
Aku udah di OYO Three Joye, nomor seratus tiga puluh sembilan.
Pesan itu masuk, saat pukul lima pagi tadi.
Ya ampun, aku harus bagaimana?
Aku tidak ingin menemui Ghifar. Aku takut salah paham terjadi antara kami. Apa lagi, kamar hotel yang menjadi setting tempat kami nanti. Pasti jika didengar Kinasya, ia langsung salah paham padaku.
Sudahlah, aku memilih untuk langsung ke terminal Anak Air saja. Biar nanti aku kabarin Ghifar, jika aku sudah berada di dalam bus.
Namun, rasanya berat meninggalkan kota ini. Aku teringat akan bang Daeng yang mencariku nanti. Apa ia benar-benar akan mencariku? Atau melanjutkan hidupnya dengan Putri?
Satu jam kemudian, aku sudah berada di dalam bus ber-AC. Namun, baru juga duduk aku sudah merasakan mual. Apa aku mabuk kendaraan? Tapi sebelumnya tidak pernah terjadi seperti ini.
Apa karena AC di sini bercampur dengan keringat banyak orang?
"Pak... Aku turun lagi aja." untungnya, bus ini belum berangkat terlalu jauh.
Mungkin sekitar lima menit bus ini berjalan.
Untungnya juga, aku belum ditagih oleh kondekturnya. Jadi, aku masih bisa turun tanpa dikenakan tarif.
Namun, aku mematung di trotoar jalan.
Aku berdiri tepat di depan hotel OYO Three Joye. Kenapa takdir membawaku ke sini?
Aku berbalik badan, karena tiba-tiba aku merasa perutku bergejolak. Ini tidak tertahankan, karena hidungku masih merekam bau di dalam bus tadi.
Aku langsung berjongkok di depan solokan kota ini, yang memiliki celah di satu pijakan. Aku meludah beberapa kali, sampai akhirnya makanan yang tadi aku makan keluar lagi.
Ya, Allah.
Apa aku benar-benar mabuk kendaraan?
Aku menyeka mulutku dengan tisu saku, yang berada di dalam tas Celine Trapeze ini. Kemudian, aku meneguk air kemasan botol, yang terselip di koper kecil milikku.
"Canda... Kau tak apa?"
Harusnya aku segera pergi tadi.
Aku menoleh ke sumber suara. Terlihat cinta pertamaku tengah menentang air mineral kemasan botol di tangannya. Ia berjalan cepat ke arahku, dengan raut wajah khawatirnya.
Sungguh, ini di luar rencanaku.
"Harusnya kau minta jemput tadi." ia menarik koperku untuk berada di dekatnya.
"Bentar, Far." aku merasa perutku bergejolak kembali.
Aku mengulangi posisi yang sama. Berharap rasa lega menghampiriku, setelah isi perut terkuras semua.
Aku merasakan tangan Ghifar menekan-nekan tengkuk leherku.
"Kau kenapa sih, Dek?"
Aku rindu panggilan ini dari suamiku yang tengah bahagia sekarang.
"Istirahat dulu di kamar aku. Biar aku carikan dokter." Ghifar membantuku mengusap keringat dinginku.
__ADS_1
"Aku tadi naik bus. Keknya cuma mabok kendaraan aja." akuku dengan jongkok di trotoar jalan.
Muntah cukup menguras tenagaku.
"Sini aku bantu." Ghifar membantuku untuk berjalan.
Beberapa saat kemudian, aku sudah berada di kamar milik Ghifar. Aku merasa AC ini begitu membuat keadaanku memburuk.
"Far.... Tolong matikan AC-nya." ucapku setelah keluar dari kamar mandi.
Namun, ia hanya diam dengan sorot mata yang mengikuti langkah kakiku.
"Udah biasa lepas kerudung kah? Kau nampak biasa aja bertelan*ang kepala gitu."
Aku langsung meraba kepalaku. Benar saja, rambutku terekspos jelas. Sepertinya hijabku ketinggalan di dalam kamar mandi.
"Biarlah, Far." mataku sudah begitu berat, karena mengeluarkan tenaga ekstra untuk muntah tadi.
"Kau numpang tidur? Bisa-bisanya?"
Aku sudah tidak tahan menahan kantuk, setelah melihat ranjang nyaman ini. Perlahan, aku mulai merasakan tenang dan aman. Aku pulas di dalam kamar inap milik Ghifar.
~
"Candaaa.... Nanti aku disangka jadi pembunuh kau! Makan apa sih kau?!"
Aku terganggu, karena seseorang mengguncangkan lenganku.
"Bener-bener ya kau?! Aku mau liburan, malah stress mikirin kau!" suara Ghifar terdengar seperti tengah menahan kesal.
"Apa?" aku menggeliatkan tubuhku.
Saat aku membuka mata, terlihat wajah manis yang selalu menggoda. Aku mengulurkan tanganku untuk mengangumi makhluk yang paling menawan ini.
Besarnya hidung ini. Netra yang tidak selaras, kanan dan kirinya memiliki perbedaan ukuran meski terlihat samar. Bibir tipis, yang ujungnya keriting ketika tersenyum. Rahang tegas, khas laki-laki dari ujung Sumatera ini. Plus jakun yang begitu menggoda, seiring tarikan lidahnya.
"Heh!"
Tanganku ditepis olehnya.
"Apa tuh? Gr*pe-g*epe lagi!"
Mataku terbelalak. Ini bukan mimpi.
Ya, ampun.
Aku melupakan, bahwa memang aku tidur di kamar hotel milik Ghifar.
"Maaf, Far." aku langsung menghadap ke arah lain.
"Agresif betul. Kemarin dicium aja diem aja. Sekarang, bangun tidur malah gr*pe-gr*pe." ia terkekeh sendiri.
"Makan tuh!" seperti biasa, suaranya mengalun lembut.
Aku perlahan bangun, kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Aku harus membasuh wajahku dulu, karena mataku masih terasa berat untuk terbuka.
Setelahnya, aku menikmati makanan yang tersedia di atas meja. Sesekali mataku mencuri pandang ke arah laki-laki beranak dua itu. Ia terlihat tengah menatap kosong plafon hotel ini.
__ADS_1
Dia kaya.
Harusnya, ia tidak terlihat begitu frustasi seperti itu.
"Jam berapa, Far?" tanyaku memecahkan keheningan.
Aku memperhatikannya, melihat Ghifar mengangkat tangan kirinya. Ia memperhatikan jam tangan, yang tersemat di tangannya.
"Jam setengah delapan malam. Kau tak tidur berapa lama sih? Semalam begadang kah?" tanyanya kemudian.
"Tak juga." aku malu, jika mengatakan bahwa tadi pagi pun aku bangun siang.
Aku pasti diklaim tukang tidur nanti.
"Aku mau keluar dulu. Kau nitip apa?" ia bangkit, kemudian menghampiriku yang tengah bersantap di sofa empuk ini.
"Nitip kartu perdana. Carikan provider yang sinyalnya kuat."
Aku sudah bertekad untuk mengganti nomor teleponku. Agar bang Daeng tidak mencariku, dengan terus-terus menelponku.
Mungkin, itu adalah hal yang tidak pernah ia lakukan. Karena, sampai sekarang dirinya tak pernah menghubungiku lagi. Bang Daeng masih larut dalam kebahagiaannya.
"Ok. Kau mandi sholat lah." Ghifar berlalu pergi.
Punggungnya terlihat lebar dan gagah. Pasti, Kinasya mengurus Ghifar dengan sungguh-sungguh. Sampai-sampai, badan Ghifar terlihat berotot dan gagah seperti itu.
Aku mengatakan hal ini. Karena aku tahu dari mamah Dinda, olahraga dua puluh persen, delapan puluh persennya lagi adalah makanan yang menunjang.
Aku harus menghabiskan makanan ini. Agar aku sehat kembali, saat sudah tiba di rumah megah itu. Aku ingin mendapat izin dan kepercayaan, saat aku membawa Chandra nanti.
Terdengar dering ponsel di suatu sudut. Aku yakin, itu bukan ponselku. Karena ponselku dalam mode senyap.
Aku bangkit, berjalan ke sana ke mari untuk mencari keberadaan ponsel yang terus berdering tersebut.
Akhirnya, aku menemukan ponsel berwarna silver ini. Ponsel ini tergeletak di bawah selimut. Aku yakin, ini adalah ponsel milik Ghifar.
Panggilan masuk terulang lagi.
My Queen.
Nama yang tertera jelas.
Istrinya kah?
Apa itu Kinasya?
Atau mamah Dinda?
Ratu di rumah megah itu kan, mamah Dinda.
Apa itu adalah ratu hatinya, si Kinasya?
Bagaimana jika aku mengangkatnya?
Agar dia tidak melulu menelponi Ghifar terus, karena rasa khawatirnya.
Tapi, apa ia akan salah paham? Jika aku sampai mengangkat teleponnya.
__ADS_1
...****************...
Diangkat gak hayo?