Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti
CPD318. Obrolan kosong


__ADS_3

"Daeng, Daeng!" bang Daeng menggaruk kepalanya.


"Iya kan?" aku masih memandangnya.


"Iya... Sayang semuanya lah, buktinya Abang pikirkan masa depan mereka. Abang udah tiga puluh tiga tahun, udah sakit-sakitan terus. Nanti anak-anak jadi yatim kan, gak harus nunggu sumbangan para dermawan hebat, karena Abang udah nyiapin usaha buat mereka bertiga." tangannya terulur memijat betis kakiku, "Sayangnya seorang ayah itu, gak bisa diungkapkan Dek. Tapi kita mikir, buat masa depan anak-anak." lanjutnya kemudian.


"Berasa gak? Mati rasa gak?" tanyanya kembali.


"Berasa, tak mati rasa." jawabku kemudian.


"Memang Abang kapan mau matinya? Kok mikirin segala anak-anak jadi anak yatim."


Biji matanya hampir melompat.


Apa yang salah?


"Adek aja kapan matinya?! Ngomong tuh, Ya Allah." ia mengusap-usap dadanya sendiri.


Aku baru menyadari.


Aku terkekeh geli, kemudian menutup wajahku sendiri.


"Sih Abang ngomongnya gitu!?" ucapku kemudian.


"Masalahnya, sampai saat ini Abang belum sembuh. Abang takut, umur Abang gak panjang. Abang takut, Abang meninggal dengan keuangan anak-anak yang belum jelas."


"Jangan ngomong gitu lah, Bang." aku sudah akan menangis.


"Itulah sebabnya, Abang cepet-cepet ngurus surat, karena takut keduluan umur gak ada. Sampai hari ini, Abang harus rutin cek. Sampai hari ini, Abang harus jaga pola makan. Sampai hari ini, Abang masih ikut pantangan dokter."


"Abang sakit apa sih?"


Sekarang ia tengah memijat telapak kakiku.


"Usbun, gak paham juga. Kenapa bisa gak sembuh-sembuh. Keknya, nyiksa betul tuh."


Usbun itu, usus buntu ya?


"Terus gimana ke depannya, kalau Abang gak sembuh-sembuh?" aku masih memperhatikannya.

__ADS_1


"Buat ke depan apanya? Kita? Atau anak-anak?"


Aku suka ditatapnya terus menerus seperti ini.


Aku mengedikan bahuku, "Yaaa.... Buat the next episodenya?" aku bingung.


Ia terkekeh kecil, "Untuk kita, ya kita nikah. Tapi, kalau umur Abang gak nyampe. Abang nitip anak-anak ya? Untuk masa depan mereka aman, insya Allah. Tapi untuk ngurus mereka dan didik mereka ini. Ya mungkin, mangge Yusuf ikut andil kelak. Nanti abis lebaran, mangge rencana nikah lagi. Itu pun, karena paksaan banyak pihak. Akhirnya, mangge mangkir dari pendirian awalnya. Setelah itu, mangge urus akte kelahiran Jasmine. Baru deh, Jasmine bisa sekolah. Yaaa, meski telat daftarnya."


Ia malah menyuruh ayahnya menikah lagi?


Bukannya ia saja yang menikah, ia kan masih muda.


"Sekalipun Abang panjang umur, Jasmine tetap ikut mangge? Akte kelahirannya maksudnya." aku begitu serius mengobrolkan ini.


Bang Daeng mengusap keringat di pelipisnya, "Mau gimana lagi? Abang gak nentu kapan nikah, sedangkan mangge sama pasangannya udah matang."


"Ketanya Abang mau sama orang Pintu Rame Gayo?" aku menyandarkan punggungku.


Bibirnya merapat, lalu ia menyipitkan pandangannya.


"Kata siapa?" sepertinya ia begitu heran dengan ucapanku.


Bang Daeng manggut-manggut halus, "Abang mau sama Adek. Adek yang gak mau."


Aku tidak puas mendengar jawabannya.


"Jujur aja coba, Bang! Aku udah males dibohongin. Lebih baik jujur, meski nyelekit." aku bersedekap tangan.


Helaan nafasnya begitu berat, "Memang dekat sama Hala, namanya juga pengasuh sama orang tua anak."


Hah?


"Bohong!" aku tidak langsung percaya.


"Ini pun udah jujur. Bisanya pak Ghoni jual ladang ke Abang, karena kelilit hutang Bank. Jadi nih, Abang nalangin dulu buat pelunasan Bank. Barulah, kita transaksi dan urus surat-suratnya. Karena, tanahnya ini mau disegel pihak Bank. Terus, Hala minta kerjaan. Karena, kemarin itu dia juga kalap karena dikejar leasing. Ya udah, Abang bantu, kasihlah kerjaan buat handle Jasmine sementara. Stay Jasmine sama Hala di Pintu Rame, karena Abang masih bolak-balik ke Singapore aja. Di Singapore udah stabil, udah dapat orang suruhan, barulah Abang balik lagi ke Pintu Rame."


Benarkah dia tidak berbohong?


"Kenapa Jasmine bisa sama Abang sih?!" aku membantu Ceysa mengambil biji jagung yang jatuh ke atas tempat tidur.

__ADS_1


Ia membuang nafasnya, "Ini sih jujur aja, biar enak kita kedepannya."


Aku langsung mengangguk mantap.


"Yang pertama, Givan keberatan. Banyak nego, mana Putri pun kek jadi gimana gitu ke Jasmine. Adek paham kan, kek mana perempuan kalau lagi mabok laki-laki?"


Aku mengangguk paham. Aku mengerti, karena aku pernah merasakan mabuk Ghifar. Meski saat itu aku belum memiliki anak, tapi obsesiku begitu besar pada Ghifar. Bahkan, dulu saja aku mengikuti saran kos dari Ghifar, untuk pendidikanku dulu. Aku bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya.


"Terus...." bang Daeng menjeda ucapannya kembali.


"Apa, Bang?" aku makin penasaran.


"Jadi ceritanya gini." ia menunduk sesaat.


"Gimana, Bang?" aku makin dibuat penasaran.


Ia menarik nafasnya cukup panjang, "Abang datang ke rumahnya yang di Kalimantan, karena posisi Jasmine pun ada di situ. Abang mau nengok anak, sama mau ajak Jasmine cek gigi, karena dia videocall selalu ngeluh sakit gigi. Ada Givan juga di situ. Sebenarnya, Abang gak masalah. Yang Abang permasalahkan, mereka berbuat, di saat Jasmine ada di rumah itu dan lagi mainan." bang Daeng menggosok hidungnya sendiri, "Adek paham kan? Gimana kalau gatal, terus ketemu titik koordinat yang tepat untuk digaruk. Udah gitu, racauannya bikin otak Jasmine teracuni. Udah aja, Abang langsung bawa Jasmine tanpa bilang." ia membuang nafasnya kasar.


"Gak masalah mau ngapain kek, yang penting posisi anak itu tidur. Atau, pas Jasmine ada yang jaga. Nah itu, Jasmine duduk sendirian di ruang keluarga sambil main Barbie, dengan setting suara yang kek gitu. Masa Abang datang pun, dia kek pikirannya ke mana gitu. Tangannya mainan, tapi pandangannya ke pintu kamar ammaknya aja. Apa gak langsung darah tinggi? Kadang tuh, bodoh betul Putri ini."


Aku harus bertanya langsung pada mas Givan.


Masalahnya, ini sedikit aneh untukku.


Mas Givan, bukanlah orang yang seperti itu. Saat masih bersamaku, lalu ia ingin diriku. Ia pasti memaksa anaknya untuk tidur, bagaimana pun caranya. Setelah tertidur, ia baru meminta haknya kembali.


"Kenapa diam aja, Dek?" tanya bang Daeng dengan mulai memijat telapak kakiku kembali.


Karena, saat ia bercerita. Pijatannya berhenti seketika.


"Mas Givan bukan orang yang kek gitu. Memang untuk se*s, dia ini disiplin juga. Maksudnya... Ya harus rutin gitu. Tapi, caranya tak kek gitu Bang. Dia kan tukang bentak nih. Nah, anak-anak itu dibentak suruh tidur. Barulah ayahnya beraksi, setelah anak-anak pulas. Jangankan kegiatan kek gitu. Ada anak-anak, terus kita ngobrol tentang hal dewasa, udah tuh mas Givan ngamuk. Dia ini, tak mau pikiran anak-anaknya teracuni dengan hal-hal dewasa." aku sebenarnya ragu untuk menceritakan hal ini. Tapi menurutku, bang Daeng harus tahu bahwa mas Givan bukanlah orang yang seperti itu.


"Adek pernah liat, Putri pernah naik pangkuan Abang, di depan mata Adek sama Raya kan? Nah, di depan orang aja dia gak sungkan narik minat laki-laki. Bukannya Abang jelek-jelekin Putri, ini sih kita lagi ngobrol kosong aja ya. Karena Adek nanya tentang Jasmine."


Aku mengangguk cepat meresponnya.


"Nah, jadi kek gitu lah gambaran Putri. Egonya.....


...****************...

__ADS_1


Ini loh yang aku kasih clue-nya di GC. Obrolan kosong ini loh. Masih ada lagi ya obrolan kosong ini, tungguin pokoknya 😄


__ADS_2