
"Bukti apa sih, Mas?" tanyaku kemudian.
Aku merecoki pembicaraan mereka saja dari tadi.
Mas Givan menoleh ke arahku sekilas, "Untuk memberatkan Putri. Mamah minta, biar dia lama di penjara. Jadi, finansial yang dia bantu di awal itu. Aku diminta ganti, dua kali lipat dari jumlah tersebut. Totalnya, sekitar enam puluh triliun. Jadi, kek kena pasal berlipat gitu nanti dia ini. Pemerasan, karena tak sesuai perjanjian awal. Terus, kecelakaan kerja yang dimanipulasi dia ini."
"Memang ada perjanjiannya, Mas?"
Mas Givan malah mengusap-usap dadanya sendiri. Ia mengatur nafasnya, dengan gelengan kepala.
"Heh, Cendol. Pembayaran buku LKS di sekolah aja ada kwitansinya. Apalagi ini dalam hal bisnis. Pasti ada tanda bukti, juga ada kesepakatan tertulis. Kau kira dunia bisnis ini, kek janjiin pacar buat nikah kah? Ya Dek, tahun depan kita nikah." mas Givan pura-pura menirukan suara orang lain, "Tak bisa begitu tuh. Tak bisa perjanjian cuma lisan aja."
Mavendra sampai tertawa lepas.
Mas Givan sering begini soalnya. Memarahi istrinya di depan keluarga sendiri. Kan, orang lain jadi tahu bagaimana aku.
"Makanya, bukti-bukti itu dikumpulkan, diserahkan ke Winda. Winda proses pengadilan, kita siapkan advokat dan bukti-bukti pendukung. Terus kita siap sedia untuk segala kemungkinan, saat Putri ngajuin banding. Biar tak salah langkah kita." lanjut mas Givan, dengan suara yang cukup lantang.
"Begitu loh, Kakak Ipar." malah Mavendra yang melanjutkan.
Mas Givan mengusap kumisnya sendiri, "Begini Ipar kau. Bikin gemes tiap waktu. Aku jadi khawatir mati muda kalau begini. Mana anak masih kecil-kecil, biaya pendidikan belum aman."
Memang aku kenapa sih?
Mas Givan yang ngotot-ngotot sendiri dan marah tidak jelas. Tetapi, malah aku yang seolah bersalah.
Dasar, aneh!
"Jadi kita sekarang ke Kenawat Redelong nih?" Mevendra bangun dari duduknya.
"Nanti tunggu mamah. Banyak pesanan mamah tuh. Nanti kita bantu packing dulu, anterin ke ekspedisi pengiriman barang. Terus siap-siap ke Kenawat Redelong."
Mavendra mengangguk, "Aku mau jalan-jalan dulu di depan gang, Bang." ia berjalan ke luar dari rumah ini.
"Mas, aku ada obrolan sama mamah. Rencananya, mau buka usaha daster. Dari konveksi kita sendiri, kita pasarkan sendiri." aku pikir, usaha ini akan membantu meringankan beban mas Givan.
Mas Givan mengangguk, "Kecil, paling modal berapa juta aja itu. Buat kesibukan kau, biar habisin kuota ada manfaatnya." mas Givan menjentikkan jarinya.
__ADS_1
Ia tengah kesusahan, bahkan banyak hutang. Tapi, herannya, sombongnya tidak hilang.
Aku merengkuh lehernya, kemudian menciumi pipinya. Mas Givan tersenyum kecut, dengan melirikku sekilas.
"Pasti kau bangga betul bisa aku hamili?"
Pertanyaan macam apa itu!
Aku menciumnya kembali, dengan tertawa lepas. Aku merasa mas Givan begitu lucu, aku ingin mengunyel-ngunyel pipinya.
"Ehh, nanti di rumah sana mandi bareng ya? Kita berendam di bathtub kita, sambil gosok-gosok punggung. Biar kau tak bau kecut lagi."
Aku mencubit perutnya. Awalnya terdengar romantis, tidak tahunya ini mengenai bau badanku lagi.
Aku cepat merasa gerah, dengan bau keringat yang asem. Tidak tahu juga kenapa, tapi baunya seperti ketek Chandra. Ya kecut-kecut sedap bagaimana gitu.
"Pengen dicium yang banyak sih, Mas." aku terus mengusel padanya.
"Minta cium terus. Bener kata mamah. Mau heran, tapi Canda." mas Givan membingkai wajahku, kemudian mendaratkan kecupan sebanyak mungkin.
~
Aku bisa menyaksikan papah Adi yang memutar lehernya, menyaksikan rombongan kami yang berjalan menuju ke rumah Ghava. Beliau sedang duduk di teras rumah Ghifar, dengan tamu yang familiar.
Aku dan rombongan melewati pintu besi, yang menjadi jalan penghubung rumah kami dengan rumah Ghifar. Mamah Dinda yang terlihat cuek, ditambah pengawalan ketat dari mas Givan dan Mavendra.
Aku ikut di belakang saja, dengan menggandeng tangan Ceysa. Entah untuk apa fungsinya aku ikut, karena Ceysa yang minta ikut dengan mas Givan. Namun, aku yang ikut ngintil juga.
Masalah semakin keruh menurutku. Karena dengan tamu tersebut yang mengunjungi papah Adi, menandakan bahwa keseriusan hubungan papah Adi dan ibu Bilqis.
Entah benar atau salah. Tapi inilah kesimpulan, yang dapat aku tarik. Ya, hanya kesimpulan dari menantu bodoh sepertiku.
Aku bisa melihat mas Givan, yang terus mengusap-usap lengan mamah Dinda. Mas Givan merangkul ibunya, sepanjang kami berjalan. Sepertinya, mas Givan tahu dengan perempuan asing yang berkunjung itu.
Saat mas Givan, mamah Dinda dan Mavendra tengah mengobrol dengan Winda. Aku memilih duduk di luar dengan Ceysa, Adib dan Ghava. Ghava mengatakan, bahwa dirinya tidak tahu dan tidak mengerti urusan Winda dengan mamah Dinda.
Ya sudah, mari kita berghibah saja dengan Ghava.
__ADS_1
"Va.... Papah Adi serius sama calon ibu sambung kau?" aku bertanya dengan suara berbisik.
Ghava melirik ke teras rumah Ghifar, "Sembarangan! Ma sambung kau kali."
Aku terkekeh kecil, "Dia sering ke sini?" tanyaku kemudian.
Yang aku maksud dia, adalah ibu Bilqis.
"Kata kak Kin sih, dua kali ini. Risih tau tak? Kek apa tuh. Orang papah belum duda ya kan?"
Aku mengangguk menyetujui ucapan Ghava, "Kau tak berniat bantu papah kau jadi duda?" aku ingin tahu tanggapannya.
Matanya melebar lepas, "Sungkan! Aku lebih baik punya adik lagi dari mamah sama papah, daripada punya ma sambung. Ma kandung aku aja, luar biasa galaknya. Apalagi, kalau nasib dapat ma sambung. Karena biasanya kan, kalau ma sambung ini, satu dua dengan ibu kandung kita. Kek filtrasi dari orang bersangkutan sendiri gitu. Kek si kepala keluarga ini, cari kesamaan dari ibu kandung kita."
"Heh, rasanya papah tak mungkin cari perempuan yang sama kek mamah. Ujian tak sih dapat mamah tuh? Kau tak nampak kah? Papah aku itu sampai masih pakai penyangga tulang aja." aku melirik ke teras rumah Ghifar.
Papah Adi menggunakan korset penyangga tulang itu, di luar kaosnya. Membuatku, bisa melihat dengan jelas.
Ghava tertawa tertahan, "Bang Givan juga ujian dapat kau. Sebetulnya, kau mihak ke mana sih? Kok heran aku."
Harusnya Ghava mengatakan, mau heran tapi Canda. Biar kompak seperti mas Givan dan mamah Dinda.
"Kita buat sekutu aja gimana? Banyak yang mihak mamah, atau banyak yang mihak papah. Nanti, yang menang dapat bagian utang dari mas Givan deh."
Ghava tertawa lepas, sampai mas Givan melongok dari jendela. Adib dan Ceysa pun, saling memandang dengan tatapan bingungnya.
"Kuat-kuat kau ketawa! Malu tau!" aku menepuk pundak Ghava.
"Sekarang, lebih kaya siapa nih? Kaya mamah? Atau papah? Baiknya, kita dukung mereka yang lebih kaya. Kan biasanya amplopnya lebih tebal. Ya tak sih?" ia tertawa renyah lagi.
Aku jadi tertular tawa darinya, "Kaya mamah lah. Tadi aku pulang naik mobil Chevrolet Trailblazer, punya mamah. Enak betul mobilnya, di polisi tidur tak berasa ada gejlugan loh." mataku sampai berbinar.
Ghava menjentikkan jarinya, "Yuk, kita dukung.....
...****************...
Jangan ngobrol sama Canda, Ghava 😠nanti kau ketularan bodohnya aja. Udah, Canda tak usah ditemani. Mau heran, tapi Canda 🤣
__ADS_1