Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD303. Kelelahan


__ADS_3

"Mau pesen dong."


Zuhdi kentir!


Mimik wajahnya, tingkah absurdnya, membuatku begitu semakin muak dengan pembohong seperti bang Ardi.


Ya, hanya melihat kakaknya saja. Rasanya aku seperti melihat bang Ardi.


"List aja lah. Antri, Bang." sahut Ria, dengan menunjukkan hasil print out yang dilaminating ini.


"Okeh. Bisa delivery?" tanyanya kembali.


"Bisa, Bang. Naik sepeda, perjalanan lima belas menit sampai satu jam." jawab Ria kemudian.


Kami terkekeh bersama.


"Ya udah deh nunggu di rumah papah aja. Aku pesen.... Seblak dua, sama ini itu serba dua, topping original aja. Satu pedes, satu jangan. Semuanya ratakan ya?" ia mengulurkan uang seratus ribu.


"Nanti aja kalau udah jadi, Bang." ucapku di sela aktivitasku.


"Udah lah, ambil aja. Tak usah kembalian nantinya. Dari pada bingung ngitung." ia menaruh uang tersebut, di dekat telenan yang aku gunakan untuk memotong kol ini.


Tanpa ba-bi-bu, ia malah ngeloyor pergi.


Inilah yang aku tidak sukanya dari anggota Adi's Bird family. Mereka tidak pernah mau kembalian.


"Makasih, Bang." seruku yang entah didengarnya atau tidak.


Nyatanya, Zuhdi tidak menjawabnya.


Aku tidak pernah libur berjualan. Jika capek, aku merasa memang benar-benar begitu kelelahan. Tapi bagaimana lagi? Aku harus punya uang saku, karena selepas lebaran sudah musim pendaftaran sekolah.


Tidak luput Chandra juga.


Ia akan masuk taman kanak-kanak. Ya memang, untuk pendaftaran aku bisa menggunakan uang dari jatahnya. Namun, untuk uang sakunya bagaimana? Tentu aku ikut andil juga, untuk menjajani anak sulungku itu.


Jika dari toko, benar-benar tidak bisa diharapkan. Untuk bayaran cek Iyak saja, aku masih memikirkan.


~


Setelah libur tiga hari sebelum dan pada awal puasa. Akhirnya, aku mulai berjualan pukul setengah lima sore. Ya, ini sudah umum. Makanya, aku ikut membuka lapak. Dengan jajanan tambahan, yang tentu sangat dicari saat bulan Ramadhan.


Bukan lain, adalah es.


Aku fokus untuk mengolah jajanan di depan kompor ini. Sedangkan Ria, ia fokus dengan termos es dan toples jeli.


Ria memilih untuk berjualan es jeli boba. Entahlah itu, Ria mendapatkan resep dari mana. Aku hanya membantu memodalinya saja.


"Senyum lah, Mah." aku dari tadi dipantengin wajah bad mood mamah Dinda.

__ADS_1


"Mamah udah seneng kau berhenti jualan. Malah lanjut lagi kau!" suaranya lirih, tetapi begitu ketus.


"Biar bisa beli zakat, Mah." aku memberi mamah Dinda ciuman jarak jauh.


Mamah Dinda memutar bola matanya, "Jangan sampai bukannya berzakat, kau malah ngadain tahlilan tujuh harian kau."


"Astaghfirullah, Mamah." aku melotot tak percaya, mendengar ucapan beliau yang begitu menikam.


"Udah malas Mamah ngelarang kau, Canda. Kau mati juga, tak bakal Mamah tangisi."


Setelah mengatakan hal yang begitu menyayat itu. Mamah Dinda ngeloyor pergi dengan menggendong Athaya. Athaya adalah anak Ghavi yang paling kecil, ia berusia tujuh bulan dan belum bisa berjalan.


"Nek... Tut." Ceysa menaik-naikan roknya.


Mamah Dinda menoleh. Ia mengangguk dan melambaikan tangannya pada Ceysa.


Ceysa begitu girang mengikuti mamah Dinda.


Satu, dua, tiga, empat, lima.


Pembeli yang menaiki motor, satu persatu berhenti di halaman tokoku. Tentu, karena aku berjualan di teras toko. Di depan etalase toko milikku.


Aku mulai sibuk tersenyum ramah dan melayani pembeli.


Untungnya, jualanku laku. Jika tidak laku, aku tidak berani tersenyum ramah.


Hingga sampai ibu pulang sholat tarawih, aku baru akan beres-beres perkakas.


Zio ibu bawa sholat tarawih. Tidak dengan Ceysa dan Chandra. Mereka ada di rumah mamah Dinda. Pintu pagarnya pun terkunci rapat. Karena, mereka rutin menggelar sholat tarawih bersama keluarganya. Mereka khusyuk sholat, sedangkan anak-anak dibiarkan bermain di lingkungan rumah.


Tentu rumah itu aman dan nyaman untuk tempat bermain anak-anak.


Bahkan, Zuhdi dan Giska pun datang ke rumah mamah Dinda untuk sholat tarawih. Bukan lain, mereka tentu sekalian melepas Hadi bersama saudara-saudaranya.


Imamnya, tentu di raja yang baik hati itu. Si pemilik Adi's Bird, yang menjadi pro dan kontra di setiap serial novel author ini.


"Kenapa kamu, Ndhuk?" tanya ibu, saat aku bersandar sejenak pada etalase toko.


"Kaki aku linu, Bu. Capek aja keknya, soalnya berdiri terus." aku melanjutkan langkah kakiku ke dapur.


"Jangan kek biasanya, Ndhuk. Kamu tak perlu mandi lagi, udah malah ini. Entah kalau sore, atau lepas maghrib sih." ibu hendak menaiki tangga.


Aku mencium kerah bajuku yang terlapisi celemek masak ini, "Tapi aku bau deh, Bu. Aku pun lengket, berkeringat. Pasti nanti tidurnya tak enak." aku akan kembali keluar untuk membawa perkakas yang masih tertinggal.


"Tapi gak baik mandi malam, Ndhuk."


"Ya, Bu." aku tidak ingin menimbulkan perdebatan.


Aku sudah lelah. Namun, biasanya lekas membaik setelah bangun tidur.

__ADS_1


Sepertinya pagi ini, rasa lelahku tidak mereda. Apa karena istirahatku terganggu karena aktivitas sahur?


Aku merasa pagi ini otot-ototku terasa lemas dan nyeri. Jantungku sering berdebar, padahal tidak bertemu kekasih hati.


Entah siapa kekasih hati itu.


Setiap tengah malam pun, kakiku selalu kram. Tidak bisa digerakkan sama sekali, jika aku memaksa untuk bergerak, malah bertambah sakit.


Kulitku pun, terasa seperti kesemutan. Ya mirip-mirip rasanya tertusuk duri, karena kesemutan yang begitu kuat. Aku selalu mual-mual, ketika aku mulai berbuka puasa, padahal aku tidak memiliki penyakit maag. Haus yang tidak bisa ditahan, aku pun sering kencing setiap saat. Padahal aku minum, ketika berbuka puasa dan sahur saja.


Aku pikir, aku kaget berpuasa. Karena, aku juga tidak pernah BAB sejak pertama puasa. Sering mimpi buruk, bahkan ketika tidur siang juga.


Masa iya, kecapean begitu rasanya?


Kenapa tidak kunjung reda, padahal aku sudah beristirahat?


"Jualan gak, Mbak?" Ria langsung duduk di sampingku.


Aku tengah duduk di sofa favoritnya bang Ardi. Dari sini, aku bisa melihat teras toko.


"Liat nanti aja, Dek." aku menguap lebar.


"Sakit kah, Mbak?" tanyanya kembali.


"Capek aja." jawabku malas.


Dulu, aku terbiasa puasa senin kamis. Puasa wajib pun, bolong ketika haid saja. Masa iya gara-gara berpuasa, aku seperti ini?


"Kok loyo gitu?" tanyanya kembali.


"Iyaaaa..... Capek aja." aku gemas betul pada Ria.


"Ya udah deh, aku mau bikin jeli dulu. Aku mau jualan es lagi sorenya."


"Hmmm." aku hanya berdekhem saja.


Tinggg......


Aku langsung melirik ke layar ponselku. Setiap ada notifikasi masuk, pasti layar ponselnya menyala.


Boleh nengok gak? Abang kangen Ceysa, kangen Chandra, kangen Adek. Kalau boleh, hari minggu nanti Abang datang. Abang punya banyak kejutan, salah satunya buat Adek nanti. Boleh ya Abang nengok?


Akun bernamakan Noy.


Hufttt... Bang Daeng rupanya.


Kan udah pernah bilang, boleh aja nengok. Yang penting tau waktu, tak nginep. Memang mau ngasih kejutan apa?


Aku menunggunya membalas pesanku. Karena di aplikasi messenger tertera, tiga titik yang terus bergerak.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2