Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD336. Beras


__ADS_3

"Ohh... Memang udah dibeli Lendra."


Hah?


"Mah, yang betul?" aku panik.


Mamah Dinda terkekeh geli, "Tanya aja ke Lendra nanti. Mamah kaku hati kalau jelasin ke kau, pahamnya gak, minta Mamah ngulangin terus penjelasannya. Nanti kau minta Lendra kasih penjelasan aja."


Aku mengerucutkan bibirku, "Mamah sih gitu!" aku melirik beliau sinis.


"Yaaaa... Biar dekat lah kau sama Lendra. Sejauh ini, sepengamatan Mamah sih, Lendra udah insaf. Tapi memang tak kuat puasa aja." mamah Dinda berbisik padaku, dengan terkekeh kecil.


Mungkin wajahku bersemu merah, "Biar dekat gimana maksudnya, Mah?" tanyaku malu-malu.


"Gimana aja. Lendra ya, Lendra. Ardi ya, Ardi. Nanti Mamah mau tau penjelasan Zuhdi dulu, kalau memang kau jadi sama Ardi."


Huft....


Aku murung kembali, jika ingat binar mata Aini saat mengatakan bahwa ia baru putus dua bulan dengan bang Ardi.


Aku orang ketiga di hubungannya ternyata.


"Bang Lendra tuh sakit, Mah. Bukan tak kuat puasa." aku mencoba mengalihkan obrolan, agar aku tidak sedih memikirkan Teuku Ryan kedua itu.


"Iya, Mamah cuma gurau. Mamah tau, Canda!" mamah Dinda bangkit dari duduknya.


"Mamah ke rumah dulu. Ghifar sama Givan lagi debat aja, ledek-ledekan m*ho terus." mamah Dinda berjalan ke arah anak-anak.


"Hadi ikut Nenek tak?"


"Hadi di sini, Nek. Tunggu abu jemput." Hadi asik menyendokan tanah ke dalam wadah bekas air mineral kemasan gelas.


"Nanti Hadi kabur sendirian, pulang ke rumah sendirian."


Hadi menggeleng, "Nanti Hadi dikejar ayam jago pak cek, Nek. Hadi tak berani lewat sendirian."


Aku ingin menambah anak, satu lagi saja. Yang lucu dan berisik seperti Hadi. Ia enak diajak mengobrol, meski masih anak-anak.


"Ya udah, Hadi ke rumah Nenek aja ya nanti kalau udah capek mainnya?"


"Ya, Nek."


Mamah Dinda kembali melangkah ke rumahnya.


Seruan suara dan gelak tawa dari dua orang dewasa, sampai terdengar di telingaku. Pasti mas Givan dan Ghifar tengah bergurau hebat di halaman rumah mamah Dinda.


"Kakek....." sapa Chandra, saat melihat panutan terhebatnya melewati mereka semua yang tengah bermain tanah.


Papah Adi tersenyum manis.


Tin.....

__ADS_1


Papah Adi membalas sapaan Chandra, dengan klakson motornya.


Tawa lepas begitu bahagia. Tiba-tiba, Ghifar muncul dari pagar rumah megah.


Tinnnnn..... Kikkkkk...


Papah Adi langsung mengerem mendadak.


"BODOH!!!" maki papah Adi, yang menarik perhatian kami semua yang duduk di sini.


Mas Givan muncul dengan tawa pecahnya, "Sukur!!!" ia terlihat begitu puas, melihat adiknya hampir tertabrak ayahnya sendiri.


Shuttttt....


Shuttttt......


"AKHHHH..." dua orang laki-laki dewasa itu mengaduh, dengan memegangi punggung telanjang mereka semampu tangannya meraih.


"Main cambuk-cambuk aja, Papah." Ghifar berakting menangis heboh.


Mas Givan mencoba melihat punggungnya, "Ya ampun, Papah. Nanti aku tak glowing lagi. Ini udah mau lebaran."


Aku suka mas Givan yang sedikit lebay begini. Ia terlihat lucu dan santai.


"Udah besar, masih aja mainan lari-larian! Lari-larian sana di loteng, biar ambruk sekalian rumahnya. Nyari mati aja, mau lebaran juga! Jangan ngacak-ngacak jumlah zakat yang udah ditakar ya! Capek ngalengin beras sepuluh kaleng tiap plastik." papah Adi mode on fire.


Ia siap berperang, dengan suara menggelegarnya.


"Heh, apa?!" mas Givan memelototi adiknya, "Kau yang duluan ngeledekin." mas Givan membela diri.


"Sama aja! Udah sana masuk! Bantu mamah kau! Dari pada lari-larian tak jelas. Planning bukber, tapi tak ada yang bantuin mamah. Mamah capek tuh, Papah yang kena imbas." papah Adi mengomel hebat, dengan membelokan stang motornya ke halaman rumahnya.


Ghifar mendorong bahu kakaknya yang lebih tinggi itu. Mas Givan langsung menoleh, ia langsung bergegas mengambil sendalnya yang ia kenakan.


"Wahhhh.... Kabur...." Ghifar langsung mengeluarkan jurus langkah seribunya.


Aku sampai tertawa geli, melihat adik dan kakak yang kadang-kadang seperti anak-anak itu. Ya, mereka hanya kadang-kadang seperti itu.


Mas Givan memilih masuk kembali ke dalam rumah mamah Dinda. Rumahnya sudah berdiri tegak, dengan cat berwarna putih. Bangunannya begitu tinggi, tapi aku mendengar cerita, ternyata rumah itu tidak memiliki lantai dua. Rumah yang setara dengan rumah milih Ghifar, mewah tetapi terlihat sederhana.


"Nanti malam, bukber di rumah kak Dinda. Besoknya, makmeugang di rumah baru Givan. Kumpul keluarga besarnya di sana, sekalian syukuran rumah." ucap tante Bena kemudian.


"Hari lebarannya sih, Te?" tanyaku kemudian.


"Kumpulan di rumah kak Dinda. Om Edi, om Edo sama Tante juga, nginep di rumah Givan. Sekar sama Novi di rumah kak Dinda, nungguin kamarnya Ghifar yang di atas itu."


Aku manggut-manggut memahami, "Bukbernya keluarga besar kah?" tanyaku kembali.


"Gak." tante Bena menoleh padaku sekilas, "Keluarganya bang Adi aja. Sama anak-anaknya yang heboh aja itu." tante Bena terkekeh kecil.


"Ayo, ke sana dulu Dek." om Edi mengajak istrinya pergi.

__ADS_1


"Sekarang?" tante Bena bangkit, lalu membenahi rok skrit rajutnya.


"Iya, terus kamu bantu-bantu kak Dinda. Sebentar aja ikut akunya."


"Tinggal dulu ya, Canda?" tante Bena mengusap bahuku.


"Ya, Te." aku menyahuti seperlunya.


Entah akan ke mana mereka. Mereka berjalan kaki berdua, di teriknya matahari ini.


"Ayo, pada cuci tangan dulu." ibu menggiring anak-anak untuk masuk.


"Hadi, ayo!" Ria sedikit tegas pada anak yang bisa diajak berdialog banyak itu.


"Ayo, ayo." anak-anak meninggalkan mainan mereka.


"Ceysa, nanti sini ya?" aku menepuk pangkuanku.


Ceysa hanya manggut-manggut, karena ia tengah diminta masuk untuk mencuci tangannya.


"H+3 nanti Mangge sama kak Nilam ini mau nikah, Canda." aku menoleh pada dua orang yang duduk di bangku panjang itu.


Aku tersenyum ramah, "Semoga awet rumah tangganya, Mangge." aku tidak tahu akan memberi ucapan apa.


"Harus lah. Nanti siapa yang mau urus Jasmine." mangge Yusuf menjawab dengan terkekeh kecil.


"Jasmine kan ada Putri, Mangge."


"Yang udah diambil alih sama Lendra. Gak mungkin bisa pindah tangan lagi, Canda. Cuma kau yang kemarin mampu lepas, itu pun bikin Lendra jadi orang gila kurang setan." ungkap mangge Yusuf.


Jujur, aku tidak bangga sama sekali. Aku pun sama merasa hancurnya. Hanya saja, aku tetap tidak menerima kebohongan yang bang Daeng berikan secara bertubi-tubi itu. Apa lagi, kabar pertunangan yang meremukkan pendirianku untuk tetap mengabdi padanya.


"Pak... Ini berasnya udah dipindah." seru seseorang, yang berjalan ke arah mangge Yusuf.


"Oh, iya-iya. Urusannya sama Lendra ya? Nanti saya telpon dulu Lendranya, itu lagi di sana dia." mangge Yusuf bangkit, dengan ponsel jadul yang dioperasikan.


Ternyata masih ada pemilik ponsel jadul.


Tak lama, bang Daeng muncul. Dari langkah kakinya, ia terlihat tengah bergegas. Sepertinya seseorang yang berseru tadi, belum mendapat bayaran dari pengiriman berasnya.


Ehh, tapi tunggu dulu.


Beras yang satu pick up itu, milik bang Daeng kah?


Usaha, atau hanya untuk urusan zakat dan fidyah?


Namun, rasanya tidak mungkin zakat sebanyak itu.


...****************...


Beras apa hayo? Udah crazy up sebanyak ini loh ya, jangan bilang tanggung lagi 😌

__ADS_1


__ADS_2