
"Tidur lagi aja, Dek." mamah Dinda berbicara tanpa menoleh padaku.
Bahagianya.
"Iya, Mah." aku memutar tubuhku, hendak kembali ke dalam kamar.
Namun, aku mendengar suara helaan nafas mamah Dinda yang begitu berat.
"Mamah nyindir kau, Canda!" ujarnya datar, tetapi mampu menghantarkan gelombang tidak enak hati untukku.
Aku memberikan senyum terbaikku, "Maaf, Mah. Kemarin malam aku tidur setengah satu malam, aku keingat bang Lendra terus, aku tak bisa tidur. Terus jam tigaan aku udah kebangun lagi, karena keingat paginya akad. Udah gitu, siang tadi aku tak tidur, sorenya sibuk buat acara bang Lendra."
"Lancar kau alasan. Coba dulu kau begitu, mungkin minim ribut sama Givan." beliau melirikku.
Tadi pun bahkan aku ribut dengan mas Givan. Tapi seperti humor pagi untukku.
"Iya, Mah. Maaf, Mah. Aku tau, tak baik bangun siang. Mana anak aku sekolah pagi lagi." aku menyadari kesalahanku.
"Ya udah sana carikan becak motor atau panggilkan adik ipar kau, buat antar Chandra. Terus urus kenang-kenangan Lendra buat kau, Ceysa jangan kau telantarkan kek Chandra. Kasian, anak yatim."
Ceysa punya ayah sambung. Ceysa tidak disebut yatim lagi.
"Iya, Mah." aku melangkah keluar dari rumah, untuk mencarikan transportasi untuk Chandra.
Sepinya lingkungan ini. Papah Adi pun sudah tidak berada di rumah, persis seperti yang mas Givan katakan.
Ada juga Zuhdi, yang berada di lingkungan pembangunan rumah anak-anak mas Givan itu. Ia akan bekerja, aku tak mungkin meminta bantuannya.
"Nyari siapa?"
Aku langsung celingukan mencari sumber suara. Hingga terlihat jelas seseorang yang tengah berjalan ke arah sini, ia datang dari pertigaan rukoku.
Ardi Fadlan.
"Nyari becak motor." jawabku kemudian.
"Mau ke pasar?"
Aku langsung menggeleng atas pertanyaannya, "Mau buat nganter Chandra sekolah."
Bang Ardi hanya mengangguk, ia melanjutkan langkah kakinya ke arah pembangunan itu.
Ternyata, ia masih punya keberanian bertegur sapa denganku. Dengan kenyataan Aini yang hamil duluan, berarti ucapan papah Adi tentang bang Ardi yang keluar dari ladang pukul sembilan malam dengan wanita itu benar adanya.
Aku malah berprasangka, bahwa ia dan istrinya diusir dari rumah orang tuanya. Sehingga mereka memutuskan untuk menumpang di rumah kakaknya itu.
Aku berjalan dari ujung ke ujung. Sayangnya, tetap tidak ada becak motor yang lewat sekitar sini.
Motor putih itu dikendarai oleh adik sang pemiliknya. Ia melaju mendekat padaku.
__ADS_1
"Mana Chandranya? Sini dianter." bukan pamannya yang memiliki niat itu, tetapi Ardi Fadlan.
"Tak usah lah." aku baru satu hari jadi menantu di sini, aku tidak mau dikembalikannya lagi ke ibu.
"Ya, tunggu nih."
Aku menoleh ke belakang. Cukup shock, melihat mamah Dinda dan Chandra yang berjarak beberapa langkah denganku. Dengan mereka berjalan menghampiriku dan bang Ardi.
"Kau antar dia, terus kau titipkan ke gurunya. Bilang ya, nanti keluarga papah Adi jemput Chandra di jam pulang." pesan mamah Dinda, dengan membantu Chandra baik ke depan motor itu.
Ransel karakter Transformers milik Chandra, cukup mengganggu dan memakan tempat di situ. Membuat bang Ardi melepaskan ransel Chandra, lalu ia mengenakannya.
"Iya, Mah. Teungku haji biasa dikenalnya." ujar bang Ardi.
Mamah Dinda mengangguk, "Ya, sampaikan ke guru pengajar Chandra." pinta mamah Dinda kemudian.
"Iya, Mah." motor tersebut langsung melaju pergi, dengan suara mesin lama yang begitu khas tersebut.
Malah, saat dulu motor itu muncul. Bunyi knalpotnya seperti suling yang ditiup.
Aku menghadap ibu mertuaku dengan rasa canggung. Aku takut, beliau salah paham.
"Mah, tadi aku tak minta Ardi buat anter Chandra." ucapku lirih.
"Ya, Mamah yang nyuruh kan tadi?" beliau dengan santainya berbalik badan dan melangkah masuk kembali ke dalam rumah.
Aku mengikuti langkah mamah Dinda, berniat untuk membersihkan diri dan memasak untuk anak-anak. Aku adalah ibu banyak anak, yang merangkap sebagai istri juga.
Hmm, empat anak. Dengan Zio yang otomatis ikut serta dalam kartu keluargaku, dengan aku sebagai ibu kandungnya seperti kasus Key.
Aku tidak keberatan, karena mas Givan tetap galak ke semua anaknya. Berbeda dengan bang Daeng kemarin, ia terlihat sedikit lebih condong ke Jasmine.
Ah, sudahlah. Jangan mengungkit yang telah tiada. Toh, aku rujuk dengan mas Givan pun atas amanah darinya.
"Ya, Bu. Diantar anak besan Saya, Bu. Iya, tolong jagain sampai nanti anak-anak Saya nanti jemput di jam pulang ya?" mamah Dinda tengah menelpon seseorang.
"Iya, Bu. Masih sibuk, ayahnya pun lagi keluar kota." mamah Dinda berbicara begitu ramah.
"Terima kasih ya, Bu?" beliau masih sibuk dengan ponselnya.
Aku memilih untuk menarik gagang pintu kamarku kembali, untuk menunaikan mandi pagiku yang terlewat beberapa jam.
"Canda jangan tidur lagi!" mamah Dinda sudah mulai cerewet.
Aku menoleh ke arahnya, dengan pintu kamar yang sudah terbuka.
"Mau mandi aku, Mah." sahutku kemudian.
"Ya, cepet. Terus sarapan lah kau." mamah Dinda duduk kembali di karpet ruang keluarga.
__ADS_1
Aku hanya mengangguk, kemudian segera masuk ke dalam kamar. Ceysa masih terlelap, ia kurang tidur karena sering menangis tidak jelas. Meski ia tidak mengerti, tapi Ceysa merasakan kehilangan sosok yang selalu memberinya jajanan itu.
~
Mas Givan tak mengabariku selama tujuh hari. Apa yang ada di pikiranku, ya itu tentang kebersamaannya dengan Putri.
Ia seperti lupa denganku dan anak-anaknya, meski di sosial medianya aktif mengunggah foto berjasnya. Sedikit hal yang membuatku tenang, karena ada banyak foto pernikahan kami di sosial medianya.
Aku trauma dengan masa ia meminta izin untuk reuni. Janji hanya sehari, tetapi sampai tiga hari.
Aku khawatir, ia malah bermain dengan wanita-wanitanya di sana. Aku tidak masalah sebetulnya, dosa pun ditanggung dirinya sendiri.
Tapi, aku adalah istrinya. Yang bilamana ia tertular penyakit seksual dari wanita di luar sana, maka otomatis aku akan kena getahnya juga. Aku adalah istrinya, yang seharusnya menjadi tempat pelepasannya, bukan para wanitanya.
Mumet sudah, jika sudah berpikir dengan masalah yang tidak jelas seperti ini.
"Alhamdulillah ya, Ndhuk? Acara selesai, yang datang pun banyak terus."
Aku dan ibu tengah duduk di teras rumah mangge Yusuf, karena malam ini adalah malam tujuh harian bang Daeng. Acara sudah selesai satu jam yang lalu.
Aku sekarang, tengah duduk bersantai dengan mengobrol ringan.
Tidak ada yang lebih heboh, daripada anak-anakku yang berjumlah empat orang ini. Ditambah lagi, Jasmine dan Kal ikut serta dalam kehebohan permainan mereka.
Mereka berlarian ke sana ke mari, seperti permainan jaman dulu. Key yang pasti merajai, karena ia paling tertua di sini.
Meski begitu, ia tetap memanggil Chandra dengan sebutan abang. Saat aku tanyakan, alasannya begitu sederhana. Yaitu, agar Chandra tidak menggetok kepalanya.
Itu mudah untuk Key, tetapi tidak untuk Jasmine. Chandra dan Jasmine masih saja berseteru, mengenai panggilan tersebut.
"Iya, Bu. Alhamdulillah, banyak yang doain." aku tersenyum pada ibu.
"Istirahat, Canda." aku menoleh pada mangge, yang tatonya membuatku teringat anaknya.
"Ya, Mangge " sahutku kemudian.
"Istirahat, udah setengah sepuluh. Main lagi besok ya? Jasmine mau bobo dulu." beliau tersenyum, kemudian beliau menggandeng Jasmine agar tidak berlari kembali.
"Yuk, pulang yuk?" aku menggiring anak-anak.
Hingga tak lama, karang taruna datang untuk mengambil kursi plastik dan membongkar tenda. Aku mengajak anak-anak pulang, hanya Zio yang tertinggal. Karena Zio masih ikut dengan ibu, kami belum mendapat obrolan lagi dari mas Givan.
"Cuci-cuci dulu." aku mengajak Kal, Key, Chandra dan Ceysa untuk mencuci tangan dan kakinya di keran samping rumah.
Trekkkkk....
Pagar yang sudah aku kunci, dibuka lagi oleh seseorang yang menggendong ransel.
...****************...
__ADS_1
Siapa itu 😨