Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD72. Kangen


__ADS_3

"Bukan alasan Abang. Tapi kasian sama kau, kalau harus ikut trip depan. Kita bakal lama di Sulawesi, sekitar dua bulan setengah keknya. Kau nanti malah lanjut jadi sekertaris satu. Kau bilang di chat, katanya gaji aja, gak dapat uang lain. Kurang puas kau kata, pengen dapat uang lebihan. Makannya Abang langsung urus, pas inget tanggal kau habis iddah." ungkap bang Daeng begitu lemah.


"Abang istirahat dulu." ia menyandarkan kepalanya lagi.


Matanya pun terpejam, tatonya terlihat jelas dari sisiku duduk.


Jadi, ia mengusahakan untukku lagi?


Kenapa sih dengan manusia satu ini? Kenapa ia sulit ditebak?


"Sini!"


Aku tersentak kaget, karena dalam sekejap aku berada di pelukannya. Aku bersandar di dadanya, yang terlapisi kemeja berwarna putih. Detak jantungnya pun, sampai terekam jelas di telingaku. Cenderung tenang dan stabil.


Tapi, aku tak mengerti kenapa ia malah menarikku dalam pelukannya?


"Tidur, bandara masih jauh." pintanya kembali.


Aku merasakan usapan lembut di lenganku.


Aku wanita dewasa, bagaimana mungkin aku mudah tertidur dengan posisi yang mengganjal seperti ini. Dadaku tertekan tubuhnya, ini sungguh tidak nyaman.


Aku mencoba melepaskan pelukannya. Sebisa mungkin, aku mengusahakan untuk melepaskan belenggunya. Apa-apaan bang Daeng ini!


"Dada aku sakit!" ucapku, agar ia mau melepaskan pelukannya.


Karena begitu sulit aku usahakan, untuk melepasnya tangannya ini. Begitu berat dan kokoh.


"Ohh..." hanya itu yang keluar dari mulutnya.


Ia melepaskan tangannya, "Cepet benahi." ujarnya dengan memandangku.

__ADS_1


Aku tidak suka beradu pandang dengannya!


Matanya buas, sorotnya mengunci pandanganku.


Bang Daeng menakutkan!


Aku segera membenahi, lalu duduk tegak kembali.


Namun, tangan nakal itu kini berada di bahuku. Tangan itu melewati tengkuk leherku.


"Bang, Daeng...." aku merengek, mencoba mengusir tangannya yang berada di bahuku.


"Ck..." nafasnya sampai menembus telingaku.


"Abang kangen, Dek." ia membisikkan kata itu.


Bang Daeng pernah mengatakan, bahwa dirinya tidak pernah merasakan rindu. Bahkan, ia tidak mengerti dengan rasa cinta. Namun, hari ini ia mengaku tengah rindu padaku. Apa jangan-jangan dia memiliki rasa yang tak pernah ia rasakan itu?


Tangannya pun kini berpindah ke pinggangku, mengekangku agar duduk tetap dekat bersamanya.


"Bang..." aku menoleh ke arahnya.


Hm, kan? Kan? Kan?


Hidung kami sampai bergesekan, saking dekatnya posisi kami.


"Abang!!" aku mencoba geser dan melepaskan tangannya di pinggangku.


"Apa???" ia malah bergeser semakin mendekat.


Aku menahan tubuhnya, karena tubuhnya lebih condong padaku. Aku takut, ia malah men*ndihiku.

__ADS_1


"Aku takut jadi kak Anisa. Aku tak sekuat janda-janda mandiri di luar sana. Iman aku tipis, karena Abang terlalu baik. Lebih baik Abang jaga jarak sama aku. Aku gak betah kerja, kalau Abang begini terus!" aku kembali mengungkapkan yang ada di hatiku.


Karena sekarang, aku bukan Canda yang terkurung di rumah megah itu lagi.


"Makannya lawan!!" ia menegakkan punggungnya, lalu pandangannya lurus ke depan.


Memang dari tadi aku pasrah?


Sejak awal ia mengisengiku di atas ranjang pun, aku selalu memberontaknya.


"Aku sampai keringatan begini, Abang kira aku masih belum ngelawan aja?!" aku memandangnya dari samping.


Ia menoleh, sorot matanya kembali membunuhku.


"Laki-laki memang begini! Lawan perasaan yang datang, bukan lawan tenaganya. Seberapa besar otot kau, tenaga perempuan gak seberapa untuk laki-laki." bang Daeng berbicara dalam nada rendah.


Tiba-tiba, tubuhnya condong ke depan. Kepalanya keluar dari antara kedua kursi depan. Ia seperti mengambil sesuatu, yang kemungkinan dari tas kerjanya. Karena terdengar resleting yang terbuka dan tertutup kembali.


"Nih, baca!" ia menaruh sebuah buku di atas pahaku.


Bunga.


Judul tersebut tertulis tebal.


Aku langsung membalik buku tersebut. Benar saja, penulisnya adalah neneknya Chandra lagi.


Aku kembali ke sampul depan. Di bagian paling bawah buku tersebut, tersimpan kata-kata yang ringan untuk dimengerti.


Kelopaknya yang rusak, membuatnya memiliki daya tarik tersendiri.


...****************...

__ADS_1


Doain, semoga novel Canda ini bisa direkomendasikan. Kalau udah ada konfirmasinya, nanti bakal crazy up selama satu minggu. 😁


__ADS_2