Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD291. Kebohongan lagi


__ADS_3

Aku, Giska dan Aini langsung menoleh ke ibu-ibu yang muncul dengan menenteng dua kantong plastik.


Giska bangun, ia menghampiri ma.


"Kenapa, Ma?" tanya Giska kemudian.


Ma Robiah seperti kaget, saat melihat kehadiranku dan Aini di sini.


"Ehh, masih di sini. Kau cepet-cepet balik aja sih tadi! Nih bawa, mangga dari rumah Ma. Udah pada matang ternyata. Soalnya dituain dulu, yang minggu lalu dipanen belum matang itu." ma menunjuk Aini.


Aini bangkit, kali ia segera turun dari teras rumah Giska. Untuk menghampiri ma Robiah sepertinya.


"Iya, Mah. Ini singgah dulu ke rumah Kak Giska." Aini langsung mengambil alih, plastik yang diulurkan padanya itu.


Hubungan yang akrab.


Bad mood sudah aku.


"Makasih, Ma." tambah Aini yang bisa aku dengar.


Entah mereka bertiga bercakap-cakap apa lagi. Karena aku kini fokus memperhatikan anak-anak saja.


Aku bergegas mengejar mereka, karena Hadi mengajak Ceysa untuk masuk. Mereka berburu mainan lagi. Mereka duduk di dekat jendela yang memiliki pagar kayu sebatas pinggang orang dewasa.


Cek jendela rumah milik Upin-Ipin.


Aku memutar kepalaku, untuk mencari keberadaan jam dinding. Ternyata, waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas siang.


Tidak terasa juga, perasaan baru main sebentar.


"Pulang yuk, Dek? Mam siang, terus bobo." aku menghampiri Ceysa.


"Ceysa mau mam?" tanya Hadi dengan mata yang mekar sempurna.

__ADS_1


"Iya, Hadi. Ceysa pulang dulu ya?" sahutku pada anak itu.


Karena, Ceysa tidak bisa menjawab pertanyaan Hadi.


"Mam di rumah Hadi aja. Hadi punya banyak nugget, tinggal goreng." kepalanya bergerak ke kiri-kanan.


Hadi terbuat dari apa ya sebenarnya?


Kenapa ia terlihat begitu kolot dan pintar, di usianya yang sekitar dua tahunan ini.


"Ceysa mam di rumah, Biyung udah masak." ucapku kemudian.


Hadi langsung lesu, "Aku tak ada kawan main, Biyung. Ceysa jangan pulang." Hadi menarik-narik tangan Ceysa.


"Ehh, jangan. Nanti nyungsep Ceysa, Di." seru Giska.


Aku langsung menoleh ke sumber suara.


Itu Giska dan.... Suaminya.


Zuhdi sudah pulang?


Ah, iya. Aku lupa. Giska tadi berkata, Zuhdi akan pulang untuk makan siang.


"Ehh, ada calon adik ipar." Zuhdi tersenyum kaget padaku.


"Tinggal dulu ya, Canda." Giska berjalan ke arah dapur rumahnya.


"Ya." sahutku cepat.


"Tinggal dulu ya, Adik ipar." Zuhdi ngeloyor pergi mengikuti Giska.


Ia pasti ingin makan, dengan Giska menyajikan.

__ADS_1


"Yuk, Dek. Pulang!" aku mencolek pipi Ceysa.


Ia menggeleng. Ceysa anteng, karena ada temannya.


"Eunces, Hadi punya piano." Hadi membawa piano kecil, yang ia dapatkan dari kolong kursi.


Hadi tidak terbiasa dengan ucapan aku dan kau. Dia terbiasa mengucapkan namanya sendiri, dengan nama lawan bicaranya.


Tidak seperti Chandra dan Zio. Di rumah mereka sudah ko, ko, ko saja. Kau yang dipermudah pengucapannya menjadi ko, oleh Chandra dan Zio.


Aku merasa salut pada Giska. Ia bisa mengajari Hadi berbicara dengan baik. Bahkan, Hadi tidak cedal. Hadi lancar berbicara, dengan nada anak-anak seperti biasa.


Hadi dan Ceysa tertawa bersama. Mereka begitu girangnya saling memencet tuts piano secara acak.


"Hai, Bang.... Kau kunci kah pintu belakang?"


Aku tersentak kaget, mendengar suara yang tiba-tiba muncul itu. Tidak ada derap langkah kaki, tidak ada grasak-grusuk orang yang masuk. Tiba-tiba manusia yang tadi pagi, ada di ambang pintu.


Ia sepertinya tidak menyadari keberadaanku. Karena, aku berada di belakang sandaran kursi panjang. Ya, jendela besar ini ada di belakang kursi panjang.


"Bang... Pinjam motor kau, Bang. Aku diminta antar Aini, motor aku bocor ban." orang tersebut memasuki rumah Giska begitu saja.


Jadi begitu ya?


Ia melakukan pendekatan denganku, saat ia masih memiliki hubungan dengan Aini.


Jadi, aku dibohongi ya?


Lagi?


Aku harus dihadiahkan kebohongan.


...****************...

__ADS_1


😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


__ADS_2