Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD400. Bermalam


__ADS_3

"Mamah lagi nunggu surat cerai aja. Kalau memang papah kau serius sama yang di sana, ya udah Mamah nerima."


Hah?


"Biar Mamah aja sih yang ceraikan. Aku tak apa ketiban sial, gara-gara bantu Mamah cerai." ungkap mas Givan, dengan memandang mamah Dinda dari samping.


Aku menangkap kesedihan di mata beliau. Namun, mamah Dinda menutupinya dengan tertunduk.


"Malu, udah ada cucu." suara mamah Dinda sedikit bergetar.


Pasti, beliau begitu sulit memantapkan keputusan untuk dirinya sendiri.


"Kemarin papah jemput, kenapa Mamah tak mau?" aku teringat karena sampai hari ini, papah Adi masih murung saja.


"Mamah ngerasa, pilihan papah belum mantap. Sebulan sebelum kejadian, Mamah udah ajak beliau untuk pindah kota untuk sementara. Semata-mata, biar papah terlena dengan suasana di kota baru. Terus, lupa dengan perempuan itu. Tapi, papah tak mau denger saran Mamah. Biarpun dia tak buka suara. Tapi tindakannya menolak untuk lepasin perempuan itu. Mamah paham gerak langkahnya, Mamah bukan anak kemarin sore."


Sebenarnya, sejauh apa papah dengan perempuan itu?


Namun, aku teringat perempuan dalam video Tiktok yang mas Givan sodorkan.


"Pasti ini gara-gara Mas Givan. Mas kan pernah nunjukin papah video Tiktok perempuan matang yang seksi itu." aku meliriknya malas.


Mata mas Givan membulat, dengan alisnya yang naik sebelah.


"Perempuan itu namanya siapa, Mah?" tanya mas Givan, dengan menoleh ke mamah Dinda.


"Bilqis, Nama viralnya Ratu Bilqis." nama yang mamah sebutkan, persis seperti nama korban kecelakaan lain selain papah itu.


"Yang di Tiktok sih, namanya Tante Erni." ujar mas Givan.


Oh, ternyata itu dua orang yang berbeda.


"Selebgram, bukan seleb Tiktok." timpal mamah Dinda.


Oh, beda ya ternyata?


"Mamah udah curiga dari kapan?" tanyaku, dengan memperhatikan mamah yang beraktivitas dengan paketnya kembali.


"Dari kau masih di rumah. Awalnya nih handle ladang Ceysa, perempuan ini udah sering hubungi. Pas kalian baru pergi, papah ini bilang ada undangan podcast. Tapi tuh, cuma papah yang diundang. Tidak dengan Mamah, atau setidaknya Mamah dibawa papah gitu. Itu sih tak, papah pergi sendiri. Dua minggu setelah kejadian itu, papah ini posting hasil podcastnya di Sinar Studio YT. Nah, papah bareng si Bilqis itu di podcast itu. Papah kan masih disebut sebagai abangnya pengusaha kopi. Si Bilqis ini, disebut sebagai kiblatnya anak muda di kota kita ini. Jadi kek, trend gaya itu tercipta dari dia gitu loh." mamah Dinda menjeda kalimatnya, dengan suara yang bergetar.


Tapi mamah Dinda tidak menangis. Meski aku paham, pasti beliau tidak baik-baik saja.


"Terus, Mah?" tanya mas Givan. Pasti ia baru mendengar ceritanya kali ini juga.


"Terus mulai tuh ke ladang Ceysa lagi. Udah kek rutin tiap tiga hari sekali gitu. Padahal, ladang ini dipegang mangge Yusuf. Tapi diambil alih papah, dengan alasan mangge tidak ada pengalaman. Makanya, mangge Yusuf yang cek toko kau, meubel kau." mamah Dinda menoleh pada mas Givan.


Oh, jadi seperti itu? Papahku berani mementingkan selingkuhannya.

__ADS_1


"Sering betul di luar rumah. Duduk di bawah pohon mangga, main HP. Duduk di halaman samping, atau halaman belakang. Papah ini dulu jarang loh main HP." suara beliau semakin menurun dan bergetar.


Mas Givan langsung merangkul ibunya, lalu mengusap-usap lengan mamah Dinda.


"Yang paling mencirikan. Papah kuat nahan sampai sepuluh hari lebih. Dari Mamah haid, bahkan setelah haidnya. Ini tuh berulang, dua kali sejak kejadian kemarin. Mamah yakin, papah mulai saat itu udah bukan panutan Mamah lagi." mamah Dinda menutupi wajahnya.


Jadi seperti inikah, ciri-ciri laki-laki selingkuh?


"Kalau dibalas, itu tak mungkin. Mamah namanya sama aja kek papah." mamah Dinda mengatur nafasnya.


Beliau tidak menangis heboh sepertiku. Tapi isakannya begitu pilu.


"Mamah sama aku aja. Anak-anak yang lain, berat ke papah semua." ucap mas Givan, dengan memeluk mamah Dinda.


"Kau punya keluarga sendiri, Van. Urus keluarga kau baik-baik. Kau tau sakitnya Mamah, jangan berani-berani sakiti istri kau." ah, itu benar sekali. Terima kasih mamah Dinda, sudah mau menasehati suamiku yang galak.


Mas Givan melepaskan pelukannya, "Lah, memang aku pernah nyakitin Canda kemarin?"


Pertanyaan macam apa itu?


Mamah Dinda meraup wajah mas Givan, "Nadya kemarin sih apa?!" mamah Dinda ngotot-ngotot.


Wajah beliau sampai merah, karena wajahnya putih. Ditambah lagi, karena beliau menangis.


"Aku tak selingkuh. Itu khilaf aja, Mah. Aku mana ada chat Nadya, videocall atau nyamperin Nadya gitu. Mana pernah aku, Mah." mas Givan pandai beralasan.


Mas Givan mengangguk-anggukkan kepalanya, "Siap, Bos." mas Givan hormat pada mamah Dinda.


Ini membuat kami semua tertawa.


"Ayah...." Ceysa muncul dari kamar depan, sembari menarik sebuah bantal.


"Bobo etek Ayah." dramanya dimulai.


Mamah Dinda menarik Ceysa ke pangkuannya, "Masa bobo di ketek sih, Dek?" mamah Dinda menciumi Ceysa.


"He'em, bobo ma Ayah." mas Givan mengulurkan tangannya ke anak sambungnya itu.


"Yuk." mas Givan bangkit, lalu menggendong Ceysa.


"Nanti kau di dalam sama Mamah, Canda. Biar aku di kursi." ujarnya, dengan berjalan ke kamar.


Artinya, aku tidak bisa tidur bersamanya? Dalam tanda kutip begitu. Ya, tidur bersama yang seperti anu.


Aku kembali fokus membantu mamah, dengan semua obrolan yang mengandung ilmu ini. Insya Allah, aku akan membuka usaha konveksi pakaian ekonomi menengah ini. Tentu atas izin dan modal dari mas Givan.


Tak lama kemudian, mas Givan keluar dari rumah bersama mamah Dinda. Mereka berniat mengantarkan paket itu, ke ekspedisi pengiriman barang.

__ADS_1


Aku pun masuk ke dalam kamar, menemani Ceysa tidur. Jujur aku merasa takut, di rumah tua ini sendirian.


Hingga tak lama, mamah Dinda dan mas Givan kembali. Aku pura-pura sudah tertidur, kala mamah Dinda melakukan sholat dengan doa yang begitu khusyuk.


Sampai-sampai, ia memejamkan matanya. Pasti harapan terbesarnya, ada di setiap doanya.


Semoga Yang Maha Kuasa, selalu mewujudkan yang mamah Dinda semogakan. Aku tidak tega, melihat kedua panutannya saling menyakiti seperti ini.


Mamah Dinda dengan egonya. Papah Adi dengan ketamakannya. Mamah Dinda menurutku cukup egois, karena tidak berbelas kasih sedikit pada suaminya saat terbaring lemah kemarin. Papah Adi pun begitu tamak, seolah ia ingin memiliki wanita yang menarik perhatiannya.


Padahal jelas, laki-laki seumuran anak sulung mamah Dinda pun, terlihat tertarik pada mamah Dinda. Tidak aku pungkiri kecantikannya. Di usianya yang sudah lima puluh tahun lebih ini, beliau masih seperti seumuran denganku.


Lehernya yang pernah kendor pun, kini begitu kencang dan terlihat sehat. Bahkan, kulit bagian kaki saja begitu glowing seperti kulit wajah. Wajarnya kan, di usianya sekarang, seluruh kulitnya menjadi kendor dan bergelayut.


Namun, tidak dengan mamah Dinda. Tentu disertai dengan olahraga yang rutin, juga modal yang kuat.


Hingga berselang beberapa lama, mamah Dinda sudah pulas di ujung ranjang. Sedangkan aku, berada di kepala ranjang dan Ceysa di tengah-tengah kami.


Kasurnya ini, bukan kasur kapuk yang kemarin hari. Ini sudah menggunakan spring bed tinggi, berukuran kira-kira 160x200. Jika dilihat dari mereknya, mungkin seharga lima jutaan. Karena aku membeli kasur yang sama, untuk mengganti kasur tamu yang berada di rumah mamah Dinda.


Aku ingin suamiku.


Sedari tadi, aku sudah menunggu mamah Dinda terlelap.


Tanpa pikir panjang, aku langsung mengendap-endap untuk keluar dari kamar ini. Alhamdulillah, lolos. Mamah Dinda tidak terganggu dengan suara pintu yang berbunyi 'kreot' ini. Ceysa pun, masih pulas dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Mau pipis kah?" tanya seseorang, yang membuatku langsung berputar untuk menghadapinya.


Itu mas Givan. Ia bertelanjang dada, dengan duduk di kursi panjang sembari bermain ponsel.


"Mas lagi ngapain?" aku tersenyum, dengan melangkah ke arahnya.


"Lagi cari ngantuk. Jet lag, tadi siang lagi pulas, kau datang bertamu." mas Givan membenahi selimut, yang menutupi tempat di sampingnya.


Aku segera duduk, di tempat selimut tadi berada. Aku duduk di sampingnya, kemudian langsung memeluk lengannya.


Aku rindu, bergandulan di lengannya. Aku rindu, mas Givan yang cerewet ketika aku memeluk lengannya seperti ini.


"Coba aku liat, Mas. Mas lagi main HP apa?" aku melongok ke ponselnya.


"Criminal case." mas Givan menunjukkan layar ponselnya ke wajahku.


Aku mengangguk, kemudian memandang wajahnya dari samping. Sedangkan mas Givan, melanjutkan untuk bermain game.


"Apa, Canda?" sepertinya, mas Givan merasa bahwa aku memperhatikannya sejak tadi.


"Mas, aku.......

__ADS_1


...****************...


__ADS_2