Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD168. Seperti bocah


__ADS_3

"Ayo, udah jam sembilan nih." Ghifar menggoyangkan tubuhku.


Aku menggeliatkan tubuhku, lalu menguap lebar.


Aku dan Ghifar menginap di penginapan di dekat kota tempat tinggalnya. Rumah megah itu ada di kabupaten, sedangkan penginapan ini ada di kota.


"Lemes betul aku." suaraku terdengar serak.


"Ya ampun, sekali kemarin itu. Aku pun tau diri kok." Ghifar mengacak-acak rambutnya frustasi.


Aku tak menyahutinya, aku memilih untuk membersihkan diri saja. Aku ingin bergegas untuk bertemu dengan Chandra.


Tak lama kemudian, kami sudah berada di taksi.


Tanganku sudah begitu dingin, aku grogi sekarang.


Aku mencolek lengan Ghifar, "Aku cantik tak sih?" aku menyerongkan tubuhku untuk menghadap padanya.


"Cantik lah. Muka aja licin betul, udah kek Kin. Pakai ini segala, rias mata, bibir merah. Bisa kau, Dek?" Ghifar menunjuk mataku.


"Bisa, aku wajib make up kalau kerja. Temen kos aku dulu, dia jago make up natural." ungkapku jujur.


Ghifar manggut-manggut, "Anisa ya?" tebakannya benar sekali.


"Ya lah, siapa lagi memang?" aku berbalik melempar pertanyaan padanya.


"Jadi, siapa yang jebol selaput buatan itu? Kok udah tak ada penghalang aja?"


Aku membuang wajahku ke arah lain.


Ingin rasanya aku mengatakan, bahwa aku kini telah bersuami. Sayang, nasibku tidak beruntung sekarang.


"Janji ya, Far? Bantu aku bawa Chandra keluar. Aku mau pulang ke Jawa." aku mengalihkan topik pembicaraan.


"Kenapa sih tak nikah aja sama aku? Nanti aku usahain ngomong ke Kin. Aku janjiin, nanti aku adil, aku tak akan beda-bedakan keturunan aku."


Aku paling tidak suka, jika Ghifar membujukku untuk ini. Aku tak ingin mengatakan, bahwa aku telah bersuami padanya. Pasti nanti aku disalahkan lagi, pasti ia merasa menyesal telah membebaskanku dari mas Givan.


"Aku tak mau diduakan, Far. Aku pengen, istri suami aku cuma aku seorang. Kalau kemarin aku nolak bertahan sama mas Givan, tapi sekarang malah nerima buat jadi istri kedua kau, ya sama aja bohong!" aku menatap jalanan dari jendela taksi online ini.


"Pikir-pikir dulu aja deh. Kalau Kin mau, kau pun tak bisa nolak." terangnya kemudian.


Aku tak menyahutinya, aku sudah dilanda mabuk kendaraan. Kini kepalaku sudah pusing, mual itu pun sudah datang. Aku khawatir, aku muntah nanti. Semoga saja, tak jauh lagi kami sampai di tempat.


Aku mencoba tertidur, agar mual ini tak begitu terasa. Rasanya aku pun malu, jika mabuk kendaraan seperti ini. Karena dari kecil, aku tidak pernah mabuk kendaraan.


Akhirnya, mobil pun berhenti. Ghifar langsung keluar, dengan pak supir yang ikut keluar.

__ADS_1


Rasanya, perutku seperti akan meledak.


Cepat-cepat aku membuka pintu, lalu aku berjongkok. Mataku langsung berair. Kejutan bangun tidur di kendaraan kali ini, adalah mual yang tidak bisa ditahan lagi.


"Pak... Itu Adeknya kenapa." aku bisa mendengar suara panik dari sang supir.


Aku mendengar suara sepatu yang menginjak kerikil. Kini Ghifar berada di depanku, lalu ia menekan tengkuk leherku.


"Ya ampun, kerja gayanya trip my adventure. Perjalanan setengah jam aja udah lupa daratan begini." ucap Ghifar dengan masih menekan tengkukku.


Aku menepis tangannya, lalu aku mencoba untuk melihat wajahnya.


Serangan jantung.


Di belakang tubuh Ghifar, ternyata terdapat empu sang pemilik benih saudara-saudara Ghifar.


"Canda... Kenapa kau, Dek?" suara tegas itu, membuatku kaku di tempat.


"Nih, usap air matanya." Ghifar menyodorkan tisu padaku.


Aku tahu, jika tidak ada papah Adi. Ghifar akan menghapus kotoran di wajahku sendiri.


Ghifar memang pandai bermuka dua.


"Ini kembaliannya, Pak." suara asing tersebut, adalah suara supir taksi online.


"Tak usah, Pak. Ambil aja."


"Makasih ya, Pak." lenganku ditarik sedikit oleh Ghifar, mungkin agar tidak terserempet mobil yang akan berlalu pergi ini.


"Muntah, kek bocah." Ghifar mengumpulkan pasir, lalu menutupi muntahanku dengan pasir.


"Sini Papah bantu. Kuat tak jalannya?"


Mataku langsung berkaca-kaca, saat papah Adi memapahku untuk berjalan.


Aku menoleh ke belakang, terlihat Ghifar menggendong ranselnya dan menarik koperku.


"Pah, aku mau cuci muka sama kumur dulu."


Papah Adi langsung membawaku ke keran air, yang berada di pojok teras. Ada mobil terparkir di sini, tapi rumah ini seperti tidak ada penghuninya.


"Udah? Ayo, masuk. Istirahat dulu!" pintanya yang kuangguki halus.


"Far, ambilin air hangat." pinta papah Adi, pada Ghifar yang tengah melepas sepatunya.


Terlihat Ghifar mendahului kami, ransel dan koper pun ditinggalnya di teras.

__ADS_1


Aku paham sampai sini. Cara papah Adi dan Ghifar memperlakukan wanita jelas berbeda. Meski aku memahami, bahwa Ghifar suami orang. Tapi, terlihat berbeda. Papah Adi terlihat dewasa, mengayomi dan menuntun. Sedangkan Ghifar, ia memang seperti mengajak perang.


Apa lagi dengan keadaanku yang lemas karena muntah. Lalu ia meledekku, seperti bocah. Siapa yang tak naik pitam? Pantas saja, Kin mengajaknya bertarung terus menerus.


"Duduk." pinta papah Adi, membawaku untuk duduk di kursi ruang tamu.


"Pah, kok sepi sih?" tanyaku kemudian.


Aku melupakan sesuatu. Cepat-cepat aku mencium tangan beliau, karena aku melupakannya tadi.


"Lagi pada di belakang. Ada Hadi sih, jadi mamah kau berat nimang-nimang Hadi terus." papah Adi menerima air hangat yang Ghifar sodorkan.


Setelah itu, air hangat itu berpindah ke tanganku. Aku menyeruput sedikit, mencoba menghilangkan rasa pahit di mulutku.


Aku langsung kalang kabut, karena suara keramaian mulai mendekat.


"Duh... Gerombolan datang. Papah ke sana dulu ya?" papah Adi langsung enyah dari posisinya.


Aku berpikir, papah Adi pasti bersiap-siap akan mencekal tangan seseorang yang akan mencakarku.


"Yang....." empu suara melengking itu, langsung menubruk tubuh Ghifar.


Aku mengeratkan rahangku, rasanya tidak pantas untuk menyimpan rasa pada Ghifar. Harusnya, aku membentengi diriku dari penggoda iman itu.


Aku langsung menunduk, saat melihat Ghifar memeluk erat istrinya, dengan mulut aktif mencium pucuk kepala istrinya. Ia terlihat begitu rindu pada istrinya tersebut.


"Sehat, Ma?" suara lembut Ghifar sampai ke telingaku.


"Sehat, aku kangen sama Papa. Maafin Mama, Pa." suara Kinasya terisak penuh penyesalan.


"Ya ampun, Canda Pagi Dinanti. Mamah pasung juga kau!"


Aku sampai tersentak dari posisiku, saat sapaan mengejutkan itu sudah berada di hadapanku.


Aku langsung mendapat peluk dan usapan lembut di kepalaku. Aku ingin seperti ini sejak awal, aku butuh sosoknya.


Aku memeluk pinggangnya, karena posisiku masih duduk di sofa.


"Maafin aku, Mah." aku sudah terisak dengan suara yang bergetar. Aku tak kuasa, untuk mengatakan semua keluh kesahku. Aku hanya ingin menangis di pelukannya saja, semoga mamah Dinda tak memarahiku.


"Canda? Canda Pagi Dinanti?"


Mamah Dinda melepaskan pelukannya, aku pun mencari sumber suara yang seperti tidak asing di telingaku.


"Canda???"


...***************...

__ADS_1


Siapa 😳😳😳


Gemes kalau nanggung tuh 😅🙏


__ADS_2