Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD181. Menjaga bayi


__ADS_3

"Bangun, Mbak. Mamah udah ngamuk-ngamuk tuh."


Aku terganggu dengan Ria yang terus menggoyangkan lenganku.


"Hmm..." aku meregangkan ototku.


"Tutupin rambutnya, Mbak!" wajahku tertutupi kain.


Sepertinya aku tidak sadar membuka hijabku, ketika aku tengah pulas tadi.


"Jam berapa, Dek?" tanyaku dengan perlahan membuka mata.


"Jam lima. Aku baru pulang ngaji ini."


Mataku langsung terbuka lebar.


"Mamah beneran marah?" aku langsung memandang wajah Ria.


"Iya, Mbak dibangunin dari sebelum aku berangkat ngaji. Iyanya aja, tuh mamah di dapur, lagi bikin bumbu kacang."


Canda, Canda.


Mana tidur di ruang keluarga. Tidak tahu waktu juga.


"Duh.... Mbak langsung naik aja ya? Mau siap-siap mandi sholat dulu. Bilangin mamah, Mbak udah lagi sholat ashar gitu." aku bangun, lalu bergegas menuju ke tangga.


"Ya." hanya itu sahutan dari Ria.


Beberapa saat kemudian, aku langsung membantu pekerjaan di dapur. Aku menumpang di sini, tetapi aku tidak tahu malu.


"Tidur siang apa abis mati suri? Sakit kah? Atau kenapa? Minta Kin buat periksa kau sana." mulut mamah Dinda sudah lancar menceramahiku dari tadi.


"Semalam kebangun, Mah. Terus susah tidur lagi." jawabku kemudian.


Itu bohong! Aku tidak kesulitan tidur semalam. Aku hanya terbangun sejenak, saat ibu masuk ke kamar. Itu pun, aku langsung pulas kembali. Aku tidur dari pukul sembilan malam, sampai subuh tiba.


Esok nanti, aku harus memastikan sendiri. Aku harus membeli alat tes kehamilan.


Aduh!


Aku bahkan lupa kapan aku terakhir haid.


Tiba-tiba mamah Dinda mencekal lenganku, "Jangan bilang kau ceroboh kemarin?!" ujarnya penuh penekanan.


Aku menggeleng cepat, meski aku tidak mengerti arah pembicaraan beliau.


"Keluarin di mana?" tanyanya lirih.


"Apanya, Mah?"


Bola mata mamah Dinda berputar, lalu ia memejamkan matanya.

__ADS_1


"Kau kemarin ngelakuin sama Ghifar kan? Ghifar buang benihnya di mana?" bisiknya kemudian.


Aku menggeleng berulang, lalu memperhatikan wajah beliau.


"Kau ngaku, bahwa kau kemarin kelonan."


Aku mengangguk, "Tapi tak ada buangan, Mah."


Mamah Dinda membuang nafasnya kasar, "Ngerti tak sih?!" ia sampai menggeram.


"Dek..."


Alunan lembut itu, berasal dari suara pasangan hidup mamah Dinda.


"Huh!" mamah Dinda melepaskan cekalan tangannya.


"Ya, Bang." ia pergi meninggalkan area dapur.


Mamah Dinda sepertinya marah terus padaku. Aku jadi merasa heran sendiri.


Aku mencoba menepis pikiran burukku. Aku berinisiatif untuk melakukan kegiatan, agar aku terlihat bekerja di sini. Meski sudah banyak orang, setidaknya aku harus kumpul dalam barisan.


"Minta tolong buatkan teh tubruk, Dek." perintah itu dengan usapan lembut di bahuku.


"Tolong anterin ke halaman samping." tambahnya dengan berlalu pergi.


Dia adalah pemegang harta kekuasaan terbanyak. Karena, dia adalah sulung dari papah Adi.


Perintah itu tak terbantahkan. Karena menolak pun percuma, orangnya sudah kabur. Pasti ia mengharapkan teh tubruk buatanku segera datang.


"Makasih. Pengen ngobrol susah betul." ucapnya lirih.


Aku mengangguk, lalu berlalu pergi. Aku bukan hanya takut pada Kin, tapi juga takut dengan mamah Dinda.


Aku menuju ke dapur kembali. Namun, tiba-tiba aku ditarik oleh seseorang.


"Sini dulu coba, Dek." ternyata itu adalah mamah Dinda.


"Gimana, Mah?" aku was-was dalam menjawab setiap lontaran pertanyaan dari beliau.


"Mamah bukan nyuruh. Tapi minta tolong jagain Zio, bisa? Mamah tadi dipanggil papah soalnya suruh nemenin anter Nadya ke bidan, cek jahitan. Givan belum datang. Ibu sama Ria jaga anak-anak di lapangan. Kin tak mau bantu Nadya ganti perban, dia malah milih di kamar sama Kaf. Bentar ya? Nitip aja, jagain." mamah Dinda langsung kembali ke kamar mas Givan.


Aku masih terdiam di tempat memperhatikan pintu kamar itu.


Tika bersama kedua anak kembarnya. Winda di studio. Di dapur tengah ada Ahya dan keluarga lain. Mungkin mamah tidak enak menyuruh keluarga besar untuk menjaga cucunya itu.


Tak lama mamah Dinda keluar dengan membantu Nadya berjalan.


Aku tidak iri. Hanya saja, aku tidak yakin mamah Dinda benar-benar baik. Apa lagi, ibu pernah mengatakan bahwa terjadi keributan hebat saat Nadya baru sampai di rumah dengan anaknya. Pasti mamah Dinda hanya kasihan saja. Apa lagi, Nadya itu tinggal di rumahnya.


Aku langsung berbelok ke arah kamar. Untuk menemani bayi kecil itu.

__ADS_1


Terlihat Zio berada di atas kasur, dengan diapit oleh beberapa bantal. Matanya terbuka, tangan dan kakinya bergerak pelan.


Jadi, hanya Chandra yang memiliki nashab dari ayahnya?


Saudara satu ayahnya, ternyata tidak seberuntung dirinya. Chandra harus mengerti tentang ini, kala ia besar nanti.


Ranjang ini masih sama. Bahkan, selimut dan sprai ini dulunya sering aku cuci. Tidak terlihat yang berbeda, letak ranjang dan lemari ini masih sama seperti dulu saat aku meninggalkan kamar ini.


Aku menoleh pada bayi mungil ini. Karena ia bersin beberapa kali.


Garis bibirku tertarik. Tanganku terulur untuk mengusap kepalanya.


Kasihan sekali kau, Nak. Ayah kau lebih betah di luar rumah sekarang. Abang kau, ternyata cukup beruntung meski dulu sering mendapat bentakan ketika menangis.


"Hai, Ganteng. Besar nanti akur ya sama bang Chandra." aku mengusap-usap pipinya dengan ibu jariku.


Dulu Chandra sekecil ini selalu ditimang-timang oleh neneknya, sebelum beliau berangkat ke Brasil. Chandra jarang sekali digeletakan di atas tempat tidur seperti ini. Maklum, bayi baru selalu diperebutkan nenek kakeknya. Sekarang, giliran Kaf dan Hadi yang menjadi pusat perhatian mamah Dinda.


Tapi sepengamatan mataku, Hadi lebih sering ditimang mamah Dinda. Karena Kaf selalu dikurung ibunya di kamar. Hanya saat makan bersama, atau Kaf tengah mengamuk saja ia ditimang oleh ibu atau mamah Dinda.


Entah apa yang Kaf rasakan pada tubuhnya. Jika sudah mengamuk, Kaf sulit ditenangkan. Berbeda dengan Hadi, mulutnya memang selalu berisik meski matanya terpejam.


"Mau kemana kau? Tumben udah kerudungan."


Aku cepat-cepat menoleh ke arah pintu kamar. Pintu kamar itu ditutup oleh seseorang yang baru masuk ke dalam kamar.


Ia tetap tidak ada lembutnya, ketika berbicara pada istrinya. Aku teringat bang Daeng. Ia mengubah panggilan kau padaku, sejak aku menjadi istrinya. Ia selalu memanggilku adek, terkadang cantik. Tergantung bagaimana moodnya saja.


"Nadya lagi periksa jahitannya, Mas."


Sepertinya ia tidak menyadari, bahwa aku yang berada di kamarnya.


Ia menoleh dengan tatapan kagetnya. Ia mengurungkan langkahnya untuk berjalan ke arah kamar mandi. Ia malah memutar arah tubuhnya, lalu menghampiriku.


"Sama siapa Nadya pergi?" tanyanya kemudian.


Aku baru menyadari hari ini. Alis mengkerut milik Chandra, ternyata diturunkan dari ayahnya. Mas Givan ternyata suka menyatukan alisnya. Atau mungkin, ini hanya ekspresi herannya saja.


"Mamah papah. Kin tak mau bantu Nadya ganti perbannya katanya."


Ia mengangguk, lalu berjalan lagi ke arah pintu kamar. Gagang pintu tersebut ia tarik, daun pintu sedikit terbuka setelahnya.


"Maklum, suka liar." tukasnya dengan tersenyum samar padaku.


Memang aku akui, tidak ada yang menandingi ketampanannya. Selain mas Givan, orang tertampan kedua menurutku adalah bang Ken. Bang Ken adalah anak dari om Haris, orang tua angkat mas Givan.


Tiba-tiba mas Givan duduk di hadapanku. Rambutnya sedikit basah. Pasti ia dari kamar mandi, untuk mencuci tangan dan wajahnya.


"Sehat kah? Gimana dunia luar? Baik-baik kah sama laki-laki yang bawa kau pergi naik angkot itu? Ke mana dia sekarang? Kenapa kau tak datang sama dia?" tanyanya lembut.


Hei, ini yang aku inginkan dari dulu. Nada suaranya yang lembut, yang mengantarkan kenyamanan dan keamanan untuk hatiku saat mendengar suaranya. Bukannya datang orang, datang juga amarahnya. Mas Givan seperti terkena sawan di jalan, saat dulu ia masih menjadi suamiku.

__ADS_1


...****************...


Kena sawan apa kau, Van? 🤭


__ADS_2