan dengan lah dan saja, makanmi artinya makan lah. Ji bermakna cuma. Contohnya, kitaji di hatiku artinya cuma kamu di hatiku. Kau atau kamu di sana terdengar kasar, untuk menyebutkan kamu atau lawan bicara kita, kata kamu diganti kita. Kalau pi, kata sambung yang berkaitan dengan waktu, bisa juga bermakna akan atau nanti. Besokpi saya menyusul, atau tambah satupi. Berarti besok saya menyusul dan tambah satu lagi. Besok-besok kursus deh, biar gak terlalu rasis sama bahasa Abang. Nyesek tau gak?!" ia langsung menyuapkan satu kepal nasi ke mulutnya lagi.


Padahal belum lengkap penjelasannya.


Benar-benar aku tidak mengerti, bukan rasis terhadap bahasanya.


"Cepako buru-buruka itu?" tanyanya kemudian.


Aku mengangguk, sembari menikmati makanan ini.


"Itu kan bahasa Indonesia."


Hei, Indonesia dari mana?


Bahasa Indonesia adanya Masako, dikiranya aku orang yang pandai berbahasa. Tapi aku tak berani mengatakannya. Ia tengah makan, aku takut ia tersedak lagi.


Beberapa saat kemudian, bang Lendra malah asik dengan ponselnya. Bukannya cepat membayar, lalu kita semua pulang ke hotel.


Ia menempelkan ponselnya ke telinga, ia mengangguk seperti tengah menyimak cerita dari sang penelepon.


Jangan-jangan, ini masalah pekerjaan?

__ADS_1


Ditambah lagi, wajahnya terlihat serius sekali.


"Ya, Ven. Nanti aku share lokasi. Aku masih di tempat makan, nanti aku telpon lagi." ia menyahuti seseorang dalam panggilan telepon tersebut, bukannya tengah berbicara dengan salah satu di antara kami.


"Siapa, Len?" tanya kak Raya, ketika bang Lendra menyimpan kembali ponselnya.


"Venya." lalu ia bangkit, kemudian membayar makanan yang kami bayar.


Wajahnya terlihat murung. Saat kami sudah berada di dalam mobil pun, ia murung beberapa saat sebelum menjalankan kendaraannya.


"Mau ada Venya kah? Biasanya seneng, sekarang kok malah murung?" ucap kak Raya memecahkan keheningan.


Chandra diambil alih oleh kak Raya. Chandra duduk sendiri di kursi belakang, dengan ditahan oleh tangan kak Raya.


Alhamdulillahnya, orang-orang di sekelilingku sangat menyukai anak kecil.


"Janda lagi aja dia. Pusing, harus gimana lagi. Ngusahain setengah mati, bela-belain bayar operasinya. Biar apa coba aku tuh? Ya biar dia bahagia, anteng sama suaminya. Buat apa dioperasi, kalau akhirnya jadi janda." urat wajah bang Lendra terlihat kesal.


Aku sepertinya pernah mendengar nama Venya, tapi dia siapa ya?


"Terus dia minta nikah sama kau?"


Terlihat bang Lendra menggelengkan kepalanya, "Minta liburan sama aku. Udah keluar akte cerainya, tandanya kan dia habis masa iddah. Udah tiga bulan, dari persidangan final." sepertinya bang Lendra begitu terbuka pada kak Raya.


"Tuh, tinggal nikahin aja Len." saran yang membuatku menoleh ke arah kak Raya.


Terlihat kak Raya tengah tersenyum geli. Lalu ia menunjukkan tangannya pada bang Lendra.


Aku menegakkan punggungku kembali, kemudian melirik ke arah bang Lendra.


Ia terlihat frustasi, dengan menyugar rambutnya ke belakang.


"Aku gak cinta sama dia. Sama Putri pun sama, cuma susah mau putus. Putri cinta kali sama aku, takut dia gila. Aku sengaja gak pulang-pulang ke Makassar, tapi malah Putri sering nyusulin ke sini. Takutnya, sial aku tiba. Aku lagi sama perempuan, atau lagi bareng sama Venya, terus datang Putri. Keknya kalau itu terjadi, bukan cuma dirinya aja yang hancur. Aku pasti kasihan sama dia, khawatir dia nekat, ditambah-tambah pasti bisnis aku sama orang tuanya hancur. Orang tuanya, pasti gak akan percaya lagi buat nyuruh aku ekspor sarang waletnya."


Aku menangkap sinyal, bahwa bang Lendra adalah orang yang lapang berbelas kasih. Ia mudah kasihan pada seseorang.


"Kau udah tiga puluh tahun, Len. Lima bulan lagi aku nikah. Kau gak niat punya rencana yang sama kah?" ujar kak Raya.


Aku memperhatikan bang Lendra, aku begitu penasaran dengan jawabannya. Jangan-jangan, ia berani menarik nama kak Anisa untuk ia nikahi kelak.


...****************...

__ADS_1


Lendra menuhin scene Canda 😟


__ADS_2