Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD183. Gubug impian


__ADS_3

"Nih, Van." mamah Dinda mengulurkan sebutir obat di tangannya.


Mas Givan langsung membuka mulutnya. Lalu ia menelan obat itu tanpa air. Semudah itu mas Givan dan anak-anaknya minum obat.


Aku, papah Adi, mas Givan dan mamah Dinda tengah berada di ruang keluarga. Sedangkan Kin, masih berada di dalam kamar dengan Nadya. Kaf, tentu saja sekarang dengan papahnya yang tengah bersantai itu.


"Betul cerita kau?" ulang mamah Dinda dengan fokus pada anak yang pertama ia lahirkan itu.


"Ya lah, Mah. Kalaupun aku lagi have in se*s, aku pasti cari tempat yang empuk. Canda lama keluar, mana bisa dia sambil berdiri di depan cermin gitu."


Gelak tawa papah Adi langsung pecah.


Rasanya aku ingin memberitahu pada mas Givan saja. Kini aku bisa berbagai macam gaya, aku pun bisa kl*maks dengan style apapun.


"Senang kalau bahas itu!" mamah Dinda meraup wajah suaminya.


"Seneng lah. Kawan tak punya, main HP jarang, game online apa lagi. Apa lagi hiburan Abang kalau bukan bolak-balikin Adek?" papah Adi mencolek dagu mamah Dinda.


Yang tidak sukanya aku ini. Aku malu sendiri melihat pemandangan mesra itu.


"Siapa yang harus aku bolak-balikin?" mas Givan mendongakan wajahnya memandang plafon ruangan.


"Enam bulan ya baru boleh berhubungan?" papah Adi merebahkan tubuhnya, dengan berbantal paha istrinya.


"Entah, umumnya kan empat puluh hari Pah." mas Givan tengkurap di samping papah Adi.


"Iya, kalau lahiran normal. Nadya kan sesar, Van."


Aku tidak yakin papah Adi akan menuntut mas Givan. Mereka terlihat akur dan tidak memiliki masalah yang rumit.


"Kapan resmikan? Udah duda ini kau sekarang." tanya mamah Dinda kemudian.


Aku hanya diam menyimak.


"Harus ya, Mah?" mas Givan memandangku.


Apa maksudnya?


Apa ia ingin menalak Nadya, lalu mengajakku kembali?


Aku bukan kege'eran, tapi pertanyaannya itu seolah mengatakan demikian.


"Terserah kau sih! Yang penting Mamah mau kau ke Kalimantan dulu. Turutin Papah kau, kasian dia tak ikhlas. Masih terngiang-ngiang aja katanya uang triliunan tabungannya sejak kau kecil. Kau yang cerdas coba! Selidiki sana, betul tak udah bangkrut tuh. Atau cuma akal-akalan papah kandung kau, sama anak-anaknya di sana. Kau ngerasain sendiri, susahnya merintis. Coba pahami perasaan orang tua, saat berusaha ngumpulin jerih payahnya buat masa depan anak-anaknya. Untungnya, saudara kau yang lain cepet mandiri tanpa modal yang besar kek kau. Bukan Mamah membandingkan, ini sih lagi cerita aja. Kau jangan tersinggungan. Masalahnya, menurut Mamah ini sedikit janggal. Kalau memang kau ada tambang ilegal, terus Adi Wijaya Abadi keseret. Rasanya tak mungkin kepolisian diam-diam aja kek gini. Tak ada surat apapun yang sampai ke sini. Padahal jelas, Mamah ini pemegang saham terbesar. Mamah diam, karena pengen kau yang bergerak. Mamah orangnya ikhlasan, dari pada capek ribut-ribut. Uang bisa dicari, pikir Mamah sih. Tapi lain cerita sama pemikiran Papah kau ini. Sesuatu yang udah diusahakan, harus dipertahankan. Sekalipun gagal, harusnya ada sisa kenangannya. Bukannya tak berbekas kek gini, Van." nada bicara mamah Dinda terdengar santai.

__ADS_1


"Aku mau bikin rumah, Mah. Masa aku harus acak-acak lagi tabungan aku buat ongkos ke sana."


Ohh, seperti itu?


Jadi rumah impiannya, yang selalu disebutnya sebagai gubug kecil akan segera terwujud. Bersama si Kaktus itu?


"Udah ada berapa uangnya? Mau kek gimana rumahnya? Sini di ke Papahin aja uang kau. Kau kumpulin lagi buat ongkos. Biar Papah yang pikirin rumah kau." papah Adi memutar posisinya, untuk menghadap anaknya.


Ia masih berbantal paha istrinya. Dengan mas Givan masih anteng dalam posisi tengkurap, dengan wajah menghadap kami semua.


"Ada paling enam puluh jutaan. Pengen kecil aja, tanahnya juga jangan terlalu besar, yang penting ada akses keluar masuk motor. Aku pikirnya, nanti nih setelah aqiqah Zio, aku baru milih tanah yang murah. Bangunan sih tak masalah pakai GRC juga, yang penting neduh."


Aku tak yakin ia betah dalam bangunan seperti itu?


"Yakin?" tanya papah Adi kemudian.


"Ya, Pah. Asal tak dekat Canda sama Ghifar aja." suaranya semakin mengecil.


"Biar apa sih sama saudara kek gitu? Mamah perhatikan, dari kecil loh kau sama Ghifar ini suka betul berantem. Ghifar, kau, Icut, itu susah betul akur. Mesti aja ada yang nangis, mesti aja pada ngadu ngaku benar semua." aku memperhatikan wajah mamah Dinda dari samping.


"Mamah kan tau, Ghifar kecil nakal. Tak tau arah angin, main langsung gaplok aja. Mana tangannya berat lagi, meski kecil juga orangnya. Icut tukang drama, disenggol sedikit, sirine ambulan sampai berbunyi."


Aku terkekeh geli mendengarnya.


Kami semua menoleh, mendongak memperhatikan Kin yang baru keluar dari kamar mas Givan dengan menggendong bayi.


"Tadi sama bidan siapa? Mintain surat rujukannya, besok bawa aja Nadya ke rumah sakit. Bisa aja langsung UGD, tapi keknya nanti bakal diminta pemeriksaan ulang kalau tak ada bukti laporan bahwa lukanya bermasalah. Darahnya tinggi juga, dijagain Bang. Awas jatuh, awas pendarahan. Ini Zionnya."


Mas Givan segera bangkit, lalu mengambil alih Zio dari dekapan Kin.


"Sini lah, Dek! Mau kemana lagi tuh?!" papah Adi menyuarakan perintahnya pada menantu jantung rumah tersebut.


"Ke kamar, Pah." Kin terlihat lesu, lalu ia mengambil posisi di samping papah Adi.


Ia merebahkan tubuhnya di sana. Ia seperti bukan menantu. Ia seperti anak gadis dari sang juragan.


"Nangisin apa sih? Galau terus. Mata sendu terus." papah Adi merapihkan anak rambut Kin.


Kin bebas tanpa kerudung jika di dalam rumah. Sudah diperingatkan berulang kali, tapi tetap saja. Itu sudah menjadi kebiasaan Kin, ia tidak terlalu suka memakai pakaian yang tertutup.


"Capek, Pah. Kaf nangis terus, rewel terus. Aku kadang mikir, karma apa sih sampai anak serewel itu. Dari cerita yang aku dengar, aku kecil itu tak kek Kaf. Aku cuma sering sakit-sakitan aja, tapi tak rewel kek Kaf." isakan kecil terdengar samar.


"Semua ibu pernah ngerasain itu, Kin. Mamah alim, anak-anaknya tak ada yang alim."

__ADS_1


Papah Adi menoleh cepat, ia seperti begitu syok mendengar ucapan istrinya.


Terdengar kekehan pelan, "Nenek alim, Nak. Coba kita test adu stang sama Vin Diesel." mas Givan berbicara pada anaknya yang ia dekap.


Papah Adi segera bangkit, ia menyambung tawa mas Givan.


"Nah itu, alim dikata Van? Terkejut Papah."


Mamah Dinda tertawa malu. Dengan kami semua yang malah mentertawakan penguasa tertinggi di rumah ini.


"Tapi aku alim, Mah." kami semua menoleh pada laki-laki yang baru masuk dari pintu samping, sembari menggendong bayi lagi.


"Alim apanya? Diam-diam menghanyutkan." tukas mamah Dinda begitu ketus.


Ghifar tersenyum ke arah kami semua. Lalu ia berbaur dengan kami, duduk bersama di atas permadani ini.


"Dari jauh, nampak kek batang kayu. Udah dekat, beuh.... Tamat riwayat." tambah papah Adi.


"Apa itu, Pah?" mas Givan memberikan anaknya pada mamah Dinda.


Aku paham ini, ia tidak bisa lama menggendong anak. Entah apa yang ia rasakan. Apakah lengannya sakit atau bagaimana. Tapi ia selalu seperti ini sejak dulu.


"Apa lagi, kalau bukan buaya." Kin melirik tajam suaminya.


"Abang pun sama lah!" mamah Dinda cukup mencairkan suasana tegang ini.


Jujur, aku tegang jika dihadapkan dengan Kin dan Ghifar. Aku takut dihakimi, aku merasa bersalah di sini.


"Adek tak ingat kah, siapa dulu yang ngasih umpan? Segala ngumpetin kunci kamar Abang, biar Abang tidur di kamar Adek. Anak Adek lagi, klop betul kerjasamanya. Segala ngompolin Abang, pengen betul maknya nampak Abang telan*ang depan mata." papah Adi mencolek-colek dagu mamah Dinda.


Sungguh, aku yang malu melihatnya.


"Ikan patin memang susah dipancing. Fight awal mulus, begitu udah sampai ke pinggir gerakannya tak terkendali." tukas Ghifar dengan tersenyum manis.


"Mamah trauma sama ikan bawal, tergigit sampai berdarah-darah. Ingat piranha." tambah mamah Dinda.


"Mending Adek beli di pasar. Terus biasa, nyuruh Abang buat bersihkan. Tak payah susah-susah mancing, kalau akhirnya Adek tinggalin pancingan Adek." papah Adi memasang wajah sinisnya.


Kami tertawa kembali. Ada-ada saja gurauan keluarga ini. Dari buaya, memancing laki-laki, sampai membahas tentang ikan.


Absurd memang.


...****************...

__ADS_1


Masih ingat gak pancingan mamah Dinda dulu ke papah Adi? 🤭


__ADS_2