
Jam sembilan malam ini juga, bang Daeng dikebumikan. Berat rasanya, Jasmine pun sampai menangis kejar. Hanya Jasmine yang mengerti ditinggalkan orang tua untuk selamanya. Tidak dengan anak-anak yang lain, yang masih kecil.
Rasanya mata ini begitu pedih. Aku tak kuasa menahannya. Ini adalah benar-benar untuk yang terakhir kalinya, aku melihat bang Daeng lagi.
"Biar Papah, naik lah." papah Adi berjongkok, tepat di depan kepala bang Daeng dibaringkan menghadap tanah.
Mas Givan dan mangge Yusuf naik kembali ke atas, dengan papah Adi yang mulai mengumandangkan adzan. Begitu mengiris, karena suara adzan dari papah Adi sampai bergetar dan berirama begitu pilu.
Aku yakin, papah Adi pun merasa kehilangan sosok manggenya Ceysa juga.
Setelah bang Daeng ditutup dengan papan dan kayu. Mulailah dirinya ditimbun dengan tangis Jasmine yang enggan mereda.
Aku malah teringat ucapannya, agar aku tetap ramah pada Jasmine. Jangankan Jasmine, dosa terbesar mas Givan pun aku mampu menyayanginya.
Tahlil singkat dilakukan. Doa terbaik untuk bang Daeng pun, diaminkan oleh kami semua. Sampai akhirnya, satu persatu dari kami meninggalkan bang Daeng sendirian.
Dengan langkah berat, aku meninggalkannya dalam kegelapan. Semoga, bang Daeng berada di tempat terbaik di sisi-Nya.
~
"Kau buat resepsi sampai jam berapa, Cendol?!" pertanyaan mempelai laki-laki ini tidak ramah.
Seiring kedatangannya, bau minyak kayu putih menyeruak di kamarku yang menjadi tempat berganti baju dan make up ini.
"Jam tiga sore, Mas. Jam setengah delapan akad, mulai resepsi jam sepuluh." terangku kemudian.
Aku masih duduk tegak, dengan dipasangkan bulu mata anti virus ini.
"Duh.... Pagi kali kau akad." mas Givan ada di belakangku, ia tengah mengutak-atik ponsel milikku.
Aku bisa melihat kegiatannya, dari pantulan cermin ini.
Yang menjadi pertanyaanku, kenapa ia memainkan ponselku?
"Memang mau ke mana sih?" aku teringat akan dirinya yang banyak acara misterius.
"Cabut gigi. Obat semprot dari Kin, cuma nahan sakit beberapa jam aja."
Tepuk jidat aku pada bos tambang ini.
"Waktu kau pasang gigi palsu, jenis apa dan gimana prosesnya?" mas Givan bertanya pada seseorang yang baru muncul.
Ghifar.
Ia masuk dengan membawa sebuket bunga ke arahku.
"Operasi kecil, Bang. Prosesnya tiga mingguan. Bolak-balik rumah dokter gigi, terus rumah sakit. Konsul aja dulu, tak boleh langsung cabut aja. Barangkali belum kl*maks."
Ghifar menaruh buket bunga itu ke pangkuanku, "Dari aku. Jangan bilang Kin." ujarnya lirih.
"Ajuin dokumen kau cepat! Tak mau Abang, kalau kau usik-usik Abang lagi." mas Givan berseru, dengan berdiri di sisi kiriku.
Namun, Ghifar malah berjalan memutar. Ia tertawa geli dengan memeluk kakaknya itu.
__ADS_1
"Cuma kasih hadiah." jelas Givan dengan tawa.
"Mau kau dihantui Lendra?! Nanti dia ketuk-ketuk jendela balkon kau!"
Pihak MUA sampai menahan tawa.
"Kau nanti pas tidur di samping Canda, malah dicekik almarhum loh." tambah Ghifar kemudian.
Aku tidak boleh tersinggung. Aku harus paham, bahwa memang cara bergurau keluarga Adi's Bird sedikit ekstrim.
"Mana-mana bunganya?" mas Givan langsung mengambil buket bunga yang berada di pangkuanku.
Kenapa subuh ini begitu heboh?
"Janganlah, Bang. Di dalam ada antam, ilang nanti tuh!" aku bisa melihat dari pantulan cermin, bahwa Ghifar mencoba merebut buket bunga itu.
"Coba bongkar, Abang mau tau." pinta mas Givan.
"Ya biar Canda sendiri sih, Bang! Itu kan hadiah buat Canda, kenapa aku yang unboxing? Nanti kelopaknya kan, bisa dia kopekin. Terus ditaburi di kasur kalian. Kalau dikopek sekarang, nanti dipakai Ceysa masak-masakan lagi." Ghifar menaruh kembali buket bunga itu ke pangkuanku.
"Mau liat antamnya. Besar tak?" tanya mas Givan dengan tertawa geli.
Wajah Ghifar langsung masam.
"Biar nanti Canda sendiri yang kasih tau!" tegas Ghifar dengan wajah kesalnya.
"Tak suka loh Abang, Far!" mas Givan seperti ngambek.
Ia duduk di kursi, yang berada di sebelah kaca rias ini dengan wajah cemberutnya.
Ghifar tertawa lepas, "Itu liat nanti." jawabnya enteng, dengan keluar dari kamarku di ruko ini.
"Punya adik agak-agak, ragu waras rasanya." gerutu mas Givan dengan wajah masamnya.
Aku pura-pura fokus ke cermin saja, seolah tadi tidak melirik ke arahnya.
"Hei, Canda." ia melemparkan bekas bungkus bulu mata padaku.
"Hmm?" aku meliriknya.
"Kau jangan nangis nanti. Aku tak mau, dua akad kau nangis aja. Pengen punya foto nikahan yang pantas di pajang di ruang tamu, make up kau jangan sampai rusak."
Bisakah aku tidak menangis? Saat tamu yang datang menanyakan bang Daeng?
Tentu rekan bang Daeng pun akan terheran-heran, saat mempelai laki-lakinya tidak ia kenal.
"Canda kau tak dengar kah?" tanyanya sedikit tegas.
"Masanya ada yang nanya bang Lendra mana, apa mungkin aku gak nangis?" aku mencoba mengajak mas Givan mengerti akan perasaan dan pikiranku.
"Jangan ada yang nanya. Udah ada foto Lendra, ucapan turut berdukacita, bendera kuning juga di samping pelaminan kita. Orang-orang pasti paham, mungkin juga enggan nanya. Pasti mereka menghargai perasaan mempelai."
Benarkah ada fotonya juga?
__ADS_1
Aku tidak tahu, karena aku dipaksa tidur dalam tangis sejak pulang dari pemakaman bang Daeng.
"Dato masih di sini?" tanyaku kemudian.
"Masih, besok mau bawa Ceysa katanya."
Hah?
Kenapa mas Givan sesantai itu?
"Jangan dong, Mas. Udah Lendra diambil yang kuasa, anak aku diambil nene uttunya. Jangan boleh lah, Mas!" aku meliriknya dengan sorot menyipit.
"Tak tau, liat nanti aja. Yang penting gigi beres dulu."
Gigi lagi?
"Resepsi sampai jam dua aja coba! Jam tiganya mau ke rumah sakit. Kalau jam empatan, takut polinya tutup."
"Masalahnya, di undangannya sampai jam tiga Mas."
"Huh....." mas Givan malah melamun.
"Ganti baju dulu, Bang." ujar seseorang, yang tengah mengacak-acak rambutku ini.
"Nanti lah, masih setengah enam."
Mas Givan bangun, kemudian ia berdiri dengan mengulurkan uang padaku.
"Barangkali sore atau malamnya butuh uang. Takut aku sibuk nanti, repot anak minta jajan."
Aku menerimanya.
Tidak banyak, hanya seratus ribu. Setidaknya, ini peningkatan. Dahulu, hanya lima puluh ribu.
Okeh, aku paham aku mulai dijatah dari hari ini.
"Ingat, jangan nangis." ia berlalu pergi.
Aku dilarang menangis, lantaran ia ingin foto pernikahan yang bagus untuk dipajang di ruang tamu?
Super sekali.
Bukannya ia tidak mau aku bersedih hati, di hari bahagianya. Namun, ia malah ingin foto dengan hasil bagus untuk pajangan.
Otaknya antik? Atau memang, entahlah.
Rasanya perutku geli ingin tertawa.
Dasar, sulung yang manja ke ibunya.
Hingga beberapa saat kemudian. Aku sudah menahan berat sunting adat Aceh di kepalaku.
Aku akan minta Paracetamol pada mamah Dinda setelah akad nikah nanti.
__ADS_1
Kurang lebih tiga setengah kilogram, harus aku bebankan di kepalaku selama kurang lebih tujuh jam.
...****************...