
**Crazy Up 😍
Votenya jangan lupa, seminggu sekali kan bisa ngevote. Kasihlah vote itu untuk Canda 😅**
...----------------...
Saat sore hari, aku mendengar bang Daeng tengah berbicara dengan mangge Yusuf. Sepertinya, mereka tengah berada di kamar sebelah. Kamar milik mangge Yusuf, yang ditempati juga oleh bang Daeng.
Saat aku terbangun pukul tiga sore tadi, aku mendapati bang Daeng masih terlelap di kamar milik mangge Yusuf yang pintunya setengah terbuka. Jadi, aku memutuskan untuk kembali ke kamar saja sembari bermain ponsel.
Jam empat tadi, mangge sudah datang. Lalu sekarang, percakapan terus berlanjut dari kamar tersebut.
Mereka berbicara dalam bahasa Makassar, aku tidak mengerti mereka tengah membahas apa.
"Disegerakan lah! Terus jemput Chandranya itu." suara itu semakin mengambang dan menjauh. Itu adalah suara mangge, bukan suara bang Daeng.
"Minta uang, Ge. Trip kemarin belum cair." teriakan itu membuatku terkekeh geli. Bang Daeng tetaplah anaknya mangge, anak yang selalu meminta uang pada ayahnya.
"Ambil di dompet!" seruan itu tidak kalah kerasnya.
Ayah yang baik.
Aku jadi teringat rumah megah itu. Ketika ada anak yang dewasa meminta uang, papah Adi selalu menyerukan nama istrinya. Namun, jika anak yang kecil meminta uang. Papah Adi langsung merogoh kantongnya, untuk memenuhi keinginan anak mereka yang kecil. Saat hal itu diketahui oleh anak yang dewasa, langsung papah Adi mendapat teguran dari mereka. Mereka merasa iri, pada adik-adik kecil mereka.
__ADS_1
Papah Adi pun berseru, bahwa uangnya tidak cukup untuk memberi anak dewasanya jajan. Ia hanya mampu menjajani anak-anak yang kecil, karena hanya kisaran ribuan saja. Sontak hal itu membuatnya ditertawakan oleh anak-anak mereka yang dewasa. Papah Adi begitu pasrahnya urusan uang. Bahkan, ia pun meminta uang pada istrinya untuk membeli bensin.
Semakin teringat tentang mereka, aku semakin rindu dengan mereka. Khususnya mamah Dinda, ia selalu bisa memenuhi kebutuhanku di belakang bang Givan.
Ya, ia sampai bersembunyi untuk mengulurkan tangannya dari anaknya. Karena mas Givan pasti langsung menolak. Ketika dirinya butuh, mas Givan pasti langsung mengatakan bahwa ia berhutang. Bukan meminta.
Tak lama kemudian, pintu kamarku dibuka oleh bang Daeng.
"Mandi, Dek. Asharan!" pintanya kemudian.
Ia berubah jadi sosok yang bisa sholat ketika di sini. Entah karena ia takut dimarahi oleh mangge, atau memang ia terbawa suasana Serambi Mekah ini.
"Ya, Bang." aku langsung bangkit dari posisiku. Sebelumnya, aku tengah merebahkan tubuh di atas tempat tidur sembari bermain ponsel.
"Apa, Bang?" aku tersenyum manis dengan memegang perut berototnya.
"Heh! Apa tuh!" kami berdua menoleh pada laki-laki paruh baya yang berkacak pinggang melihat kami bermesraan di pintu kamar.
Bang Daeng menurunkan tanganku yang masih bertengger di perutnya. Lalu kami terkekeh bersama.
"Besok aja lah, biar Mangge biayai. Dokumennya dibawa kan?" mangge Yusuf berjalan ke arah kursi ruang tamu. Kursi minimalis yang cukup empuk.
Memangnya mereka ini tengah membahas apa? Kenapa sampai mangge membiayai?
__ADS_1
Bang Daeng berbalik arah, ia berjalan menuju mangge Yusuf.
"Bawa, Mangge. Tapi Chandra belum diambil. Aku mau Chandra nyaksiin juga, meski dia gak paham." bang Daeng mulai menyalakan rokoknya, saat ia sudah duduk di salah satu kursi ruang tamu.
"Bisa diambil nanti, kalau kau udah jadi papahnya. Kalau diambil sekarang, kau belum ada hak. Papah kandungnya lebih hak, dari pada kau yang cuma papah sambung."
Hah?
Papah sambung Chandra?
Siapa?
Bang Daeng maksudnya?
Secepat ini?
Benarkah?
...****************...
Jeng, jeng, jeng, jeng.... 😎
Ayo-ayo, dukungannya 😉
__ADS_1