Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD407. Vonis dokter


__ADS_3

"Ya udah, nanti kita atur waktu."


Aku langsung memeluknya, kemudian mencium pipinya. Semudah ini berbicara dengannya, ketika ia tengah jinak.


"Mas komporin mamah ya?" bukan aku menuduh, aku hanya ingin tahu saja.


"Mana ada! Aku tak pernah nanya-nanya. Aku anak laki-laki mamah. Aku bisa jujur ke mamah, bisa cerita semuanya ke mamah. Tapi, mungkin mamah tidak bisa sebaliknya. Karena kembali lagi, aku laki-laki. Pola pikir aku sama pola pikir mamah mungkin beda. Malah jadi debat perbedaan pendapat, bukannya curhat dan cerita dari hati ke hati."


Aku jadi merasa seperti putrinya mamah Dinda. Karena sejauh pengamatanku. Mamah Dinda banyak bercerita dan buka suara padaku.


"Terus, Mas ada ngomong apa aja sama mamah?" aku penasaran, tentang mulut suamiku pada ibunya.


"Tak ada. Cuma kek kerjaan aja, bahas hal-hal seputaran tentang keuntungan di kerjaan mamah. Tak ada yang menjurus tentang perasaan mamah, malah aku ngehindari topik itu. Aku yakin, mamah pasti susah bikin dirinya bangkit. Aku tak mau ngingetin mamah tentang papah, dengan aku nanya-nanya tentang masalah itu."


Benar juga. Jadi, aku adalah manusia yang membuat mamah Dinda jadi banyak bersedih dong?


"Mamah kerja apa sih, Mas?" aku merapikan rambut suamiku.


Rambutnya sudah mulai gondrong lagi.


"Nulis aja, jual-jualin karyanya. Terus jualan baju PO gitu, sama jadi model kaftan gitu. Pakaian-pakaian perempuan matang, kek kaftan, gamis, dress, abaya, gitu-gitu keknya. Tak paham jenis bajunya, tapi kek baju buat lebaran tuh." mas Givan menangkap tanganku yang merapikan rambutnya.


"Memang mamah masih laku jadi model begitu?" aku meragu.


"Memang nampaknya kek mana?" aku merasa bahwa anaknya ini tersinggung.


Aku terkekeh kecil, kemudian mendekapnya kembali.


"Bobo aja yuk? Elus-elus punggung aku, Mas." aku memutar tubuhku membelakanginya.


"Pakai baju dulu coba!" ia bangkit dari posisinya, kemudian turun dan memakai celana trainingnya tanpa wadah belalai gajah.


Kami sudah mencuci, tetapi belum berpakaian kembali.


"Sarung Mas aja. Tolong ambilin, Mas." aku sudah nyaman, mataku pun setengah terpejam.

__ADS_1


Mas Givan memberikan sarungnya, yang tadi dipakainya untuk sholat. Aku langsung mengenakannya sampai batas ketiak, tanpa bangun lebih dulu.


"Mas, elus-elus." aku merengek, saat ia akan berjalan ke arah pintu kamar.


"Tak enak loh, Vendra sendirian di ruang keluarga." mas Givan berjalan kembali ke arah ranjang.


"Elus-elus aku dulu." aku sudah mewek-mewek.


"Iya, iya!" mas Givan kembali ke ranjang kami.


~


"Iya, Pak. Tapi mungkin bisa berubah, karena kandungan Ibu baru tujuh bulan. Ini hanya gambaran saja dan juga alasan di balik saran Saya, agar istri Bapak nanti melahirkan melalui proses operasi sesar."


Bukan layar monitor yang aku perhatikan, tapi mata suami yang begitu merah setelah mendengar kabar itu.


"Kalau diet gitu, mungkin tak bayinya jadi lebih kurus?" sejak kapan suamiku ikut agak-agak sepertiku?


Mungkin ini adalah pikiran paniknya, membuatnya mengeluarkan pertanyaan yang seperti itu.


"Masalahnya bukan cuma satu, Pak. Kalau tadi yang saya sebutkan, Disproporsi Cephalopelvic atau CPD. Ini kondisi panggul ibu yang terlalu kecil untuk melahirkan bayi secara normal, berbarengan dengan kepala bayi dan bahu terlalu besar untuk keluar dari leher rahim. Ditambah lagi, plasenta sepenuhnya menutupi s*rviks. Disebutnya ini, plasenta previa. Jadi, jalan lahirnya ketutup sama ari-ari bayi gitu Pak. Ya semoga aja, pas sembilan bulan nanti ada celah untuk jalan lahir. Tapi ya itu, CPD ini Pak." dokter kandungan tersebut menunjukan ke arah bagian di dalam monitor.


Ia pun mengusap wajahnya beberapa kali. Apa seperti ini penampakan mas Givan menangis?


"Kita lihat dari ukuran bayi saja, Pak. Usia tiga puluh minggu, berat janin sudah menyentuh di tiga ribu tujuh ratus gram. Dia bakal terus tumbuh, sampai siap dilahirkan." dan waktunya itu sekitar dua bulan lagi.


Sebesar apa nanti bayiku?


Mas Givan mengangguk beberapa kali, ia pun mengusap-usap kepalaku yang terlapisi hijab.


"USG berkala ya nanti, Bu?" perawat yang berada di sebelah dokter kandungan tadi, memberiku tisu kering untung mengelap gel ini.


Aku hanya mengangguk, setelahnya aku dibantu bangun oleh mas Givan.


"Ini resepnya, Pak. Ibu dan bayinya sehat selalu ya?" dokter tersebut tersenyum ramah pada kami.

__ADS_1


Mungkin, sesi konsultasi sudah bareng saat USG tadi. Dikarenakan, antriannya begitu panjang.


Mas Givan masih menggenggam tanganku begitu erat. Dengan sesekali ia menggosok hidungnya yang merah sempurna.


Matanya pun begitu menyeramkan, seperti ia tengah dirundung amarah.


Aku hendak menggunakan sabuk pengaman. Namun, mas Givan malah mendekapku seerat sabuk pengaman.


"Harus gimana? Aku tak mau kau dioperasi, Canda. Aku takut, aku takut." suaranya bergetar bercampur dengan isakan.


Mas Givan menangis? Menangisiku?


Aku yang memiliki badan masih santai dan tidak memikirkan ucapan dokter tadi. Tapi, suamiku yang malah panik seperti ini.


"Kan belum sembilan bulan, Mas. Masih bisa berubah." aku teringat akan posisi janin Chandra yang sungsang. Namun, ia berputar sendiri ketika masanya melahirkan.


"Kita harus cari dokter lain, kita USG lagi. Barangkali, vonisnya beda. Mana tau, dokter itu sengaja vonis-vonis aja. Biar dana masuk ke rumah sakitnya lebih besar, daripada biaya lahiran normal." mas Givan melepaskan pelukannya, kemudian ia mengusap-usap perutku.


"Jadi anak baik, Nak. Ayah takut kalau begini. Ayah takut denger cerita operasi. Jangan sampai bikin Biyungmu dioperasi, Nak." mas Givan menunduk, kemudian mencium perutku begitu lama.


Isakannya terdengar jelas. Bahkan, sampai sesenggukan. Namun, tidak lebay.


"Jangan panik, Mas." aku membelai kepalanya.


Untuk saat ini, aku memang masih tenang.


"Jangan panik gimana?! Kau nanti dioperasi, Canda! Perut kau di bedah, kau lahiran lewat perut. Lendra yang tak melahirkan aja, bisa punya komplikasi separah itu. Nah, kau orang sehat malah dibedah-bedah gitu. Aku takut, Canda. Kau lemah, aku takut kau tak kuat sakitnya setelah bius itu hilang. Aku takut kau kesakitan, Canda. Aku takut, kau ngerasain hal itu, Canda. Aku tak mau kau ngerasain meja operasi." mas Givan membingkai wajahku, saat mengatakan hal itu.


Mas Givan trauma.


Mas Givan khawatir aku tidak kuat. Mas Givan takut kehilanganku, meski ia tak mengatakannya.


Ia sampai menangis seperti ini. Laki-laki galak dan pemarah, bisa menangis seperti ini saat mendengar kabar istrinya akan dioperasi untuk melahirkan anaknya.


Terima kasih, Ya Allah. Hari ini aku diberi bukti, tentang suamiku yang begitu mencintaiku.

__ADS_1


Saat cinta aku ragukan. Aku hanya mengabdi dan menurutinya, tanpa tahu perasaannya. Hari ini, aku diberi bukti sebesar apa ketakutannya kehilangan diriku. Meski, harus Engkau sampaikan dengan kabar yang tidak mengenakkan untukku dan suamiku.


...****************...


__ADS_2