
"Baik, Pak. Terima kasih." bang Daeng berjabat tangan dengan vendor perusahaan tempat kami bekerja.
Kesepakatan kembali didapatkannya, setelah berbicara panjang lebar sampai memakan waktu dua jam lebih. Kini, ia langsung meneguk air kemasan botol yang dipesankan kak Raya selain minuman dingin dalam gelas di sebelah botol tersebut.
Klien tersebut langsung pergi dengan sopan, dengan dokumen dari bang Daeng. Kami sudah satu minggu aktif bekerja, dengan jadwal yang cukup padat. Kami selalu pulang sore, bahkan malam hari untuk menyelesaikan pekerjaan kami.
"Kapan sih libur, Ya? Perasaan stress betul otak." bang Daeng memijat pelipisnya sendiri.
"Mau ambil libur kah? Gak mau ambil trip depan langsung kah? Biasanya, kita nyambung trip terus." kak Raya tengah menyicipi cemilan yang tak tersentuh oleh klien kami tadi.
"Kasian, kau pengantin baru." kak Raya langsung tertawa lepas, saat bang Daeng mengasihaninya.
"Ok, ok. Empat hari lagi kita selesai tugas, terus aku ambil libur dulu ya buat kita?" kak Raya langsung mengutak-atik ponselnya.
"Berapa lama kita dapat libur?" tanya bang Daeng kembali.
"Dua hari paling. Lumayan lah, Len. Kita kebut nih, geser-geser jadwal. Jadi kita bisa libur lebih dulu, sebelum masa kerja habis." alis kak Raya turun naik dengan cengiran kudanya.
"Kau atur aja, Ya. Yuk, balik ke hotel." bang Daeng membereskan barang-barangnya.
__ADS_1
Aku pun ikut membereskan alat kerjaku. Seperti biasa, papan kayu untuk alas menulis. Dengan beberapa map yang sudah tersusun rapih.
Sejak hari itu, aku dan bang Daeng tidak melakukan hubungan biologis sama sekali. Aku pun membiarkannya, aku menahan-nahan diriku untuk tidak merengek padanya.
Ternyata harga diri bang Daeng lebih mahal dari mas Givan.
Ia sepertinya begitu tak sudi, jika merengek lebih dulu padaku. Padahal, ia tidak ganteng. Kenapa tingkahnya begitu merepotkanku?
Apa karena, rumah tangga ini tidak melewati masa saling mengenal? Membuat kami menjadi begitu jual mahal. Ya, aku memilih untuk jual mahal padanya. Dari dulu pun, aku tidak pernah merengek meminta hak batinku pada mas Givan. Mas Givan memberikannya rutin, tanpa aku memintanya.
Entahlah, apa yang aku rasakan sekarang. Mungkin, aku tengah lelah dengan rumah tangga yang begini-begini saja.
Komunikasi kami masih baik, perhatian darinya pun tidak kurang sedikitpun. Namun, saat sudah berada di ranjang. Bang Daeng memilih untuk terlelap lebih dulu, meski aku tahu ia pernah melakukannya untuk pura-pura saja.
Ya, aku pernah mendapatinya pura-pura tidur. Saat aku berpura-pura sudah pulas, ia malah bangun lalu pindah ke ruang dapur. Aku mengintipnya, memperhatikannya dan kegiatannya. Ia tengah merokok di sana, dengan ponsel yang menemaninya. Dalam satu minggu ini, hal itu sudah terjadi sebanyak tiga kali.
Ia menutupi sesuatu dariku, dengan ponselnya dan orang-orang yang berada di dalam kontak ponselnya. Aku bisa menyeret kontak ponselnya bukan tanpa alasan. Tapi didasari dengan bukti.
Ia sering bertelepon ria, saat aku sibuk dengan rutinitasku. Seperti saat aku tengah mandi dan sholat. Ia mengangkat telepon dari seseorang, dengan menggunakan bahasa asal kampungnya.
__ADS_1
Sempat terlintas, apa ini masih berhubungan dengan Dikta? Sebenarnya aku tidak masalah, jika beberapa dana dikirim untuk Dikta. Hanya saja, aku butuh sikap transparannya mengenai keuangan.
Aku hanya diberi uang gajinya. Biaya makan kami dan setiap kami mampir ke minimarket pun, selalu ditanggung olehnya. Hanya saja, uang tripnya yang mendapat bagian lebih besar dari aku dan kak Raya, ia pegang seorang diri. Aku paham, ia butuh modal untuk trip selanjutnya. Namun, aku hanya ingin sikap transparannya saja.
"Mau itu gak, Dek?" bang Daeng menunjukkan pedagang martabak manis spesial di pinggiran jalan.
"Tak, Bang." karena banyaknya pertanyaan, aku tidak berselera untuk makan.
"Balik duluan aja, Ya. Aku mau jalan-jalan sama Canda dulu, aku mau beli sesuatu buat dia." bang Daeng langsung menarikku, membawaku berjalan kaki di trotoar jalan.
"Ya, Len." sahutan kak Raya telat diucapkan.
"Mau ke mana kita?" ini adalah pusat kota. Kanan dan kiri tempat kami berpijak adalah mall besar, tempat karaoke, hotel-hotel mewah, sampai coffe shop yang begitu modern.
"Ke.....
...****************...
HP tiba-tiba hang.. kepenuhan apa gitu.. padahal aplikasi dan isi galeri sedikit.. lagi galau, mau di pabrikan ulang, sedangkan cadangan naskah ada beberapa.. Sayang, takut hilang. ðŸ˜
__ADS_1