Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD30. Numpang makan


__ADS_3

Aku terperangah pada bang Dendi. Aku tidak percaya, ia memberi imbuhan yang aku rindukan sekian lama.


Di kampungku, aku sering dipanggil ndhuk oleh keluarga dari ibu kandungku.


Saat pandangan kami beradu, tiba-tiba bang Dendi mengedipkan matanya dengan genit. Lalu setelahnya ia fokus pada makanannya, dengan tersenyum samar.


Ya Allah...


Kenapa laki-laki suka iseng seperti ini?


Aku kan lemah iman, ya Allah.


Memang bang Dendi orangnya iseng. Setelah ia menggenitiku, ia malah begitu perhatian pada kak Anisa.


Dengan telatennya, ia memisahkan daging dari duri ikan. Ia mengesampingkan dahulu makanannya, agar kak Anisa bisa makan dengan lahap.


Apa Jeni tidak tahu, bahwa bang Dendi begitu perhatian pada teman wanitanya ini?


Setelah makan, aku memisahkan daging ikan goreng dari durinya. Aku ingin menyuapi Chandra makan.


Aslinya, Chandra sudah bisa makan nasi dengan lauk normal. Asal makanannya tidak pedas dan tidak terlalu keras. Karena anakku baru memiliki enam gigi depan. Di bagian bawah, terdapat empat gigi. Di bagian atas, terdapat dua gigi.


"Biar aku yang cuci piring." mungkin kak Anisa paham, bahwa aku akan menyuapi anakku makan.


"Tinggal aja." ujar bang Dendi, yang masih menyantap makanannya.


"Nanti dipecat jadi calon mantu."


Aku paham, bahwa kak Anisa bergurau saja.


Bang Dendi tersenyum mengejek, "Sekali diajak ngobrol sama ma. Udah pindah jantung kau ke ginjal."


Aku tertawa geli, karena nada bicara bang Dendi begitu lucu.


"Udah, di mana ini cuci piringnya?" kak Anisa tengah menyusun piring kotor bekas kami makan.


"Yang jelas tak di kamar mandi, macam kosan kau." bang Dendi suka sekali mengejek kak Anisa.


"Kos Abang pun sama, cuci baju, cuci piring, mandi, BAB, BAK dalam satu ruangan itu."


Aku segera enyah, karena aku akan terus tertawa bila bertahan di sini.


"Chandra, makan dulu yuk." aku menjumpai tiga orang tersebut, tengah duduk di teras rumah.


"Wah, udah makan nasi?" nada suara ibu bang Dendi seperti bertanya.


"Udah, Ma. Tapi kadang seling sama bubur bayi instan."


Aku teringat ketika Kinasya memarahiku, lantaran aku memberi Chandra bubur bayi instan. Lebih-lebih, mulut sepasang suami istri itu menikam ulu hatiku.


Kinasya mengatakan banyak hal, tentang bubur bayi instan. Yang membuatku enggan untuk membelinya lagi, karena Kinasya mengatakan bahwa aku akan tekor. Bubur bayi instan tak akan pernah mengenyangkan perut, aku harus sedia banyak untuk bisa mengenyangkan Chandra.


Ya, itulah.


Tapi, kini aku baru memahaminya.


Ucapan kasar Ghifar dan Kinasya dulu, hanya untuk memancing pikiran mas Givan. Agar ia bisa memberi yang terbaik untuk aku dan anaknya. Namun, malah membuat aku yang semakin dibentak oleh mas Givan. Bukannya ia mengerti, bahwa Ghifar dan Kinasya tengah memojokkannya.


"Adek namanya siapa?" aku tersenyum ramah pada gadis kecil yang selalu diusili bang Dendi itu.

__ADS_1


"Cut Mahia."


"Adek ini namanya siapa?" gadis kecil itu mencolek pipi Chandra.


"Teuku Chandra Andiyana. Panggil aja Chandra, Ok?" aku memusatkan perhatianku padanya.


Mahia mengangguk, ia mirip dengan bang Dendi.


"Punya suami, Dek? Atau janda juga kek Jeni?"


Sebenarnya kenapa dengan status janda? Toh, yang gadis pun banyak yang pro terhadap se*s.


"Punya suami, tadi habis nengokin mertua di Bener Meriah." aku terpaksa berbohong.


Aku takut dilarang untuk berteman dengan bang Dendi. Jika ibunya mengetahui, bahwa aku akan pisah dengan suamiku.


Dari cerita bang Dendi di mobil tadi. Orang tuanya melarang hubungannya dengan Jeni, lantaran status Jeni adalah janda.


"Adek tak punya minum ya? Aku ambilkan ya?" Mahia langsung berlalu masuk ke dalam rumah.


Tak lama, ia kembali dengan air mineral kemasan gelas di tangannya.


"Wah, makasih Kak Mahia." aku menerima air mineral itu. Meski setahuku, Chandra belum bisa minum dari sedotan.


Chandra terlihat lucu, kala ia terlihat bingung dengan cara pakai sedotan itu.


"Biyung buka aja ya plastiknya?" aku kasihan, karena Chandra kesulitan untuk minum dari sedotan.


"Kok biyung? Bukan asli sini kah?" tanya ibu bang Dendi kemudian.


Aku menggeleng dengan tersenyum ramah, "Aku Jawa, suami asal sini."


"Ohh, terus mana suaminya? Kok tak ikut?" logat bicaranya, sudah seperti penduduk asli daerah ini.


"Hmm..." aku memutar otak untuk berbohong.


"Ada, kerja sama bang Lendra. Bang Lendra lagi kunjungan ke Sukabumi, suaminya ikut. Ehh, mertuanya sakit. Jadi aku diminta antar sama suami Dek Canda. Lagi kosong job aku, Ma. Jadi apa aja dulu lah, lumayan buat nyambung-nyambung."


Alhamdulillah, bang Dendi menyelamatkan dialogku.


Terlihat ibu bang Dendi manggut-manggut, ia begitu memperhatikan anaknya yang duduk tak jauh dari tempat kami.


"Mana Anisa?" tanya ibu bang Dendi kemudian.


"Lagi cuci piring." jawab bang Dendi, dengan mulai menggoda adiknya lagi.


Ibu bang Dendi malah masuk ke dalam rumah. Mungkin ia tidak menghendaki, jika tamunya malah mencuci piring.


"Kapan mau balik?" bang Dendi memberi jarak dengan aku dan para anak kecil ini, karena ia tengah merokok sekarang.


"Terserah aja, Bang." aku sadari, aku pun sebenarnya sangat lelah duduk di dalam mobil dalam waktu yang lama. Apa lagi bang Dendi, yang mengendarai mobil selama berjam-jam lamanya.


Ia malah mengutak-atik ponselnya, kemudian menempelkannya ke telinganya.


"Sehari semalam minta empat setengah, Bang. Ini udah berapa hari aku, di jalan aja hampir bua hari."


Kalau bukan pemilik mobil sewaan, pasti yang memiliki dana, yang tengah ditelpon bang Dendi sekarang.


"Ok, Bang. Aku minta rehat bentar, sakit pinggang aku Bang."

__ADS_1


"Canda? Ada tuh!"


Tiba-tiba ponsel tersebut mengarah pada aku yang tengah menyuapi Chandra. Bang Dendi menyambungkan video call, pada bang Lendra sekarang.


"Kasih nomor HP kau ke Dendi!" aku reflek mengangguk, kala mendengar suara tegas itu.


"Jauh-jauh nganterin, malah kebawa lagi."


Aku bisa mendengar suara gerutu itu. Bang Lendra sepertinya tidak suka, dengan aku yang bergabung bersama teman kosnya.


"Biar aku ngomong langsung ke dia. Kirim nomor HP dia, biar aku yang telpon dia kalau lagi senggang."


Aku bisa melihat bang Dendi menganggukkan kepalanya, "Ok."


Hanya itu yang aku dengar dari mulut bang Dendi.


"Mana nomernya, Dek?" bang Dendi melirik sekilas padaku.


Tunggu dulu!


Aku melupakan sesuatu, tentang nomor teleponku yang sudah tidak aktif.


"Habis masa tenggang, Bang. Udah keblokir."


Aku memiliki ide. Kenapa aku tidak mengganti saja nomer telponku? Agar delapan saudara itu, tak menghubungiku. Lebih tepatnya, agar mas Givan tak menggangguku lagi.


Tapi ngomong-ngomong, aku ini sangat kepedean ya?


Aku tertawa tertahan, karena takut dikira gila.


Jelas mas Givan tak akan menggangguku lagi, saat dirinya tengah menikmati momen sebagai pengantin baru.


Namun, jika dilihat dari fisik. Nadya itu biasa saja, hanya pakaiannya saja yang modis.


Bolehkah aku berkaca? Lalu aku membandingkan dengan diriku sendiri?


Kadang aku ingin bertanya langsung pada mas Givan, aku ini kurang apa?


Jika memang aku memiliki cela kekurangan, harusnya mas Givan bisa menutupinya. Yaa, setidaknya. Perawatan kecantikan begitu. Aku pun, pasti tak kalah cantiknya dengan Kinasya.


Kenapa aku menyeret nama Kinasya?


Karena Kinasya jauh lebih cantik dari Nadya. Tetapi kesombongan Nadya melebihi istri CEO pabrik kopi seperti Kinasya.


Kinasya hanya menaikkan dagunya pada Ghifar, tapi Nadya begitu menantang semua perempuan yang ada di hadapannya.


Aku malah membayangkan, bagaimana hari-hari Nadya ditindas oleh Kinasya?


Karena, Giska yang termasuk dalam golongan wanita paling disayang di rumah itu saja. Kinasya berani memarahi dan menceramahi Giska. Apa lagi Nadya, yang dari awal tidak ada sambutan baiknya dari keluarga itu.


"Hai, Dek. Tengok anak kau! Kenapa dia?"


Aku terkejut, mendengar suara panik dari bang Dendi.


...****************...


Jangan ngelamun aja, Canda 😟 Kenapa dengan anak kau itu 😳 Kelolodan kah?


Jam tiga gak up lagi ya, Kak 😅 Udah crazy up soalnya 🤗

__ADS_1


__ADS_2